Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Panen Pahala di Saat Haid

Panen Pahala di Saat Haid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Panen Pahala di Saat Haid".
Cover buku “Panen Pahala di Saat Haid”.

Judul: Panen Pahala di Saat Haid
Pengarang: Budiman Mustofa, Lc dan Nur Sillaturahmah, Lc
Penerbit: Hasanah Media
Tempat Terbit: Solo
Cetakan I: 2010
Jumlah Halaman: 144 halaman

 

dakwatuna.com – Haid merupakan suatu masa yang pasti dialami oleh setiap wanita normal di setiap bulannya. Bila wanita sedang mengalami haid tidak ada perlakuan istimewa dalam rutinitasnya. Rutinitas yang biasa dilakukannya tetap harus berjalan seperti sedia kala. Pada saat haid, sebagian wanita cenderung mengalami gangguan psikis (bermalas-malasan dalam bekerja dan cenderung sensitif) dan gangguan kesehatan (nyeri berlebihan). Bila hal ini dibiarkan tentu haid akan memengaruhi produktivitas seorang wanita. Hal ini menuntut seorang wanita untuk memiliki persiapan dan pemahaman yang baik tentang haid.

Melalui buku “Panen Pahala Di Saat Haid” pembaca khususnya wanita diajak untuk berpikir positif terhadap haid. Anggapan bahwa haid dapat memengaruhi produktivitas wanita tidak sepenuhnya benar. Bahkan di saat haid seorang wanita dapat meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Selain itu, buku ini juga memberikan informasi seputar haid, tips menghadapi haid, dan memberikan secara gamblang cara beribadah pada masa haid dari hari per hari. Penulis berharap sajian materi pada buku ini mampu membakar semangat setiap wanita untuk melakukan amalan ibadah saat haid.

Menurut ilmu medis, haid adalah terlepasnya endometrium akibat pengaruh perubahan siklus keseimbangan hormonal reproduksi wanita atau pelepasan endometrium yang disertai dengan pendarahan dan terjadi setiap bulannya, kecuali pada saat kehamilan (hal. 24). Haid terjadi terus-menerus setiap bulannya yang dikenal dengan siklus haid. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa aktu haid minimal bagi wanita 1×24 jam dan maksimal 15 hari. Lebih dari waktu tersebut maka tergolong darah istihadhah. Istihadhah adalah darah yang keluar menyerupai darah haid, di luar perhitungan waktu haid yang wajar (hal. 29-30).

Gangguan yang muncul ketika haid perlu dihadapi dengan tenang. Hendaknya Anda berprinsip bahwa gangguan haid hanya gejala bukan penyakit. Gangguan haid ada beberapa macam seperti nyeri haid (dismenorrhea), Pre-Menstrual Syndrome (PMS), dan Amenorrhea (hal.66-67). Gejala-gejala nyeri haid di antaranya kram di bagian bawah perut biasanya menyebar ke bagian belakang, kaki, pangkal paha, dan vulva. Rasa sakit ini disertai dengan PMS, yaitu sekumpulan gejala bervariasi yang muncul antara 7 hingga 14 hari sebelum masa haid dimulai atau saat haid. Gejala tersebut meliputi tingkah laku seperti gelisah, mudah marah, mengidam makanan, dan lainnya. Gejala fisik juga menyertainya seperti perut kembung, sakit kepala, sakit punggung, jerawat, dan lainnya (hal. 70).

Adapun hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi sakit saat haid di antaranya menggunakan ramuan herbal, kompres dengan botol berisi air hangat pada perut yang kram. Jika sakit tidak berkurang oleskan minyak atau balsam pada area yang nyeri, jauhi stres, biasakan makan-makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga. Hal lainnya, kiat untuk menghadapi haid dengan tenang sebagai berikut: perbanyak mengingat Allah SWT, berdzikir, mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hadiri majelis-majelis ilmu, dan sediakan waktu untuk refreshing. Refreshing atau menghibur diri dapat berupa mendengarkan nasyid, membaca buku yang bermanfaat, dan jalan bersama keluarga. Refreshing dilakukan sesaat saja tanpa mengganggu kewajiban lainnya (hal. 102).

Ibadah yang bisa dilakukan saat haid di antaranya: ibadah hati (menjaga hati agar selalu terhubung dengan Allah SWT menjaga ketenangan jiwa saat haid); ibadah fisik (bagi wanita yang sedang haid dapat berupa membantu urusan keluarga atau orang lain seperti menyiapkan sarapan keluarga diniatkan sebagai ibadah); ibadah harta (ibadah tersebut dapat berupa zakat, sedekah, dan lainnya); ibadah lisan (dapat berupa dzikir, dan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah lainnya ketika melihat sesuatu menyenangkan atau menyedihkan); dan ibadah akal (menggunakan akal sesuai dengan tugasnya, menambah ilmu yang bermanfaat dengan membaca buku, atau menghadiri kajian ilmu). Pada buku ini terdapat instrumen penilaian aktivitas ibadah harian yang dapat digunakan pembaca untuk mengukur sejauh mana Anda telah memaksimalkan ibadah saat haid (hal. 116).

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (40 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Adila Rarasthika
Mahasiswi Biologi yang tengah menyelami dunia tulis-menulis. Sampai saat ini tergabung dalam Forum Lingkar Pena untuk melatih kemampuan menulisnya. Tulisan resensinya pernah dimuat di harian ternama Jakarta.

Lihat Juga

Panen Raya Mendukung Terciptanya Kampung Berdaya Di Desa Pangkalan

Organization