Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjaga Fitrah Insaniyah

Menjaga Fitrah Insaniyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ramadhan 1436 H telah berlalu begitu cepat. Kini kita berada di bulan Syawal dalam suka cita. Kebahagiaan dan ketenangan hati menghiasi diri sebagai refleksi kesuksesan amaliyah Ramadhan yang dilaksanakan sebulan penuh. Semua kita berharap Ramadhan dapat mengembalikan kita pada fitrah insaniyah. Fitrah kemanusian yang melekat dalam diri seseorang ketika dihadirkan di alam fana ini. Hal tersebut berarti bahwa kita kembali hadir bagaikan bayi yang baru dilahirkan tanpa dosa dan noda setelah berpuasa. Dalam konteks ini, Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. ( HR Abu Daud dan at Tirmidzi).

Luar biasa, Ramadhan dapat membersihkan segala dosa dan bercak noda yang melekat kuat dalam diri seseorang. Dengan syarat tentu mereka melaksanakan puasa Ramadhan dan menegakkan malamnya dengan amaliyah Ramadhan yang berkualitas dan penuh makna. Rasulullah bersabda, “ Siapa yang melaksanakan ibadah puasa dengan keimanan dan perhitungan yang mantap maka dosa-dosa yang telah berlalu diampuni Allah”.

Lalu apa yang dimaksud dengan fitrah dan bagaimana cara menjaganya supaya kita tetap dalam fitrah insaniyah? Dalam kamus Wikipedia Indonesia disebutkan, fitrah berasal dari bahasa Arab, akar katanya fathara yang berarti “membuka” atau “menguak”. Makna asal fitrah sendiri berasal dari “kejadian”,” keadaan yang suci” dan “kembali ke asal”. Makna fitrah juga sepadan dengan kata al-khilqah yang berarti naluri atau pembawaan. Selaras juga dengan kata ath-thabi’ah yang berarti tabiat atau karakter yang diciptakan Allah pada diri setiap manusia.

Sesorang yang kembali ke pada fitrahnya, berarti dirinya kembali pada khithah suci dirinya yakni beriman dan menyakini sepenuh hati keberadaan Allah sebagai Tuhannya dalam kehidupan nyata. Kita diperintahkan selalu untuk menjaga fitrah sebagaimana firmanNya,” Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah). (Tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(QS Ar Ruum 30).

Dalam memaknai fitrah Allah sebagaimana dikemukakan ayat di atas, Ibnu Abbas mengemukakan “ kecenderungan dan kesediaan manusia terhadap agama yang haq”. Dengan demikian sejatinya setiap muslim yang telah menunaikan amaliyah Ramadhan maka keimanan dan ketaatannya pada Allah semakin meningkat sebagai bentuk kesuksesasan dalam menjalani madrasah Ramadhan. Sesuai dengan arti kata syawal yang bermakna peningkatan maka kita harus buktikan bahwa pengaruh Ramadhan masih tetap segar dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kelezatan amaliyah Ramadhan berlalu tanpa bekas seiringan dengan berlalunya Ramadhan meninggalkan kita semua.

Fenomena yang ada justru sangat memilukan, rayuan dunia mulai menyentuh muslim dalam merayakan “kemenangannya”. Kemewahan dunia dan keasyikan tamasya melupakan fitrah insaniyah yang telah dibina sebulan penuh. Manusia kembali pada habitatnya yang semula dengan mudah melakukan kelalaian bahkan perbuatan dosa yang sempat alfa selama Ramadhan. Di samping juga kualitas dan kuantitas ibadahnya turun secara drastis. Hal ini merupakan masalah besar yang terkadang tidak dipersoalkan oleh sebagian kita. Jadilah Ramadhan dalam hidup sebagian umat sebagai rutinitas belaka tanpa memberikan bekas kuat dan pengarus besar dalam kehidupan nyata.

