Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kupanggil Ia Umi, Guru Hebat Penuh Dedikasi

Kupanggil Ia Umi, Guru Hebat Penuh Dedikasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Dok Riyanti)
(Dok Riyanti)

dakwatuna.com – Jam sudah menunjukkan pukul 12.40 WITA. Suasana sekolah sudah mulai sepi dari teriakan anak-anak. Lapangan yang biasanya ramai dengan anak-anak yang berlarian, kini hanya ada beberapa ekor sapi dan kambing yang masih bertahan.

“Umi Juni mana?” Tanya Ustadz Sahrul padaku.

“Masih di kelas Ustadz, kalo nggak salah Umi Juni belum kembali ke sini”

“Yang satu itu nggak bisa kita ikuti itu”

Aku cukup kaget mendengar ucapan Ustadz Sahrul. “Loh, kok gitu?” tanyaku dalam hati.

Di sinilah, MI Al-Furqon Tongo. Sekolah dasar tempatku mengabdi. Semenjak kaki kecil ini berjalan di pondok pesantren Al-Furqon, aku cukup terpesona dengan sosok Umi Juni. Terpesona?? Iya..!! Ketika Ibu Bapak guru yang lain telah pulang karena telah menuntaskan kewajiban mengajarnya, Umi Juni masih betah menemani anak muridnya yang masih di sekolah.

Dari awal pertemuanku dengan Umi Juni, aku melihat Umi adalah sosok ibu guru hebat yang begitu perhatian dengan murid-muridnya. Ia khusus membuat tempat les di belakang rumahnya lengkap dengan meja-meja kecil untuk alas menulis. Mungkin hal ini biasa bagi sebagian orang yang juga melakukan hal yang sama. Namun yang aku salutkan adalah ia mengadakan les dua kali dalam sehari, yakni sore dan malam hari. Dapat dibayangkan betapa semangatnya Umi dalam mencerdaskan anak bangsa. Aku juga sangat terpesona dengan sosok Umi Juni yang bisa membagi perannya dengan sangat apik. Membagi waktu untuk sekolah, untuk murid-murid bimbingannya, untuk suaminya dan untuk ketiga anaknya yang masih usia sekolah dasar dan TK. Jika anda mempertanyakan prestasi anak-anaknya di sekolah?? Jangan khawatir, putra putri Umi selalu bertengger di deretan rangking 3 besar.

Di sekolah, Umi Juni adalah guru yang merangkap sebagai Dewan Komite MI Al-Furqon. Ada satu hal yang membuat sosok Umi Juni menjadi pusat perhatian dan sumber belajarku di sini. Umi Juni adalah sarjana pertanian yang bila diruntut tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia keguruan. Namun ada hal berbeda yang kulihat dari Umi. Ia begitu bersemangat untuk belajar, ia cinta akan profesinya sebagai guru dan ia mendedikasikan diri sepenuhnya menjadi seorang pendidik.

Jadi aku baru mengerti ucapan Ustadz Sahrul “Yang satu itu nggak bisa kita ikuti itu” kemungkinan bermakna langkah Umi Juni dalam upaya pengabdiannya di sekolah sudah terlampau jauh untuk diikuti. Pengorbanan dan dedikasinya untuk kemajuan pendidikan Indonesia sudah melekat dalam jiwanya. Semoga semua guru di manapun berada menguatkan tekadnya untuk bersama sama mencerdaskan anak Indonesia dan ikut berkontribusi memajukan dunia pendidikan Indonesia.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Relawan Guru SGI (Sekolah Guru Indonesia) Dompet Dhuafa Penempatan MI Al-Furqon Tongo, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization