Topic
Home / Berita / Nasional / Umat Muslim Indonesia se-Thuringia Berkumpul Memperingati Isra Mi’raj 1436 H

Umat Muslim Indonesia se-Thuringia Berkumpul Memperingati Isra Mi’raj 1436 H

Peringatan Isra Mi'raj muslim Indonesia yang berada di Negara bagian Thuringia, Jerman, Sabtu (16/5/15).  (tri)
Peringatan Isra Mi’raj muslim Indonesia yang berada di Negara bagian Thuringia, Jerman, Sabtu (16/5/15). (tri)

dakwatuna.com – Jena.  Ruang seminar Internationales Begegnungszentrum (IBZ) Humboldt-Haus, Jena menjadi saksi ajang silaturahmi umat muslim Indonesia yang tengah bermukim di Jerman, khususnya di negara bagian Thuringia. Pertemuan yang pertama kalinya digelar ini dihadiri oleh mayoritas umat muslim Indonesia dari lima kota besar yaitu Nordhausen, Erfurt, Weimar, Ilmenau dan Jena.

Acara yang bertajuk Refleksi Isra Mi’raj dalam Kehidupan Muslim Indonesia di Jerman ini dimulai pukul 11.00 CET dan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh seorang peserta dari Nordhausen. Dilanjutkan dengan pemutaran sebuah klip pendek berisikan foto-foto taklim pengajian di setiap kota secara bergiliran. Koordinator Pengajian dari setiap kota juga diberi kesempatan untuk menyampaikan kisah seputar terbentuknya taklim ilmu di kota masing-masing.

Pada inti acara, disampaikanlah tausiyah oleh Ustadz Luthfi Muhammad Mauludin, seorang dosen tetap Politeknik Negeri Bandung yang tengah menempuh pendidikan S3 di The Bauhaus University, Weimar. Beliau juga seorang pelopor dan pengisi kajian Islam bulanan di berbagai kota di Jerman, bahkan Eropa.

Lima puluh enam peserta yang hadir tampak larut dalam materi seputar kewajiban menjalankan sholat lima waktu seperti yang tertuang dalam kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW. Menjadi kaum minoritas di daratan Eropa tentu memberikan pengalaman yang berbeda dalam menjalankan ibadah-ibadah wajib di negara empat musim. Ustadz Luthfi sendiri berulang kali menekankan dalam tausiyahnya bahwa Islam itu mudah, namun juga bukan berarti bisa terlalu dipermudah. Ada berbagai macam keringanan yang bisa dilakukan umat muslim dalam kondisi minoritas dan juga darurat. Bahasan ini tentu saja sangat menarik berkenaan dengan rentang waktu siang hari yang lebih panjang pada saat musim panas dan rentang waktu malam yang lebih panjang pada saat musim dingin.

Kondisi minoritas dalam kehidupan umat muslin di Jerman juga termasuk saat setiap individu diuji keistiqomahannya dalam mendapatkan makanan halal di negara ini. Oleh karenanya, disuguhkan pula informasi yang lebih jelas mengenai definisi makanan halal, kiat untuk memilih dan memilah jenis makanan halal tersebut, juga kondisi-kondisi darurat sehingga tidak mempersulit umat muslim Indonesia untuk tetap bertahan hidup dan tetap bisa melebur dan bersosialisasi dengan warga lokal.

Selain diadakan bazar makanan Indonesia, acara ini dimeriahkan pula dengan persembahkan nasyid dari empat pelajar Indonesia di kota Nordhausen yang membawakan sebuah lagu secara acapela. Acara diakhiri pukul 17.00 CET dengan ramah tamah dan foto bersama.

Ketua penyelenggara Ruri Agung Wahyuono juga mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi ajang pertemuan rutin masyarakat muslim Indonesia di Jerman, khususnya di negara bagian Thuringia, yang tidak hanya sekedar menyambung tali silaturahmi tetapi juga menjadi momentum untuk mengingatkan sesama muslim agar meningkatkan iman dan takwa. (tri/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Muhammad Jadi Nama Paling Populer di Berlin dan Sejumlah Kota di Eropa

Figure
Organization