Topic
Home / Narasi Islam / Humaniora / Call Me “Rafi”

Call Me “Rafi”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (sportbund-rheinhessen.de)
Ilustrasi. (sportbund-rheinhessen.de)

dakwatuna.com – Rafi saat ini berusia 9 tahun, harusnya ia duduk di kelas 2. Tetapi karena Rafi belum bisa membaca, menulis dan berhitung maka ia tidak naik kelas. Tetapi, ada alasan lain yang membuat tidak naik kelas. Semua guru mengatakan bahwa Rafi itu beda, para guru memastikan bahwa Rafi sampai kapanpun tidak akan bisa membaca, menulis dan berhitung. Mendengar pernyataan itu membuat saya yakin bahwa Rafi pasti bisa. Kenapa tidak? Allah ciptakan manusia sudah dengan kekurangan dan kelebihannya.

Pada hari sabtu sepulang sekolah saya putuskan untuk berkunjung ke rumah Rafi, letaknya memang cukup jauh dari sekolah. Sekitar 4 km. Kami harus melewati hutan dan sungai. Sampai di rumahnya saya bertemu dengan neneknya, ternyata Rafi tinggal dengan nenek dan kakeknya dan mereka bukan nenek dan kakek kandung Rafi, melainkan saudara jauh keluarga Rafi. Kemudian saya banyak berbincang dengan nenek Rafi, hingga akhirnya saya tahu mengapa Rafi dirawat oleh mereka.

Ayah ibunya sudah berpisah sejak Rafi masih bayi. Mereka pergi meninggalkan Rafi. Tidak ada yang merawat Rafi saat itu, akhirnya Rafi dirawat oleh nenek kakek dari saudara jauhnya. Nenek kakeknya pun sudah begitu renta, hingga yang mereka hanya memberi makan Rafi seadanya. Dari situ saya faham dengan kondisi Rafi saat ini. Pertumbuhan Rafi yang berbeda dengan anak lain dan sikap Rafi yang berbeda dari anak yang lain. Hingga masuk sekolahpun di usia 8 tahun.

Di semester pertama, saya fokus umembuat Rafi bisa membaca, saya kelelahan mencari berbagai metode ajar untuk Rafi. Ditambah kelas yang penuh dan Rafi sangat sulit berkonsentrasi. Kemudian, saya mengajar Rafi di luar jam sekolah dari mulai kartu huruf yang saya gunakan hingga tebak kata yang kemudian disusun. Tidak satupun saya berhasil membuat Rafi bisa membaca. Kemudian saya membuat kartu per suku kata yang diawali dengan tebak ekspresi dan gesture. Kemudian saya meminta setiap anak menebak secara bergantian dan menyusun suku kata yang terpisah menjadi kata yang sempurna , tentu sebelum metode ini digunakan saya mengajarkan para siswa belajar membaca per suku kata, begitu juga Rafi. Satu bulan sudah metode ini saya pakai meski tidak di kelas. Bukan hanya para siswa lain yang mampu membaca, Rafi pun sudah bisa membaca meski kadang salah membaca suku kata. Tetapi, metode ini cukup efektif untuk para siswa khususnya Rafi.

Akhirnya, saya mampu membuktikan pada para guru bahwa setiap anak itu cerdas, tinggal bagaimana guru, sosok yang paling dipercaya mampu membantu peserta didiknya untuk hebat dalam segala hal mampu mengemas pembelajaran menjadi sangat menarik.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Restgha N, S.Pd
Guru Relawan Sekoah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan , pada tahun 2015-2016. Mengajar di salah satu sekolah International tingkat taman kanak-kanak.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Figure
Organization