Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Problematika Sistem Evaluasi Pembelajaran di Indonesia

Problematika Sistem Evaluasi Pembelajaran di Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kontribusi pendidikan bagi pembentukan corak dan kualitas masa depan peradaban umat manusia tidak dapat dipungkiri lagi, apalagi dinafikan. Pendidikan hingga abad modern ini tetap diyakini sebagai tempat strategis untuk membuka wawasan dan memberikan informasi yang paling berharga mengenai makna dan tujuan hidup sebagai norma-norma yang dipegang, membantu generasi muda dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan yang esensial untuk menghadapi tantangan perubahan-perubahan di masa depan, menciptakan keseluruhan visi kehidupan individu, masyarakat dan bangsa. Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa depan. Demikianlah yang tertulis rapi dalam buku Sanaky “Paradigma Pendidikan Islam Membangun masyarakat Madani Indonesia”.

Ketika melihat konsep beberapa pakar terkait sistem pendidikan yang harusnya dijalankan memang sangat membuat setiap orang seketika takjub. Sebuah teori yang matang dalam memaksimalkan proses pendidikan, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, metode pembelajaran, hingga sistem evaluasi. Namun dalam pandangan penulis, yang sudah pernah menempuh sekolah dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Pendidikan Tinggi, kontribusi dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda yang handal masih teramat sangat abstrak.

Terlebih lagi perihal evaluasi pembelajaran yang menjadi wadah pengukuran terkait berhasil atau tidaknya peserta didik menyerap asupan yang diberikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Evaluasi sangatlah berperan penting dalam memberikan follow up terhadap perkembangan peserta didik, baik dalam aspek kognitif, afektif, ataupun psikomotorik.

Sejauh ini evaluasi yang dijalankan dalam suatu instansi pendidikan atau sekolah-sekolah sangatlah monoton, kalau tidak tes tulis dan tes lisan, paling ya portofolio. Lamanya proses belajar hanya dilihat dari hasil duduk mengerjakan soal dalam waktu yang singkat. Jujur atau tidaknya dalam mengerjakan soal evaluasi tidaklah menjadi hal yang utama. Ketika hal ini dikaitkan dengan Emosional Qustion, sistem penilaian seperti ini sangatlah kurang dibenarkan, seharusnya aspek-aspek itu bersinergi, bukan berdiri sendiri sendiri dan saling melemahkan.

Beberapa hari yang lalu penulis membaca kalimat ringan di media sosial yang menyindir dunia pendidikan di Indonesia, kalimat itu berbunyi seperti ini, “Kenapa siswa menyontek saat ujian? Jawabannya adalah karena kenyataannya nilai dan peringkat lebih dihargai daripada kejujuran”. Kalimat tersebut terkesan guyonan belaka, namun penulis memandang kalimat tersebut mempunyai maksud lain dan menjadi bahan renungan yang menarik.

Jika kita melihat realita, kalimat tersebut dapat dibenarkan, yang mana nilai yang tinggi dalam rapor atau ijazah dapat menentukan diterima atau tidaknya sang pemilik nilai dalam melamar pekerjaan. Sehingga bukan menjadi hal yang aneh ketika dalam sekolah atau kuliahnya, peserta didik lebih mengejar nilai akademik yang tinggi dan mengabaikan suatu proses yang baik. Akhirnya pragmatisme menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari dalam menggapai masa depan yang diinginkan.

Seharusnya dengan adanya sistem evaluasi ini, pendidik lebih bisa mengarahkan peserta didiknya mencapai hasil belajar yang maksimal, baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi dapat berperan sebagai wadah antisipasi dan pencegahan akan kegagalan proses pembelajaran.

Dalam memaksimalkan evaluasi pembelajaran memanglah tidak mudah, namun bukan mustahil semua itu bisa dijalankan. Filsuf China mengatakan, tidak ada murid yang buruk, yang ada hanya pendidik yang buruk. Sekilas perkataan filsuf ini memojokkan posisi seorang pendidik, namun disisi lain perkataan ini perlu direnungkan bersama, bahkan menjadi tantangan bagi pendidik atau peserta didik dalam dalam memaksimalkan peran dan fungsinya sebagai orang tua kedua.

Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan apa yang disebut dengan evaluasi pembelajaran secara maksimal. Salah satunya, pendidik harus banyak wawasan terkait evaluasi itu sendiri. Karena kesarjanaan seorang pendidik bukanlah menjadi jaminan bahwa ia telah menguasasi semua jenis ataupun komponen dalam sistem evaluasi. Menguasai dan mengembangkan beberapa jenis evaluasi sangat diharapkan dari pendidik yang mengaku dirinya profesional, sehingga evaluasi yang dilaksanakan tidaklah monoton dan stagnan. Karena disadari atau tidak, terkadang pendidik menjalankan suatu proses pembelajaran bukan karena ia mahir dalam hal itu, melainkan karena tidak dikuasainya hal-hal lain yang terkait Akhirnya di sini tidak ada pihak yang akan dirugikan, baik peserta didik maupun lembaga pendidikan itu sendiri.

Selain itu pendidik dapat membentuk hubungan emosional dengan peserta didiknya sebagai pendukung dari segala proses pembelajaran. Karena dalam pandangan penulis, ketika proses pembelajaran disertai dengan hubungan emosional antara pendidik dan peserta didik, proses pembelajaran itu menjadi menyenangkan, dan suasana inilah yang paling diharapkan oleh peserta didik. Kebanyakan siswa terkadang menganggap evaluasi adalah proses yang menyeramkan, dan hubungan emosional penulis kira dapat menghilangkan anggapan itu.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Pendidikan Agama Islam. Ketua Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah dan Staff Tabligh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan

Figure
Organization