Home / Berita / Opini / Numerologi Peristiwa dan Al-Qur’an

Numerologi Peristiwa dan Al-Qur’an

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Akhir-akhir ini, banyak beredar pesan sms atau status Facebook yang mengkait-kaitkan waktu gempa bumi di Padang dengan ayat Qur’an. Sekitar 8 tahun silam, tepatnya pas 9/11, ada pula pesan email yang beredar luas, mengkaitkan peristiwa pemboman WTC dengan isi ayat 9:11 (yang katanya ada menyebut Wall  Street). Jauh sebelumnya, ada pula ilmuwan yang tertarik dengan keistimewaan angka 19 di dalam Al-Quran, dan melakukan penafsiran-penafsiran berdasarnya. Sedikit banyak, ada kemiripan numerologi ‘kuno’ dengan numerologi yang disangkutpautkan dengan ayat Quran ini.

Kepercayaan mengkaitkan angka-angka dengan peristiwa-peristiwa atau benda hidup disebut juga dengan numerologi (cek: http://en.wikipedia.org/wiki/Numerology). Yang populer adalah kepercayaan tentang angka sial (12 / 13 di kebudayaan Barat), angka keberuntungan di masyarakat Cina dll.

Bagaimana Islam melihat fenomena mempertautkan angka-angka dengan Quran ini ?

Sesungguhnya setiap ayat al-Quran itu adalah benar dan semuanya baik untuk dibaca. Dan bahwa setiap muslim diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dengan kacamata Quran.

NAMUN, mengkait-kaitkan suatu ‘angka’ dari satu peristiwa dengan ayat al-Quran seperti ini, atau ilmu gothak-gathuk/otak-atik seperti ini, tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tidak ada landasannya, mengambil angka jam/menit (seperti beredar dari gempa Padang ini) atau angka hari/bulan (seperti dulu zaman 9/11) atau angka apapun, untuk di”cocok”kan dengan ayat Quran.

Untuk direnungkan:

1. Kenapa harus angka jam/menitnya (untuk kasus gempa Padang), kok bukan angka hari/bulan, atau kenapa bukan koordinat GPS-nya, atau angka-angka yang lain? Sementara di kasus WTC bombing, kenapa yang diambil tanggal-bulannya, sementara jumlah tingkat gedungnya (misalnya) atau jam-menitnya diabaikan?

Dari sini sudah terlihat ketidakjelasan landasan pengambilan angka, hanya memilih angka tertentu sementara meninggalkan angka yang lain, asal cocok, alias gothak-gathuk. Tidak logis, dan tidak bisa diterapkan secara umum. Jelas bukan begini cara istimbath / pengambilan kesimpulan dalam ranah agama.

2. Bagaimana jika kejadian ini terjadi jam 01:38, harus lihat ayat mana? Surat 01 (al-Fatihah cuma 7 ayat… Dan ayat Quran surat 25-114 tidak akan pernah dilihat, karena jam cuma sampai pukul 24….

Bagaimana mungkin al-Quran hanya terpakai sebagian dan ditinggalkan sebagiannya lagi?

3. Seandainya hasil reka-reka angka itu keluarnya adalah angka 107:04, yang bersesuaian dengan ayat: fa waylul lil musholliin, apakah lantas kita tidak usah shalat ?? atau apakah artinya orang yang shalat di bencana itu celaka semua, ataukah artinya kecelakaan itu gara-gara orang yang shalat???

Masya Allah, tentunya jauh sekali dari yang demikian.

So, mari kita berhenti dari mengutak-atik angka seperti ini. Ini bukan dari ajaran Rasulullah saw, bukan dari Islam. Bahkan, na’udzu billah min dzalik, jangan-jangan sudah menyimpang.

Cukuplah kisah kematian Ibrahim anak Rasulullah SAW jadi pelajaran: tatkala gerhana matahari terjadi bersamaan dengan kematian Ibrahim ini, sebagian orang menyangka bahwa gerhana itu karena kematian anak Rasulullah. Namun kata Rasulullah, sesungguhnya gerhana itu adalah hanyalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah semata, tidak ada sangkut pautnya dengan kematian dan kelahiran seseorang.

Wallahu a’lam, mohon maaf jika ada salah-salah kata.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (39 votes, average: 8,77 out of 5)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

Sambut Ramadhan dengan Belajar Quran Bersama BisaQuran