Home / Dasar-Dasar Islam / Agama dan Kepercayaan / Strategi Menghadapi Aliran-Aliran Sesat di Sekitar Kita (Bagian ke-4, Selesai)

Strategi Menghadapi Aliran-Aliran Sesat di Sekitar Kita (Bagian ke-4, Selesai)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(nahimunkar.com)
(nahimunkar.com)

Strategi Menghadapi Aliran-aliran Sesat

dakwatuna.com – Telah disebutkan di muka bahwa penyebab utama kerusakan adalah adalah rusaknya ilmu (fasad al-ilmi), dan rusaknya i’tikad baik (fasad al-qashdi) atau kemauan/motivasi. Rusaknya ilmu dalam diri seseorang menyebabkan terjadinya kesesatan dalam bidang ilmu. Sehingga ia tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Yang salah –bisa jadi- dianggap benar dan yang benar –bisa jadi- dianggap salah. Ilmu yang rusak tersebut jika mendorong kemauannya untuk berbuat maka akan menghasilkan perbuatan yang sesat.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka strategi yang diambil untuk menghadapi fenomena kesesatan adalah melalui tiga hal yang menjadi lawan dari tiga penyebab kerusakan tersebut: Pertama: Ta’lim (Pengajaran), Kedua: Tarbiyah (Tazkiyah) (Pendidikan pembinaan), selanjutnya Ketiga: Dakwah. Namun proses awalnya harus dimulai dari Ilmu (pengajaran). Ilmu yang kokoh akan menghasilkan iman yang kuat, dan iman yang kuat ditambah dengan ilmu yang kokoh yang kemudian mendorong adanya motivasi menghasilkan amal perbuatan.

(Ketahuilah bahwa Tiada Tuhan selain Allah, maka mintalah ampun atas dosa-dosamu, dosa-dosa orang mukmin dan mukminat. Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggal kamu[1]. (Muhammad: 19)

Lafal “fa’lam” (ketahuilah) menunjuk kepada ilmu, dan lafal “annahu lā Ilāha Illallāh” (tiada Tuhan selain Allah) menunjuk kepada iman, yang artinya iman harus dibangun diatas ilmu dan ilmu harus menjadi basis bagi keimanan. Sementara lafal “fastaghfir lidzanbika” (maka mintalah ampun atas dosa-dosamu) menunjuk kepada amal perbuatan. Artinya ilmu yang benar dan iman yang kokoh akan dapat memotivasi terjadinya amal perbuatan.

Ilmu juga berperan menimbulkan dan menguatkan motivasi, karena dengan ilmu seorang mengetahui hakekat sesuatu, termasuk manfaat dan madzaratnya. Dengan pengetahuan ini ia termotifasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya serta menjauhi hal-hal yang mendatangkan madharat baginya. Gabungan antara kekuatan ilmu dan kuatnya motivasi akan melahirkan amal perbuatan.

Sebaliknya amal perbuatan yang tulus dan ikhlas juga berperan menyingkap ilmu, ini sebagai akibat dari kedekatan dengan sang penyingkap ilmu. Di mana jika sang penyingkap ilmu berhasil didekati melewati prestasi-prestasi amal perbuatan yang didasari oleh ilmu yang benar dan motivasi yang tulus, maka Ia akan menyingkapkan kepadanya ilmu baru yang belum pernah ia ketahui.

 “Bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu ilmu. Allah maha mengetahui segala sesuatu” [2]. (al-Baqarah: 282)

Ilmu yang diajarkan oleh Allah sebagai karunia dari-Nya disebabkan oleh amal perbuatan yang telah dilakukan ini bersifat ilhami atau hadsi atau Isyraqi (intuitif). Ketajaman ilmu ini sebanding lurus dengan kebeningan hati. Menurut Imam Ghazali kebeningan hati seperti kaca yang jernih, yang akan memantulkan gambar dengan jelas dan jernih. Pantulan gambar itu adalah ilmu intuitif dari Allah, yang dapat menyingkap tabir yang sejatinya sedang tertutup ole debu-debu materialisme dan duniawi.

