Topic
Home / Berita / Nasional / Jelang Lebaran, Uang Palsu Rp 50.000 dan Rp 100.000 Merajalela

Jelang Lebaran, Uang Palsu Rp 50.000 dan Rp 100.000 Merajalela

Ilustrasi uang palsu. (suaramerdeka.com)
Ilustrasi uang palsu. (suaramerdeka.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Peredaran uang paslu bisa dikatakan sifatnya musiman, khususnya terjadi saat berlangsungnya momen-momen besar dimana perputaran uang di masyarakat meningkat.

Misalnya saat perhelatan politik seperti Pemilu, Hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Lebaran. Saat Ramadhan dan jelang Lebaran. Alasannya sama, saat seperti itu perputaran uang di masyarakat dalam jumlah besar

Bagi kalangan penjahat, momen tersebut justru jadi ladang ‘bisnisnya’. Banyaknya masyarakat membutuhkan uang tunai, jadi ajang pelaku kejahatan beraksi mengedarkan uang palsu.

Pengamat Mata Uang Rully Nova menyebut, pemalsu uang paling senang mengedarkan uang dengan nominal besar, yaitu Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

“Yang sering dipalsukan itu yang nilainya besar karena akan jauh lebih hemat. Bahan baku yang sama dan nilai yang besar pasti punya keuntungan lebih besar. Tetapi Rp 50.000 yang paling banyak, kalau Rp 100.000 mungkin ada tetapi jarang digunakan oleh masyarakat,” ujar Rully di Jakarta, dikutip dari merdeka.com, Selasa (23/6/15).

Hal serupa juga diucapkan Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo. Menurutnya, pemalsu uang ini memang doyan mencari kesempatan di momen ramai.

Data Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan maraknya uang palsu di saat momen tertentu. “Ada musim-musim tertentu itu yang di mana peredaran uang palsu sangat marak, yaitu lebaran dan Pilkada,” kata Sudaryatmo

Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs membenarkan bahwa pemalsu uang kerap mencari celah mengedarkan uang palsu di saat momen ramai. Adapun duit palsu yang sering ditemukan bank sentral biasanya pecahan nominal besar.

“Yang kami temukan memang pecahannya uang Rp 50.000 hingga Rp 100.000,” kata Peter.

BI berjanji tidak hanya diam melihat maraknya uang palsu di pasaran. Peter menegaskan bank sentral bakal terus memantau dengan menggandeng seluruh pihak untuk mengurangi peredaran uang palsu termasuk UKM dan kepolisian.

Untuk itu sangat penting bagi masyarakat untuk dapat membedakan sendiri uang yang asli dengan uang palsu.

Dikutip dari antaranews.com, ada beberapa cara yang mudah untuk mendeteksi uang palsu, diantaranya:

  1. Dengan cara 3D yaitu, dilihat, diraba dan diterawang.
  2. Ciri-ciri keaslian uang Rupiah dapat dikenali dari unsur pengaman yang tertanam pada bahan uang dan teknik cetak yang digunakan.
  • Tanda Air (Watermark) dan “Electrotype”
  • Benang Pengaman (Security Thread)
  • Cetak Intaglio, Cetakan yang terasa kasar apabila diraba.
  • Gambar Saling Isi (Rectoverso)
  • Tinta Berubah Warna (Optical Variable Ink)
  • Tulisan Mikro (Micro Text)
  • Tinta Tidak Tampak (Invisible Ink)
  • Gambar Tersembunyi (Latent Image)

Dengan delapan tanda-tanda tersebut, sebenarnya sangat mudah bagi masyarakat dengan mudah menentukan apakah uang yang dipegangnya asli atau tidak tanpa menggunakan alat apapun, cukup dengan 3D, dilihat, diraba dan diterawang. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Sambut Ramadhan dengan Belajar Quran Bersama BisaQuran

Figure
Organization