Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhan Sepanjang Waktu

Ramadhan Sepanjang Waktu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Momentum Ramadhan –tiap tahunnya- selalu menjadi magnet yang menarik hati orang mukmin untuk selalu menyambut kedatangannya; menyimpan ‘aroma wangi kerinduan’ yang membuat setiap orang beriman kangen keharumannya. Karena itulah, tidak mengherankan –masyarakat Muslim pada uumnya- jika Ramadhan datang, masjid yang sebelumnya hanya berisi satu shaf, tiba-tiba menjadi penuh; orang yang biasanya jarang berinfak tiba-tiba berinfak; orang yang biasanya jarang mengaji, tiba-tiba ramai-ramai mengkhatamkan Alquran; orang yang biasanya tak pernah shalat malam, tiba-tiba mengikuti shalat Tarawih.

Selama ini Ramadhan dimaknai hanya sebagai bulan suci dan mulia yang patut disambut dan dimuliakan kedatangannya dengan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Karena begitu besarnya pahala, ampunan, dan rahmat yang ditaburkan Allah ta`ala pada bulan ini, banyak orang yang meresponnya sebagai momen yang tepat untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, meminta ampunan sebesar-besarnya, memohon rahmat seluas-luasnya. Akibatnya, Ramadhan seolah-olah dijadikan sebagai ‘pabrik pahala’, sehingga yang keluar darinya pasti meraup pahala sebesar-besarnya; Ramadhan seakan-akan dijadikan sebagai ‘pabrik ampunan’ yang membuat orang terlepas dari segala dosa selepas darinya.

Apa ada yang salah dengan makna Ramadhan selama ini, sehingga kita perlu memaknainya kembali? Sebenarnya, makna yang berkembang selama ini di masyarakat secara umum tidak ada salahnya sama sekali. Hanya saja, makna yang selama ini dipahami berakibat negatif pada sikap orang pada umumnya dalam memperlakukan Ramadhan. Banyak sekali yang salah kaprah dalam memahaminya, sehingga Ramadhan dijadikan semacam ‘bulan pelampiasan’ baik untuk shalat, puasa, sedekah dan ibadah lainnya, tentunya untuk meraih keuntungan pahala sebanyak-banyaknya, syukur-syukur segala dosa diampuni sehingga ketika keluar dari Ramadhan kondisinya bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan.

Meski pada dasarnya kita dibolehkan mencari pahala, rahmat, dan ampunan sebanyak-banyaknya, tetapi kita juga harus tetap ingat bahwa fokus ibadah kita tetap pada Allah. Di samping itu, ibadah tidak hanya khusus pada bulan Ramadhan. Ramadhan bermakna bulan yang dipilih oleh Allah untuk menempa dan menguji setiap orang beriman untuk menjadi orang bertakwa kapan pun dan dimana pun berada. Makna ini memberikan kita pengertian lebih bahwa Ramadhan mengandung nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran untuk dijadikan kesadaran mendasar pada hati tiap-tiap orang beriman untuk selalu menjaganya di setiap waktu dan tempat.

Dalam sejarah emas Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, sahabat, serta salafus shalih (ulama terdahulu), maka kita akan menemukan kenyataan menarik mengenai penyikapan mereka terhadap bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan di bulan Ramadhan, tetap terjaga di bulan-bulan lainnya. Mereka paham betul bahwa Ramadhan merupakan momentum untuk beramal dan berkarya yang ditularkan pada bulan-bulan selanjutnya. Ketika Ramadhan telah pergi, mereka berdoa agar diperjumpakan kembali dengan Ramadhan. Tak sedikit dari mereka yang sejak jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan.

Bagi mereka, ibadah dalam bulan Ramadhan dimaksudkan untuh melatih diri agar bertakwa(sesuai Qs. Al-Baqarah: 183), sedangkan takwa harus terus diupayakan oleh orang beriman baik dalam bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Maka tak berlebihan jika ada riwayat yang menyatakan: Sekiranya para hamba Allah mengetahui (apa yang terkandung) pada Ramadhan, maka pasti setiap umat akan mengharap setiap hari dijadikan sebagai Ramadhan(R. Abu Ya`la, Ibnu Huzaimah). Dalan riwayat lain disebutkan, ada seorang ulama salaf menjual budak perempuannya. Ketika bulan Ramadhan sudah menjelang, (budak perempuan yang sudah dijual itu) melihat tuan barunya sedang bersiap-siap (mengumpulkan) makanan dan keperluan lainnya. Lantas budak perempuan itu bertanya pada tuan barunya tentang yang sedang dilihat. Tuannya pun menjawab: “Kami sedang siap-siap untuk berpuasa Ramadhan”. Budak perempuan itu lalu berkomentar: “Kalian hanya berpuasa ketika bulan ramadhan. Dulu aku berada bersama tuan yang semua waktunya adalah ramadhan (maksudnya, tuannya yang dulu tetap berpuasa meski di luar bulan Ramadhan). (Sekarang) kembalikanlah aku kepada mereka,”(Asrôru al-Muhibbîn fi Ramadhôn, Hal: 364).

Ya, dengan memperbaiki makna Ramadhan, maka tidak akan kita jumpai lagi orang yang rajin ibadah hanya pada bulan Ramadhan, karena Ramadhan sudah dijadikan kesadaran mendasar dalam jiwa, sehingga setiap bulan selalu diisi dengan amal sebagaimana Ramadhan. Ramadhan bukan lagi dipandang rutinitas tahunan, tapi ia sudah menjadi kesadaran mendalam seakan-akan ia hadir sepanjang waktu.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Ramadhan yang Membekas