Ibarat seorang raja, Ia memiliki keluarga, para menteri, prajurit, dan rakyat. Jika sang raja ingin berbicara kepada rakyatnya biasanya rakyat diminta untuk berkumpul di halaman istana, tidak dikumpulkan di dalam istana. Isi pembicaraan yang disampaikan pun bersifat umum, tidak menyangkut strategi negara. Masalah strategi dan hal-hal yang menyangkut rahasia negara biasanya hanya dibicarakan dengan para menteri atau pembantu-pembantu terdekat sang raja. Sementara masalah-masalah yang bersifat pribadi dan sangat rahasia tidak pernah dibicakan kecuali kepada orang-orang terdekatnya. Maka bila kedekatan seorang hamba bisa diraih melewati amal perbuatannya, tidak heran jika sang pemilik alam semesta ini membukakan kepadanya informasi dan ilmu yang tidak pernah dibukakan kepada orang lain.

Jadi hubungan antara empat hal ini adalah mutualis-simbiosis, saling mempengaruhi, mengisi, melengkapi serta menguatkan. Sehingga jika salah satu dari empat hal tersebut mengalami kepincangan akan berakibat pada lemahnya kontruksi bangunannya, sehingga akan menghasilkan pribadi yang rapuh atau cacat.

Kerusakan dalam struktur keilmuan mengakibatkan terjadinya penyimpangan dalam berfikir, hal ini akan mengakibatkan terjadinya kesesatan. Struktur keIlmuan yang benar memberikan informasi mana yang benar dan mana yang salah secara tepat, namun jika struktur keilmuan ini rusak, informasi yang diberikan menjadi keliru bahkan terbolak-balik; yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar. Tentu saja kesalahan dalam cara pandang ini akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam tindakan.

Namun demikian kuatnya struktur keilmuan tidak serta merta menjadikan seseorang mampu memproduk karya (amal perbuatan), sebab keduanya memiliki dimensi yang berbeda; dimensi ilmu berkaitan dengan kerja kognetif yang hanya ada dalam otak dan alam pikiran, sementara amal dimensinya pskomotorik yang berkaitan erat dengan kerja fisik. Kerja fisik ini dapat dihasilkan jika ada stimulus dari alam pikiran, serta terdapat motivasi kuat yang datang dari hati. Artinya jika seseorang kaya ilmu, namun ia miskin motivasi, maka tidak mungkin memproduk amal perbuatan. Namun Jika ia miskin ilmu, tapi kaya motivasi akan melahirkan amal yang kebanyakan keliru. Biasanya apa yang dirusak lebih besar dari apa yang diperbaiki seperti apa yang disampaikan Umar bin Abdul Aziz “man amila bila ‘ilmin kāna mā yufsiduhu aktsar mimmā yushlihuhu”. (Barang siapa melakukan sesuatu perbuatan tanpa ilmu, maka apa yang dirusak lebih banyak dari apa yang diperbaiki).

Tidak hanya itu, perbuatan yang dilakukan tanpa dasar ilmu, akan tertolak, sehingga tidak akan mendapatkan pahala apapun dari jerih payahnya itu. Seperti yang dijelaskan oleh Rasul.

“Segala perbuatan yang tidak didasarkan atas apa yang datang dari kami, maka ia akan ditolak” 

Lebih ironi lagi, amal perbuatan (terutama ibadah) yang tidak didasari ilmu, diklasifikasikan ke dalam perbuatan “bid’ah”. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.

Sementara rusaknya motivasi, lebih membahayakan lagi. Karena bisa mendorong seseorang merubah setruktur keilmuan yang benar dan mapan, agar menjadi legitimasi bagi perbuatan yang jelas-jelas keliru dan menyimpang. Sikap inilah yang seringkali dipraktekkan oleh bangsa Yahudi; di mana setiap kali datang seorang Rasul yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, sebagian mendustakan dan sebagian lagi membunuh mereka.

Apakah setiap kali datang kepada kalian Rasul dengan membawa ajaran yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, kalian menyombongkan diri, lalu sebagian kalian mendustakannya, sebagian lagi membunuhnya” [3]. (al-Baqarah: 87)

“Dan tatkala datang kepada mereka kitab dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sementara mereka itu sebelum itu meminta pertolongan kepada orang-orang kafir, namun setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui, mereka mengingkarinya, maka layaklah laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang kafir” [4] (al-Baqarah: 89)

Bangsa Yahudi disinyalir oleh Alquran sebagai bangsa yang mengenal betul kakakteristik kebenaran serta pelakunya: “Orang-orang yang diberikan (diturunkan) kepada mereka kitab, mengenal (Muhammad) dengan baik sebaimana mereka mengenal anak kandung mereka sendiri …” (Al-Baqarah: 146) , Hanya saja, karena rusaknya motivasi ini menyebabkan mereka cenderung menutupi kebenaran itu “namun demikian sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal sebenarnya mereka mengetahui.”. (Al-Baqarah: 146). Bahkan lebih dari itu cenderung menghalangi kebenaran serta memusuinya.

