Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Mewariskan Kekayaan Intelektual

Mewariskan Kekayaan Intelektual

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Mewariskan kekayaan material (harta benda) memiliki manfaat bagi orang tertentu dalam masa yang terbatas. Namun mewariskan kekayaan intelektual dapat dinikmati orang banyak pada masa tanpa batas. Makanya, orang yang hebat adalah orang yang berusaha menghasilkan kekayaan intelektual dan mewariskannya pada generasi berikutnya. Sungguh, Berapa banyak ilmu yang sudah kita diterima dan berapa banyak pengetahuan yang telah kita sampaikan? Nah, semua itu tidak akan bertahan lama dan tidak akan memberikan manfaat luar biasa jika tidak kita tulis atau bukukan. Menuliskan ilmu dalam sebuah buku dan mempublikasikannya adalah upaya melestarikan ilmu bahkan dapat mewariskannya pada generasi berikutnya.

Buku sebagai salah satu hasil pemikiran dan perasaan seseorang, sejatinya harus dihormati dan dihargai sebagai kekayaan intelektual yang harus diwariskan. Dengan menulis buku dan mempublikasinya berarti telah mengukir sejarah indah karena karyanya bisa dibaca oleh banyak orang dalam waktu yang lama . Pepatah Yunani mengatakan“Verba Volant scripta manent”. Apa yang diucapkan berlalu, namun hal ihwal yang tertulis abadi”.

Mengingat fungsi dan peranan menulis yang sangat sentral dan signifikan dalam menyebarluaskan hasil pemikiran dan budaya manusia, maka buku disebut pula sebagai inti dan pilar media cetak. Tidak ada media cetak lain–selain buku–yang bisa bertahan begitu lama dan memiliki kandungan nilai pikir dan budaya yang tinggi. Pemikiran, gagasan dan ide-ide cemerlang penulis yang tertuang dalam buku, sampai saat ini masih bisa kita baca dan nikmati. Yah! Mulai dari pemikiran Aristorteles, Pluto , Archimedes hingga pikiran Peter F. Drucker yang sangat menyejarah.

Bahkan, jauh sebelum tokoh-tokoh yang melegenda di atas. Para ulama terdahulu, telah meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang luar biasa dalam bentuk buku atau tulisan yang berharga . Kita mengenal keluasan ilmu Imam Syafi’i lewat bukunya “Al-Umm”. Kecemerlangan pikiran Imam Malik dalam bukunya “ Al-Muwaththa” . Ketajaman pena Imam Al-Ghazali melalui “ Ihya Ulumuddin “. Keindahan tulisam Imam Ibnu Qayyim lewat Risalah fi Amrad Al-Qulub. Kedalaman ilmu Buya Hamka melalui” Tafsir Al-Azhar” –nya. Orang – orang hebat di atas sampai saat ini, sudah berkalang tanah namun nama dan pemikiranya masih hidup sepanjang masa.

Peran Media Massa

Media massa khususnya media cetak berupa koran dan majalah ataupun media online memiliki peranan penting dalam melahirkan kekayaan intelektual dan mewariskannya. Media cetak disamping berfungsi sebagai media pemberitaan, menyampaikan berita berdasarkan fakta atau data. Media cetak sejatinya juga berfungsi sebagai sarana untuk melahirkan karya-karya intelektual dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui media ini kita akan dapat mengungkapkan pemikiran, gagasan , ide dan karya sastra indah yang dapat dipublikasikan secara luas.

Banyak karya penulis best seller sepanjang zaman justru karyanya bermula dari koran atau majalah. Sebut saja, Habiburrahman El Shirazy terkenal dengan novel “Ayat-Ayat Cinta”. Habiburrahman memulai debut kepenulisannya berawal dari koran Nasional yang mendapatkan apresiasi luar biasa dari pembaca. Seterusnya Habiburrahman membukukannya. Bahkan, karya sastranya tersebut diangkat dalam layar lebar dan mengharumkan namanya.

