Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Homeless (Gelandangan), Bagaimana Rupa Mereka di Eropa?

Homeless (Gelandangan), Bagaimana Rupa Mereka di Eropa?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Gelandangan di Eropa. (ibtimes.co.uk)

dakwatuna.com – Homeless atau biasa kita sebut gelandangan bukan saja identik dengan kehidupan di negara-negara Asia. Di berbagai belahan dunia rupa para gelandangan selalu ada.

Ini sisi hidup yang sering kita lupakan bahwasanya di manapun, kehidupan adalah sebuah perjuangan. Semaju apapun Eropa pasti ada rupa ini (homeless) termasuk Norwegia.

Pernah ada yang bertanya kalau di negara-negara maju seperti Eropa, bagaimana kehidupan para homeless ini?

Haruslah kita tahu bersama bahwa kehidupan di luar negeri terutama untuk tempat tinggal sangat mahal. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan atau yang datang secara ilegal berpotensi menjadi homeless.

***

Gelandangan di Eropa. (ibtimes.co.uk)

Bagaimana rupa mereka?

Selama tinggal di Polandia kami sering sekali ke ibukota, Warsawa. Di situ saya suka memperhatikan orang-orang yang tinggal di bawah jembatan di pusat kota (centrum).

Penampilan sering kali bisa menipu, apalagi bagi pendatang seperti saya yang belum tahu situasi dan kebiasaan masyarakat setempat. Lalu bagaimana dengan Norwegia? Tidak jauh berbeda. Di Norwegia bahkan saya sama sekali tidak bisa membedakan mana homeless dan tidak. Mungkin karena kami tinggal di kota kecil.

Abu Aisha cerita bahwa di Norwegia sulit menemukan homeless tapi mereka ada. Sewaktu beliau ke Oslo pernah menyaksikan sendiri seorang bapak berjas dan berdasi layaknya pekerja kantoran lengkap dengan kopernya keluar dari tenda kecil di pinggir stasiun. Mana ada pekerja kantoran bermalam di tenda?

Saat musim dingin penampilan mereka justru semakin sulit untuk dikenali. Tahun 2010-2011 suhu ekstrem musim dingin pernah melanda Polandia dan tetangganya Ukraina yang banyak memakan korban terutama para homeless.

Kami yang tinggal di rumah susun alias apartemen sudah sangat kedinginan apalagi yang tidak memiliki tempat tinggal. Kehidupan musim dingin punya tantangan tersendiri. Itulah mengapa banyak yang meninggal ketika suhu dingin mencapai titik ekstrem. Kebanyakan dari mereka adalah para gelandangan /homeless.

Bila musim panas tiba jumlah homeless semakin bertambah. Hal ini membuat polisi dan dewan kota sibuk untuk mengatur mereka. Bukan saja gelandangan, peminta-minta pun bertambah.

Rupa mereka bagaimana? Awal saya di Polandia dan pertama kali ke Warsawa saya takjub sekali dengan penampilan mereka. Apalagi yang seniman jalanan kalau di Indonesia mungkin sudah jadi artis atau dikejar-kejar bule hunter.

Cakep, jaketnya keren dan merokok. Ingat harga rokok di Polandia juga mahal. Sulit membedakan mana gelandangan dan tidak.

Kami pernah duduk di taman di Warsawa waktu awal musim panas, saya perhatikan justru banyak turis yang memotret para gelandangan ini. Mungkin para turis itu sama takjubnya dengan saya.

Justru penampilan yang bukan gelandangan terlihat biasa saja. Celana jeans dan tas punggung kecuali para pekerja perbankan dan hukum yang memang rapi sekali dengan dasinya. Kalau semua berbaur di transportasi publik seperti bus, trem, subway maka semakin sulit membedakan rupa para gelandangan dan bukan.

Sewaktu hamil Aisha tepatnya di bulan ketujuh kalau saya tidak salah ingat, kami singgah di salah satu mall di Warsawa saat turun dari mobil saya sibuk muntah-muntah. Abu Aisha saya minta masuk saja sendiri ke toko bayi. Saat itu mata saya menyaksikan sendiri ada bapak berpenampilan rapi mengais-ngais tong sampah. Alhamdulillah saya jadi tertegun, bersyukur bahwa kehidupan kami jauh lebih beruntung.

Si bapak melewati saya, Alhamdulillah saat itu ada uang kertas zloty di tas kecil saya berikan kepada beliau waktu lihat beliau menaruh roti -roti sisa di tas kresek.

Waktu Abu Aisha keluar dari toko lihat saya menangis disangkanya karena muntah-muntah. Saya sampai langsung cium tangan suami bahwa walaupun sulit tapi saya tidak sampai hidup kekurangan di negeri ini.

