Home / Berita / MUI: Tayangan TV Belum Sesuai Spirit Ramadhan

MUI: Tayangan TV Belum Sesuai Spirit Ramadhan

dakwatuna.com – Jakarta. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai sebagian besar program siaran televisi nasional selama bulan Ramadhan belum sesuai dengan spirit Ramadhan.

Sekretaris Umum MUI, Ikhwan Syam dalam keterangan persnya di Kantor MUI Jakarta, Kamis (3/9) mengatakan, tayangan Ramadhan yang awalnya ditujukan untuk menghibur dan menyemarakan syiar Ramadhan ternyata telah melenceng dari tujuan awal.

“MUI menemukan banyak tayangan yang terindikasi tidak relevan dengan spirit Ramadhan. Meski menggunakan nama Ramadhan, namun muatannya kurang sejalan dengan nilai Islam,” katanya.

Ia mengatakan, ciri umum ketidaksesuaian dengan spirit Ramadhan adalah banyaknya dialog dan adegan yang saling merendahkan, melecehkan, serta makian kasar. Kesemua hal tersebut paling banyak terjadi pada acara komedi yang ditayangkan secara langsung, baik pada saat menjelang buka puasa atau sahur.

“Misalnya pada progam siaran menjelang buka puasa, yaitu program Dak Dik Duk Menunggu Beduk edisi Rabu 26 Agustus pukul 17.35 WIB yang berisi celotehan pembawa acara yang tidak etis yang memberi insinuasi pada organ vital perempuan,” katanya.

Selain itu spirit Ramadhan hanya diserap sebagian program dan hanya sekedar aspek simboliknya. Bahkan bukan simbol Islam, tapi simbol budaya Arab, seperti onta, aksen bicara bergaya Arab, padang pasir dan sebagainya.

Ia menilai tayangan-tayangan tersebut tidak mempunyai muatan edukasi berarti. Kecenderungan yang ditampilkan hanya mengedepankan hiburan lelucon yang disajikan dengan kata-kata kasar dan makian. Hampir semua program terkesan jauh dari semangat Ramadhan.

Ikhwan menyayangkan hal tersebut, karena seharusnya tayangan televisi pada bulan Ramadhan seharusnya berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

“Bulan baik yang harus dijaga, dan jangan sampai membuat umat muslim resah. Jangan pula membuat anak-anak merasa tidak ada bedanya dengan bulan biasa,” kata dia.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Teti Fajriati mengatakan, selama 10 hari pertama Ramadan program televisi belum memberikan nuansa yang agamis.

“Kami harapkan acara berikutnya ada perbaikan. Juga pihak TV memperbaiki program acaranya pada bulan Ramadhan ini,” katanya.

Berikut beberapa program Ramadhan yang dikritik MUI: Trans7 (Opera Van Java Sahur, Bukan Empat Mata yang menampilkan Ustad Hariri yang diperolok-olok Tukul), ANTV: Happy Sahur (Aming memegang kemaluannya), Trans TV: Saatnya Kita Sahur (komedi yang dinilai penuh cemooh, diisi Komeng, Adul dan Olga).

Selain itu di RCTI: Dahsyatnya Sahur, yang mempertontonkan tindakan kekerasan yang dilakukan, sekalipun dengan maksud berkelakar atau bercanda, misalnya memukul kepala salah satu host (Ruben). (T.Ys/ysoel/kominfo)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 7,11 out of 5)
Loading...
Avatar
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Sambut Ramadhan dengan Belajar Quran Bersama BisaQuran

Figure
Organization