Media Online, “ Dakwatunna “, telah mengambil peran signifikan dalam menghasilkan kekayaan intelektual. Media ini telah memberi ruang yang besar pada publik untuk melahirkan kekayaan intelektual. Berbagai ragam pemikiran, gagasan, perasaan dan usulan publik yang dituangkan dalam bentuk artikel atau opini telah dimuat media ini sebagai bentuk kepedulian dalam menambambah khazanah keilmuan.

Makanya, mahasiswa, guru, dosen, sastrawan dan ulama harus mampu memanfaatkan media massa khususnya harian ini sebagai sarana dalam mempublikasikan karya intelektualnya. Mereka yang telah berusaha untuk menulis dan mempublikasikan tulisannya melalui media cetak dan media online maka berarti dirinya telah berusaha untuk menghasilkan kekayaan intelektual yang merupakan warisan yang tak ternilai harganya.

Menyemangati diri

Guru dan dosen sebagai seorang intelektual harus mampu menghasilkan karya intelektual berupa buku. Melalui buku, guru dan dosen dapat mengemukakan pemikiran, gagasan dan ide-ide secara leluasa. Hal ini adalah sebagai usaha dalam menciptakan dan mewariskan kekayaan intelektual yang akan menyemarakkan khazanah keilmuaan yang mencerahkan. Sangat ironis, seorang intelektual tidak dapat menghasilkan karya intelektual. Di sinilah keintelektualan seseorang terbukti dan dapat terwarisi. Wah, kalau demikian marilah kita menyemangati diri guna menghasilkan karya yang berarti.

Dalam hal ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang mendambakan kemampuan untuk menulis, di antaranya. Pertama, memotivasi diri. Motivasi yang muncul dalam diri seseorang akan melahirkan kekuatan dahsyat untuk melakukan sesuatu, termasuk dalam hal menulis. Sering seorang sudah kalah (tidak mampu menulis) karena lemahnya motivasi. Untuk itu, motivasi menulis harus ditumbuhkan dan hendaknya dapat mendongrak semangat untuk bisa menulis.

Kedua, banyak membaca. Dengan membaca seseorang akan dapat menambah cakrawalah pengetahuan. Pengetahuan inilah sebagai sumber dan bahan dalam menghasilkan sebuah karya. Orang yang banyak membaca, tentu akan banyak juga yang dapat dikemukakan dalam tulisan. Itu sebabnya, orang yang banyak menulis disebabkan juga karena rajin membaca. Sering orang bilang tak ada waktu untuk membaca karena kesibukan dan kerja yang menumpuk! Lalu kenapa ya waktu menonton, ngerumpi atau hal lainnya yang tidak atau sedikit manfaatnya justru tersedia waktunya? Sangat ironis, membaca , sesuatu yang sangat berguna, kenapa tidak disediakan waktunya? Di sinilah akar masalahnya yang menyebabkan guru atau dosen kesulitan membuat tulisan karena terbatasnya bahan yang akan diungkapkan. Makanya, kinilah saatnya kita menyediakan waktu untuk membaca agar menambah kekayaan intelektual yang juga akan dapat kita bagikan.

Ketiga, Berlatih dan terus berlatih. Maksudnya, kita harus terus berlatih dalam menghasilkan karya tulis. Menulis, tidak harus memperoleh hasil yang maksimal disaat baru memulainya namun keberanian menulis adalah sebuah keberhasilan. Belajar menulis ibarat belajar naik sepeda, Yah sering kita terjatuh dalam mengayuh sepeda namun berlatih terus maka akhirnya kita lancar bersepeda. Begitu pula halnya dalam belajar menulis, tentu ada kendala namun hal itu tidak menghentikan usaha untuk tetap menulis. Apabila kita konsisten dalam menulis maka ide-ide cemerlang akan mengalir bak air mengalir dan itu sangat membahagiakan.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Medan Perang Intelektual Dakwah Kampus

Figure
Organization