***

Beberapa hari kemarin tanpa sengaja kami berpapasan dengan perempuan tua yang kumuh sekali tapi bukan pengemis. Beberapa tas kresek ada di kanan kiri. Ini pertama kali saya lihat pemandangan macam ini di Haugesund. Kalau di Jablonna sudah sering nenek tua mencet bel apartemen.

Lantaran ini saya berdiskusi dengan Abu Aisha yang memang sudah cukup lama merantau di Norwegia. Imej tentang Norwegia bagi saya selalu yang bagus-bagus. Sampai saat ini pun tetap sama dalam hal kesejahteraan penduduk makanya penasaran juga tentang kehidupan homeless di sini.

Norwegia identik sebagai salah satu negara dengan penduduk paling bahagia, Global Peace Index tertinggi, negara dengan Human Development Index tertinggi, belum lagi negara dengan kategori paling nyaman untuk ibu dan anak. Dan satu hal yang sering didiskusikan yakni Global Gender Inequality, Norwegia masih memegang posisi sebagai negara untuk kesetaraan gender terbaik serta yang paling membuat diri becermin Norwegia merupakan salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah dari berdasarkan Corruption Perception Index. Mungkin ini membuat saya iri kuadrat, kapan tanah air saya bisa mendapatkan persepsi ini juga?

Kata Abu Aisha jarang menemukan produsen berbohong kepada konsumen. Ini karena beliau sendiri yang pernah mengalami order barang secara online dan ternyata ada yang rusak, langsung dikembalikan dan ternyata dikirim ulang produk yang baru dan sesuai.

Bicara fasilitas, jempol buat Norwegia. Standar pelayanan jangan ditanya. Saat buat kartu izin tinggal, saya nggak menyangka datang ke kantor polisi, masukin berkas-berkas, ambil foto dengan mesin beberapa menit langsung selesai. Terima kartunya di rumah dikirim lewat kantor pos.

Anda pasti sudah pernah baca mengenai tunjangan sosial bagi yang tidak bekerja serta tunjangan anak dan lainnya yang suka bikin iri. Atau jatah cuti melahirkan untuk ibu dan ayah (nggak melahirkan ya tapi berperan serta merawat bayi). Semua hal ini sudah menjadi standar bagi rakyat Norwegia termasuk kami yang merantau di sini.

Saya jadi bertanya-tanya seperti apa batas garis kemiskinan di tanah Viking ini?

Perlu kita tahu bahwa di sini orang yang bekerja dengan penghasilan rendah kategorinya sedikit karena peraturan mengenai upah minimum sangat ketat. Hal inilah yang menjadi alasan kuat mengapa banyak pekerja asal Polandia bekerja di sini termasuk suami.

Sedangkan orang-orang yang datang dan kerja secara ilegal tanpa surat-surat resmi yang banyak mengalami ini, upah yang kecil dan tentu saja mereka tidak membayar pajak.

Satu hal perlu kita pahami bahwa Pajak dan Biaya Hidup di Norwegia sangat tinggi bahasa lain dari Sangat Mahal.

Kondisi-kondisi ini tak ayal melahirkan para homeless. Bayangkan saja untuk biaya sewa flat standar separuh gaji hilang, belum lagi hitung-hitungan pajak, harga makanan yang cukup mahal. Orang-orang yang upahnya rendah atau sama sekali tidak berpenghasilan yang berpotensi menjadi homeless. Alhamdulillah kami tidak sampai jadi homeless di sini.

Kebanyakan kategori miskin ini ditemui pada keluarga dengan anak yang masih kecil-kecil, single parent (ibu atau bapak saja), keluarga imigran, penerima bantuan sosial (kami juga masuk kategori ini sewaktu Abu Aisha kehilangan pekerjaan, dan penerima bantuan jaminan sosial (para disable, pengangguran dan para pecandu alkohol)

Demikian saudara, rupa homeless di Eropa dalam hal ini Polandia dan Norwegia, dua negara tempat saya merantau.

Jangan bayangkan hidup enak seperti turis yang hanya jalan-jalan. Patutlah kita bersyukur pada apa yang kita miliki. Semakin kita bersyukur semakin kita belajar melihat hidup dengan jernih.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Ibu rumah tangga dengan satu putri Aisha Pisarzewska namanya. Bersuamikan lelaki muslim Polandia. Sering di panggil dengan nama Ummu Aisha. Sedang belajar menulis memoar, kisah yang terjadi di sekitar rumah.

Lihat Juga

Palestina Tolak Rekonsiliasi Tanpa Kemerdekaan

Figure
Organization