Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sebuah Kerisauan Tentang Natal

Sebuah Kerisauan Tentang Natal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (zukreenazulkeplee.blogspot.com)
Ilustrasi. (zukreenazulkeplee.blogspot.com)

dakwatuna.com – Sahabat, di antara persahabatan kita masih ada sebuah ganjalan, perbedaan keyakinan yang sangat prinsip.

Sahabat, di antara persahabatan kita, kebaikan-kebaikan yang tertanam di antara kita, kebaikan itu kian menambah perih. Sebagaimana kedengkian yang ditimpakan Abu Jahal memang sakit, tapi lebih perih lagi kebaikan yang ditanamkan Abu Thalib. Kerisauan tentang orang-orang terkasih, sahabat-sahabat terbaik, namun tidak sekeyakinan.

Aku meyakini sepenuhnya, jalan kebenaran adalah jalan yang aku tempuh ini. Sebaliknya di seberang sana, sepenuh keyakinanmu bahwa kebenaran adalah jalan yang kau tempuh. Bagaimana jika kita telah bersungguh-sungguh mempersembahkan pengabdian, tapi tertolak di hadapan-Nya, keyakinan itu ternyata keliru. Jika di hari keputusan nanti, aku benar dan engkau salah, aku sudah sulit membayangkannya. Tapi, jika di hari itu justru aku yang salah dan engkau benar, aku lebih sulit untuk membayangkannya.

Aku sadar ada konsekwensi besar atas perbedaan ini. Aku risau bila nantinya aku berenang di taman-taman surga yang penuh kenikmatan, sementara engkau sedang diliputi api yang menyala-nyala, membakar sekujur tubuhmu. Sama halnya, di seberang sana engkau justru merisaukanku, jika akulah yang berada dalam siksa pedih itu, sedang dirimu berada dalam kedamaian.

Bagaimana aku tega mendapatimu terjerembab dan menahan perih, sementara aku hanya berlalu membiarkanmu. Jika engkau tergelincir, aku semestinya berupaya menolongmu, menyelamatkanmu. Jika engkau tersesat, semestinya aku menunjukkan jalan untukmu. Bagaimana rasanya jika aku tergelincir dan meminta tolong sementara engkau berlalu begitu saja dan membiarkanku. Dapatkah dikatakan persahabatan ini sejati?

Sahabatku, mungkin selama ini aku sungkan untuk mengatakan bahwa keyakinanmu salah, aku segan untuk menyeru engkau kepada kebenaran yang kuyakini akan membawa keselamatan, aku khawatir akan mencederai persahabatan kita. Aku tahu engkau di seberang sana juga demikian, segan untuk mengatakan aku adalah domba yang tersesat, engkau takut mengajakku kepada kebenaran yang kau yakini, engkau takut akan membuatku marah dan kehilangan persahabatan kita.

Namun jika demikian, bukankah berarti kita saling membiarkan kepada celaka dan kesesatan? Di saat aku terpikir untuk mengesampingkan perbedaan ini demi persahabatan kita, aku khawatir jika kelak aku menyesal dan merasa bersalah, persahabatan kita berlalu begitu saja tanpa saling mengingatkan.

Sahabat, sempat kita terbersit untuk menghilangkan sejenak kerisauan ini dengan sebuah konsep yang bernama pluralisme, anggap saja jalan yang berbeda ini muaranya sama. Tetapi akal sehat kita sepakat bahwa di antara berbagai informasi yang saling bertentangan tentang suatu hal, maksimal hanya satu yang benar. Konsep ini sejenak bisa menjadi obat yang menghilangkan kerisauan di antara persahabatan kita, ia memang menghibur, tapi ia semu dan menipu. Mau tidak mau, atau akan terlambat sama sekali, masing-masing kita harus mencari kebenaran yang sesungguhnya.

Aku muak dengan keributan tentang toleransi. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana menyelamatkan seorang sahabat terbaik. Aku risau bila salah satu di antara kita kelak berada dalam kebinasaan. Sebelum ketika hari itu telah tiba, segalanya sudah terlambat, tinggallah penyesalan yang kekal, sedang tak ada lagi kesempatan untuk kembali.

Sahabatku, bagaimanapun perbedaan ini, semestinya kita pernah saling mengingatkan, masing-masing kita seharusnya telah berusaha, dan ini adalah bentuk kepedulian kita. Jika aku menyerumu kemari, bukan berarti aku dengki kepadamu, tetapi karena aku peduli kepadamu, untuk menyelamatkanmu. Juga saat engkau menyeruku kesana, yang membuat aku tersinggung dan marah, sebenarnya aku mengerti, berarti engkau peduli kepadaku, engkau ingin menyelamatkanku. Agar persahabatan kita menjadi persahabatan yang sebenar-benarnya, sampai hari nanti yang kekal.

Sahabatku, bagaimanapun perbedaan ini, masing-masing dari kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya. Bagaimanapun keadaan kita saat ini, berharaplah kepada-Nya agar mendapatkan sebenar-benar petunjuk. Agar termasuk orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, sebagaimana aku diingatkan oleh firman-Nya, “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az Zumar: 18)

Aku berharap di antara kita berupaya dengan sebaik-baiknya, menguji dengan sungguh-sungguh untuk sebuah pedoman hidup. Sebaik-baik usaha, dengan sepenuh akal sehat, tanpa prasangka. Memohon petunjuk-Nya, memohon setulusnya, dari kepasrahan seorang hamba yang lemah, agar ditunjukkan jalan yang benar.

Sahabatku, demikianlah dilema ini. Saat menurut keyakinanku aku mendapati engkau berjalan menuju kebinasaan, aku mengajakmu kemari, aku ingin menyelamatkanmu, dari seberang sana engkau malah mengajakku kesana, karena menurut keyakinanmu jalan itulah jalan kebenaran yang akan menuju pada kedamaian. Aku mengajakmu untuk mengesakan-Nya dengan sebenar-benarnya, tidak membuat tandingan sesuatupun terhadap-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia, tetapi bagimu, aku mendustakan Sang Putra yang Dia utus dengan kasih untuk menebus dosa anak manusia. Saat bagiku keberadaan Sang Putra adalah menodai keesaan-Nya, membuat tandingan terhadap-Nya, sedang bagimu itu berarti aku tidak memuliakan karunia-Nya.

Maka maafkan aku sahabatku, menjelang Natal ini bukan kata-kata yang ringan dan manis yang kusampaikan, karena aku tahu konsekwensinya teramat berat. Aku lebih ingin di antara kita melakukan perenungan untuk menemukan sebuah jalan kebenaran yang sebenarnya.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ketika Allah Menegur Seketika

Figure
Organization