Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Kyai Kocak vs Liberal Ronde #2

Kyai Kocak vs Liberal Ronde #2

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Kyai Kocak vs Liberal Ronde #2".
Cover buku “Kyai Kocak vs Liberal Ronde #2”.

Judul: Kyai Kocak vs Liberal Ronde #2
Penulis: Abdul Muttaqin
Penerbit: Penerbit SALSABILA PUSTAKA AL-KAUTSAR GROUP
Halaman: 228 (Halaman)
Cetakan: cetakan pertama, februari 2014

dakwatuna.com – Kolot tapi cerdas. Itulah gelar yang patut disandang oleh Kyai Adung –tokoh fiktif – dalam karya ini. Kyai Adung sangat hebat kala menggunakan logikanya dalam menangkis berbagai serangan para pendekar bertopeng penebar fitnah yang sok Atheis, Liberalis, dan Komunis. Akan tetapi dari sisi keilmuan, dia pun sangat menguasai masalah-masalah kekinian beserta jawaban-jawaban yang ada di dalam Alquran dan as-Sunnah. Dia bahkan menguasai dengan detil landasan-landasan yang dipakai oleh lawan-lawan diskusinya.

Dalam sebuah dialog dengan seorang kristen, Kyai Adung mampu mematahkan argumen yang orang itu pakai dengan menggunakan ayat-ayat dari Injil (halaman 111).

Logika yang Kyai Adong pakai, kalau mau dibilang cukup sederhana. Tapi cukup untuk membungkam mulut para Liberalis. Dalam sebuah diskusi ringan seperti kutipan berikut ini.

“Kyai, bagi saya, urusan agama adalah urusan privat. Orang lain tidak perlu turut campur. Itu urusan masing-masing orang. Nanti kita mati juga sendirian. Mempertanggungjawabkan amal juga sendirian. Emang di akhirat saya minta bantuan Kyai apa?”

“Ya sudah. Nanti kalau ente mati, jangan minta tolong orang lain, ye! Mandiin sendiri, gotong keranda sendiri, shalatin jenazah sendiri, kuburin jenazah sendiri, ye!”(halaman 47).

Kyai Adong dalam karya ini, juga tidak pernah kalah upgrade masalah-masalah sosial keagamaan. Seperti masalah pengosongan kolom agama dalam KTP (halaman 145). Atau masalah homoseksual. Di sini Kyai Adong mampu memberi analogi yang sederhana tapi masuk akal, kepada sala satu profesor wanita aktifis pejuang legalisasi pernikahan sesama jenis. (halaman 123)

Karya ini memang layak dibaca. Kita akan banyak belajar berpikir kritis. Belajar menempatkan akal pada tempatnya. Belajar mengenal berbagai argumen yang sering digunakan oleh para liberalis dalam mempermainkan Agama.

Melalui karya ini penulis menyampaikan pesan-pesan dengan bahasanya yang ringandan mudah dicerna, sesuai dengan masa kekinian dan terkesan tidak menggurui.

Akhirnya saya ucapkan selamat membaca dan tersenyum sendiri oleh intrik-intik Kyai Adong yang kolot dan cerdas.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Gima
Guru bahasa Arab di SMP IT Al-Bina Masohi,

Lihat Juga

Aktualisasi Ngaji Santri Ciamis Dalam Aksi 212 dan Prestasi