Home / Narasi Islam / Sosial / Dilema Ketertarikan Sesama Jenis, Pilih Hetero atau LGBT?

Dilema Ketertarikan Sesama Jenis, Pilih Hetero atau LGBT?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Peduli Sahabat (inet)
Peduli Sahabat (inet)

dakwatuna.com – SSA (same sex attraction) atau ketertarikan sesama jenis adalah salah satu orientasi yang selama ini ada di masyarakat tapi banyak dari kita buta terhadapnya. Masyarat Indonesia dibuat shock ketika negara Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis padahal sudah ada puluhan negara lain melakukan hal yang sama.

Kura-kura dalam tahu

Fenomena ketertarikan dan tindakan seksual sesama jenis di negara kita sebenarnya seperti gunung es. Tampaknya dingin, tenang, dan menyejukkan padahal di dalamnya menyimpan lava panas yang siap muntah setiap saat.

Terbukti ketika pelegalan pernikahan sesama jenis di Amerika mencuat kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) di Indonesia juga bertambah kencang suaranya. Masyarakat baru sadar bahwa hal ini harus disikapi secara serius. Berbagai elemen masyarakat menceramahi, bahkan sebagian hanya mengutuk, menghina dan mencaci tanpa memberi solusi.

Ya, berpuluh-puluh tahun masyarakat Indonesia tertidur tentang orang-orang yang tertarik sesama jenis secara seksual akan diapakan? Undang-undang negara bukanlah aturan Islam sehingga dalam kebingungan mencarikan solusinya maka mereka dibiarkan berkembang secara bertahap.

Angin segar datang dari daratan Eropa dan Amerika tentang pilihan identitas LGBT, hadir sebagai pilihan lain dari identitas hetero. Para orang LGBT pelan namun pasti juga ingin diakui dan disamakan dengan identitas sosial hetero. Termasuk tentunya pelegalan pernikahan mereka. Hal itu terus diupayakan tidak hanya di negara lain, komunitas LGBT di Indonesia juga melakukan hal yang sama lewat berbagai organisasi dan aksi.

Dilema SSA

Orang-orang dengan SSA menjadi bingung, satu sisi mereka ingin berusaha hidup dengan identitas hetero (menikah dengan lawan jenis dan mempunyai anak walau tertarik sesama jenis), di sisi yang lain LGBT menawarkan identitas sosial yang sesuai hasrat seksual mereka.

Dilema itu semakin berat karena orang awam hanya tahu LGBT, semua dipukul rata termasuk orang SSA. Padahal orang dengan SSA belum tentu mau menjadi LGBT, sebaliknya LGBT sudah pasti mempunyai SSA (kecuali transgender yang perlu dibahas khusus). Bertambah mengenaskan saat sebagian besar masyarakat hanya bisamengutuk dan mencaci tanpa memberi solusi. Orang-orang dengan SSA ini depresi luar dalam.

Peduli Sahabat

Banyak individu atau grup kecil dari masyarakat yang berusaha membantu saudara seiman yang mempunyai SSA agar tetap memilih identitas hetero daripada LGBT. Alasannya jelas bahwa SSA adalah pemberian (anugerah) Allah berupa ujian keburukan yang harus disikapi dengan sabar untuk tidak meyalurkannya. Bukan ujian kebaikan sehingga harus disyukuri lewat penyaluran seksual sesama jenis seperti yang kaum LGBT lakukan. SSA tidak tidak bisa dihakimi karena baru sebatas niat, kita baru dapat menyatakan berdosa atau tidak kalau niat itu diejawantahkan lewat tindakan sesama jenis.

Itulah yang sedang dipertahankan orang-orang yang peduli kepada para saudara SSA agar mereka jangan sampai memilih menjadi LGBT tetapi tetap hidup sebagai orang hetero walau berat dirasakan. Salah satunya adalah apa yang dilakukan Peduli Sahabat.

Peduli Sahabat awalnya hanya digawangi sendiri oleh Sinyo sejak tahun 2008 yang telah membantu ratusan orang SSA untuk tetap hidup di jalan Allah dengan menjadi orang hetero. Setelah terbit buku Anakku Bertanya tentang LGBT, karya Sinyo, Peduli Sahabat dibentuk sebagai suatu organisasi sosial didukung oleh para psikolog dan psikiater pada 14 Maret 2015.

Peduli Sahabat tidak membicarakan pro dan kontra LGBT karena hal itu sudah jelas bagi orang-orang yang beriman kepada Allah hukumnya, organisasi ini fokus mendampingi para SSA yang ingin hidup di jalan Allah dengan memilih identitas sosial hetero.

Para klien Peduli Sahabat diajari bagaimana mengatasi SSA tersebut sekaligus belajar untuk memulai hidup baru lewat pernikahan. Metode yang digunakan dikembangkan dari empat narasumber yang telah berhasil menjalani hidup sebagai hetero bahkan orientasi seksualnya telah berubah menjadi heteroseksual.

Cara belajar menjalani hidup sebagai seorang SSA yang memilih identitas hetero dapat dibaca di buku Anakku Bertanya tentang LGBT, itu khusus untuk mereka yang benar-benar mau berjuang sendiri tanpa didampingi. Kalau orang tersebut ingin didampingi maka Peduli Sahabat siap memberi layanan gratis (tanpa dipungut biaya sedikit pun kecuali di puskesmas-puskesmas yang bekerjasama dengan mambayar uang administrasi).

Saat ini sudah ada 6 cabang Peduli Sahabat yang siap membantu para SSA memilih identitas sosial hetero yaitu Jakarta, Bekasi, Tangerang, Jombang, Kota Magelang, dan Sleman. Beberapa cabang yang siap dibuka ada di Malang, Lampung, Yogya, dan Balikpapan. Kota-kota yang lain siap menyusul.

Kalau kita mencaci dan memaki para SSA maka mereka pasti akan bergabung dengan kaum LGBT sehingga semakin lama komunitas itu akan menguat sehingga jangan salah kalau suatu saat di Indonesia juga ada pelegalan pernikahan sesama jenis.

Anda sendiri bagaimana? Ingin mencaci atau memberi solusi? (sinyo/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis buku laris Anakku Bertanya tentang LGBT dan Pendidikan Anak Usia Dini ala Luqman Al-Hakim. Selain menulis buku parenting dan bacaan anak-anak, dia juga konselor dunia SSA dan LGBT, pendiri layanan Peduli Sahabat, serta aktif menjadi humas di beberapa grup kepenulisan. Bisa dihubungi di [email protected], saat ini aktif di Komunitas Ummi Menulis.

Lihat Juga

Sejak Awal, PKS Konsisten Usulkan Pemidanaan LGBT