Mengetahui kebenaran namun tidak mau melaksanakan, sangat dibenci atau dimurkai Allah. Surat As-Shaf: 3 mensifatinya dengan “Sangat besar kemurkaan Allah”.

Untuk itu kerusakan motivasi lebih berbahaya dari kerusakan ilmu. Karena jika kerusakan ilmu menjadikan seseorang tersesat, kerusakan motivasi bisa menjadikan orang menjadi “jahat”. Jika seorang berbuat kesalahan karena ketidak tahuan terkadang bisa dimaklumi, namun kesalahan yang dilakukan dengan sengaja, bukan karena ketidak tahuan, jelas didasari oleh i’tikad yang jelek. Kesalahan seperti ini sangat jarang diampuni.

Untuk itu Allah menempatkan orang-orang Yahudi pada rengking pertama dalam daftar kelompok yang memusuhi Umat Islam, yang disusul dengan orang-orang musyrik. Sementara orang-orang Nasrani ditempatkan dalam kelompok orang-orang yang paling dekat dengan Umat Islam. [5] Rahasia di balik penempatan ini –sebagaimana disebut di muka- adalah karena kaum Yahudi tahu kebenaran tapi tidak mau mengikutinya, malah menentangnya, sementara sebagian dari orang-orang nasrani masih ada yang jujur, dan tidak tinggi hati. Kerusakan pada mativasi hanya bisa ditanggulangi melalui sebuah proses yang oleh al-Quran disebut at-tazkiyah. Dua sisi inilah (Ta’lim dan Tazkiyah) yang menjadi tugas utama kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Saw. (al-Jumua’ah: 2)

(هوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ)

(Dialah yang telah mengutus dari kalangan kalian seorang Rasul, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mentazkiyah (mensucikan) mereka, serta mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, di mana sebelum itu mereka termasuk orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.)

Setelah masyarakat memahami kebenaran dan kebatilan, yang lurus dan yang sesat, serta tidak dengan mudah tergiur oleh iming-iming yang diberikan oleh aliran-aliran sesat tersebut, maka dengan sendirinya masyarakat muslim memiliki kekebalan pada dirinya untuk terus menerus mencari kebenaran di satu waktu akan menghindari serta menolak dengan sendirinya kesesatan.

Selain dua gerakan di atas (Ta’lim dan Tazkiyah/Tarbiyah), untuk menghadang laju penyebaran aliran-aliran sesat perlu dilakukan gerakan dakwah (amar makruf nahi mungkar). Jika gerakan Amar makruf dimaksudkan untuk meluaskan jangkauan kebaikan dan kebenaran, sementara gerakan nahi mungkar berfungsi untuk membatasi dan gerak penyebaran aliran-aliran sesat tersebut, sehingga tidak menyebar secara merajalela di masyarakat.

Kewajiban berdakwah ini selain dibebankan kepada komunitas muslim –sebagaimana disebutkan oleh ayat 114 surat Ali Imran-, juga dibebankan kepada individu, sehingga jika setiap individu memiliki tanggung jawab untuk melakukan dakwah, peduli dengan masyarakatnya, maka secara komunitas akan tercipta suasana saling mengingatkan, saling menasehati, dan saling tolong menolong di antara mereka. Kondisi inilah yang memancing turunnya rahmat dari Allah, sehingga menjadi masyarakat yang baik yang selalu mendapatkan pengampunan dari Allah (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Wallahu A’lam.

Selesai.

Catatan Kaki:

[1] Az-Dzariyat: 50 (فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ)

[2] Al-Baqarah: 282 (وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)

[3] Al-Baqarah: 87

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ

[4] Al-Baqarah: 89

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ

[5] Al-Maidah: 82

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Dosen dan Ketua Program Studi Ilmu Aqidah Pascasarjana ISID Gontor Jawa Timur.

Lihat Juga

Strategi Cerdas Perencanaan Keuangan Pribadi