Makanya dalam menghadapi persoalan yang besar ini perlu kiranya kita merenungi hadits yang diriwiyatkan oleh at Tirmidzi,” Abu Hurairah berkata, suatu ketika Rasulullah memegang kedua tanganku lalu menyebutkan lima perkara, jagalah dirimu dari hal-hal yang diharamkan, engkau akan menjadi manusia yang paling baik ibadahnya. Terimalah pemberian Allah padamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka kamu akan menjadi mukmin sejati. Cintailah pada diri manusia seperti cintamu pada diri sendiri maka engkau akan menjadi muslim sejati. Janganlah terlalu banyak dalam banyak bercanda karena sesungguhnya banyak bercanda itu akan mematikan hati”

Dalam hadits di atas ada lima pelajaran penting yang dapat kita ambil sebagai usaha dalam menjaga fitrah insaniyah. Pertama, menjaga diri dari hal-hal yang haram. Selama merayakan lebaran kita harus hati-hati menjalani hidup. Tanpa disadari sering kita melakukan sesuatu yang terlarang (haram) baik ketika berada di rumah menonton TV atau mengakses internet ataupun ketika berkunjung ke tempat wisata dengan beragam kemaksiatan yang mempesona. Makanya, istilah idul fitri dengan silaturahmi dan ibadah yang berarti dalam mempertahankan jati diri yang fitri.

Kedua, Menerima pemberian Allah dengan senang hati, yang lebih dikenal dengan sifat qana’ah. Sifat ini sangat penting di hari fitri karena akan dapat mengendalikan diri kita dari berbagai kemewahan dan keborosan. Orang yang bersifat qana’ah akan berusaha untuk hidup sederhana dan tidak konsumtif . Mereka merayakan lebaran sebagai sarana untuk merayakan kemenangan dengan cara yang benar dan dianjurkan Rasulullah. Kekayaan bagi mereka bukanlah untuk kemewahan tetapi justru jalan untuk memudahkan langkah menuju surga Allah.

Ketiga, menjaga silaturahmi dengan tetangga. Setelah karib kerabat, tetangga merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Keberadaan tetangga sangat penting dalam kehidupan seseorang bahkan seseorang akan mengalami kesulitan apabila tidak baik dengan tetangganya. Dalam hari fitri ini, bagaimana kita mampu untuk berbagi dengan tetangga. Apalagi tetangga yang hidup dalam kesulitan maka ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita padanya. Dengan semangat idul fitri, kehormanisan hidup bertetangga dapat kita rasakan sebagai salah satu makna dalam mewujudkan fitrah insaniyah.

Keempat, mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Sebagai wujud keimanan seseorang apalagi setelah menunaikan ibadah Ramadhan maka kita harus mencintai orang lain (muslim) karena Allah. Dalam hal ini kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sehingga terasa jalinan ukhuwah Islamiyah. Dalam merayakan lebaran, perhatian terhadap fakir miskin dan anak yatim merupakan sesuatu yang harus dilakukan agar mereka juga bisa merasakan kebahagian dan kegembiraan sebagaimana kita juga dapat merasakannya.

Kelima, menjauhi banyak bercanda dan perbuatan sia-sia lainnya. Banyak tertawa, bercanda atau perkataan yang tak berguna akan mematikan hati . Karena perbuatan ini akan membuat manusia lupa diri dan terlena sehingga lalai dalam beribadah. Makanya, dalam mengisi waktu di hari fitri ini, harus selektif dalam menyaksikan siaran televisi yang banyak mengumbar tawa dan kelucuan yang dapat dapat melalaikan dan melenakan diri dari ibadah. Sangat berat memang untuk menjauhi acara ini namun dengan semangat untuk membersihkan diri di hari fitri maka kita harus berani memilih acara yang bermanfaat dan tentu bernilai ibadah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1438 H: Kekuatan Fitrah Bagi Penyelamatan Pribadi, Umat, Bangsa, dan Kemanusiaan

Figure
Organization