Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Waktu; Evaluasi dari Perjalanannya

Waktu; Evaluasi dari Perjalanannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(inet)
(inet)

dakwatuna.com – Waktu adalah sesuatu yang berjalan secara relatif. Dalam sebuah kondisi kita dapat merasakan waktu berjalan amat sangat lambat. Dan di kondisi lain kita merasakan waktu bergerak dengan sangat cepat. Padahal, dalam setiap kondisinya kita tetap menjalani waktu 1 hari yang sama, 1 jam yang sama, 1 menit yang sama dan 1 detik yang sama. Yang membedakan biasanya adalah kondisi serta perasaan yang kita rasakan dalam menjalani waktu yang ada. Dua hal tersebutlah yang bisa membuat kita merasa waktu berjalan dengan amat sangat cepat ataupun lambat. Sehingga kita sendirilah yang bisa membuat waktu terasa lebih panjang ataupun terasa lebih singkat.

Namun ada satu hal yang tidak dapat kita lakukan terhadap waktu ialah, kita tidak akan pernah bisa kembali lagi ke setiap detik yang telah kita lalui. Sekeras apapun kita berusaha, sebanyak apapun harta yang kita keluarkan kita tidak akan pernah mampu “membeli” lagi setiap waktu yang telah kita habiskan. Sehingga wajar ulama mengatakan bahwa hal yang paling jauh di dunia ini adalah masa lalu. Karena kita tidak akan pernah bisa untuk kembali lagi ke masa itu.

Waktu dalam definisi yang diberikan oleh ustadz Anis Matta dalam bukunya “Delapan Mata Air Kecemerlangan” adalah batas masa kerja yang membentang antara kelahiran dan kematian. Hal lain yang menjadikan waktu adalah sesuatu yang menarik adalah Allah swt membuka salah satu surat di dalam Alquran dengan sebuah sumpah tentang waktu.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al – Ashr : 1- 3)

Di mana para ulama tafsir menjelaskan jika Allah swt bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, maka makhluk itu pastilah makhluk itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Seperti misalnya, dalam beberapa surat Allah swt bersumpah dengan langit dan bumi, matahari dan bulan. Dan benar saja keempat hal tersebut merupakan hal – hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dan Allah swt telah bersumpah dengan waktu, oleh karena itu kita mesti sadar betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

Akumulasi dari keunikan dan keistimewaan dari waktu seharusnya menjadikan kita sadar betapa penting bagi kita manusia untuk dapat memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah swt dengan sebaik – baiknya. Betapa penting bagi kita untuk mengisi setiap detik yang berlalu dengan kebaikan serta hal – hal yang bermanfaat sehingga waktu yang berjalan tidak terasa sia – sia. Betapa penting bagi kita untuk menggunakan waktu yang ada untuk hal – hal yang berguna bagi diri kita sendiri dan lingkungan sekitar agar tidak ada penyesalan atas waktu yang kita lalui. Betapa penting bagi diri kita untuk memanfaatkan waktu yang sudah diberikan oleh Allah swt untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan serta memperbanyak amal shalih kita agar ketika waktu kita hidup didunia telah habis kita membawa bekal yang cukup untuk kembali menghadap-Nya.

Dalam Alquran surat Al – Ashr, di mana Allah swt membuka surat ini dengan sumpah terhadap waktu di ayat pertama dan dilanjutkan dengan informasi dari Allah swt bahwa manusia berada dalam kondisi rugi di ayat kedua. Ini menanjadi peringatan untuk kita semua, dalam hal yang berkaitan dengan penggunaan waktu, manusia berada dalam kondisi yang rugi. Tetapi, Allah swt menutup surat ini dengan ciri – ciri orang yang tidak mengalami kerugian dalam menjalani waktu yang diberikan oleh Allah swt, yaitu : beriman, beramal shalih, menasehati dalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran. Keempat hal inilah yang menjadi pembeda antara orang – orang yang mengalami kerugian dalam menjalankan waktu yang diberikan ataupun orang – orang yang mendapatkan keuntungan atas waktu yang diberikan.

Iman adalah paduan antara pengetahuan dan keyakinan tentang Allah swt serta kebenaran – kebenaran yang diturunkan-Nya. Pengetahuan yang kta miliki tentang Allah swt haruslah berujung kepada keyakinan. Karena tidak akan ada artinya jika pengetahuan yang dimiliki tidak berujung pada keyakinan. Tetapi sebaliknya, kita tidak akan pernah bisa membangun sebuah keyakinan yang kokoh tanpa didasari oleh pengetahuan atas apa yang ingin kita yakini. Sebab penegtahuan berkaitan dengan dimensi akal dan keyakinan berkaitan dengan dimensi hati. Sedangkan amal shaleh merupakan pembuktian terhadap pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki melalui tindakan dan prilaku keseharian.

Menasehati dalam kebenaran adalah sebuah tindakan yang membuat seseorang berpartisipasi aktif dalam proses perbaikan kondisi masyarakatnya. Karena di dalam kebermanfaatan seseorang terhadap orang lain adalah menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Dan sebagai seorang muslim kebermanfaatan itu ditunjukkan dengan saling mengajak atau menasehati dalam hal – hal kebaikan. Sehingga dengan kata lain, aktivitas menasehati dalam kebenaran dapat diungkapkan dengan satu kata yaitu “dakwah”. Berperan aktif dalam aktivitas dakwah merupakan salah satu ciri dari orang yang beruntung dalam menjalani waktunya.

Menasehati dalam kesabaran menjadi hal penting untuk mendapatkan keuntungan dalam menjalani waktu yang kita miliki. Karena berbicara tentang peningkatan keimanan yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan, berbicara tentang peningkatan kualitas dan kuantitas amal shalih serta berbicara tentang aktivitas dakwah di masyarakat tentunya tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian dan tantangan yang sewaktu – waktu dapat merusak keimanan kita serta menghentikkan aktivitas amal shalih serta aktivitas dakwah yang kita lakukan. Oleh karena penilaian terhadap waktu yang kita jalani tidaklah dilakukan di awal ataupun di tengah kehidupan kita. Tapi melainkan sampai akhir waktu kita hidup, maka sangat penting menjaga konsistensi kita dalam keimanan, amal shalih serta aktivitas dakwah. Konsistensi atau juga yang sering kita sebut dengan keistiqamahan kita dalam melakukan hal – hal tersebut akan terwujud dengan kesabaran.

Selanjutnya, mari kita mengevaluasi diri kita sendiri dalam rentang waktu yang telah kita jalani, mempertanyakan kepada diri kita sendiri bagaimana kondisi keimanan kita? mempertanyakan kepada diri kita sendiri bagaimana kualitas dan kuantitas amal shalih yang kita lakukan? Tanyakan kepada diri kita sendiri, sudahkah kita berkontribusi dalam aktivitas dakwah? Tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita telah menjalankan hal – hal tersebut dengan konsisten?

Sebagai penutup mari kita ingat dan renungkan lagi sebuah hadist dari Rasulullah saw berikut ini :

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki untuk menasihatinya : ”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu” [HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi].

Maraji’:

  • Al Qur’an terjemah Departemen Agama
  • Delapan Mata Air Kecemerlangan, Anis Matta Lc

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswa jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus NADWAH UNSRI sebagai kepala departemen PPSDM. Mantan ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas Teknik KALAM FT.

Lihat Juga

Ibu, Cintamu Tak Lekang Waktu

Figure
Organization