Home / Narasi Islam / Sejarah / Gerakan Yahudi Dunamah, dan Cita-cita Negara di Palestina

Gerakan Yahudi Dunamah, dan Cita-cita Negara di Palestina

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cuplikan dari aplikasi Google Earth yang menggambarkan peta Palestina yang terbagi dua akibat dijajah Israel, menjadi Tepi Barat dan Jalur Gaza. (dakwatuna/hdn)
Cuplikan dari aplikasi Google Earth yang menggambarkan peta Palestina yang terbagi dua akibat dijajah Israel, menjadi Tepi Barat dan Jalur Gaza. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com Dunamah secara epistimologi berasal dari bahasa Turki yaitu “Dunamak” yang artinya kembali, balik (murtad). Dunamah berarti pula berkarakter plin-plan. Dalam konteks pemahaman agama, Dunamah adalah mazhab yang didirikan oleh seorang yang bernama Syabtay Zivi. Dunamah dalam konteks politis adalah kelompok Yahudi-Muslim yang mempunyai eksistensi politis sendiri secara khusus. Jika dikatakan Yahudi Dunamah maka mereka adalah orang-orang Yahudi yang bermukim di negeri-negeri Islam, terkhusus mereka yang pada sekitar abad ke tujuh belas Masehi menempati kawasan Salanika. Namun pemerintahan Utsmani memberi istilah Duanamah kepada mereka karena menganggap mereka adalah orang-orang yan dari ajaran agama Yahudi kembali kepada Islam. Istilah Dunamah yang pada akhirnya dilekatkan kepada mereka kelompok Yahudi Andalusia yang meminta perlindungan kepada Utsmani dengan berpura-pura memeluk Islam.

Ada pemahaman di kalangan Yahudi pada saat itu, bahwa di sekitar tahun 1648 M akan muncul Al Masih Al Muntandzhir. Al Masih ini di percaya akan muncul memimpin orang-orang Yahudi sedunia sekaligus memimpin dunia di bawah naungannya dan Al Quds atau Palestina akan menjadi pusat ibukota pemerintahan Yahudi ini. Syabtay Zivi menunggangi kepercayaan itu dan menyatakan bahwa Al Masih tersebut adalah dirinya dan ia mendapatkan dukungan dari kalangan masyarakat Yahudi. Dukungan yang kuat datang dari kelompok Yahudi di Palestina, Mesir mereka yang berada di kawasan Eropa Timur. Perlahan gerakan ini mendapat dukungan semakin kuat dari Yahudi di seluruh pelosok negeri. Bahkan yang semakin memperkuat adalah mereka-mereka dari kalangan para kapitalis yang ditunggangi misi politik dan ekonomi. Hinggga akhirnya gerakan ini masif hampir ke seluruh daratan Eropa. Kalangan Yahudi yang datang dari daerah Adrianapel, Shopia, Yunani dan Jerman. Mereka datang sebagai delegasi yang datang ke Izmir. Syabtay Zivi menemui mereka dan di sana mereka memberi gelar kepada Syabtay sebagai “Malik Al Mulk” yang berarti ”Raja Diraja”.

Gerakan yang Syabtay Zivi lakukan lebih kental dengan nuansa politis dibanding dengan misi agama. Syabtay membagi dunia ini menjadi 38 bagian, di setiap bagiannya ia tentukan seorang raja untuk mewujudkan kerja-kerja misi gerakan Yahudi Dunamah ini. Hal tersebut adalah langkah awal untuk mewujudkan ambisinya menguasai dunia secara keseluruhan. Ia terobsesi dengan kekuasaan Nabi Sulaiman a.s bahkan dengan lantang ia mengatakan bahwa dia adalah keturunan Sulaiman bin Daud penguasa manusia dan Syabtay akan menjadikan Al Quds Sebagai istana kerajaannya.

Semakin hari semakin menjadi-jadi pemimpin gerakan ini membuat pemerintah Utsmani menjadi risih. Syabtay Zivi menyebut dirinya dalam khutbah-khutbahnya sebagai “Sultan Salathin” dan juga bahkan menyebut dirinya adalah “Sulaiman bin Daud”. Sontak kalangan pendeta-pendeta pun resah dengan ulahnya itu. Hingga para pendeta ini menyampaikan yang menjadi keresahannya kepada pihak pemerintah Utsmani. Mereka mengadukan bahwa Syabtay diam-diam melakukan gerakan pemberontakan sebagai salah satu jalan untuk meraih mimpinya mendirikan pemerintahan Yahudi di Palestina.

Pemerintah Utsmani melalui menterinya yang di kenal dengan ketegasannya yaitu Ahmad Koburolo memerintahkan untuk menangkap peimpin gerakan Syabtayisme itu. Maka dijebloskanlah Syabtay Zivi ke dalam penjara. Setelah dua bulan di dalam penjara, Syabtay di pindahkan ke sebuah benteng di daerah semenanjung Gallipoli daerah yang dekat dengan selat Dardanil. Walau pun di penjara, pengaruhnya tak terbendung. Yahudi dari berbagai negeri senantiasa berkunjung untuk menemui Syabtay Zivi di penjara. Sultan Utsmani memberikan izin kepada istri dan sekretaris pribadi. Akhirnya penjara seperti bukan penjara saja. Akhirnya Syabtay di adili di Adrianopel. Dalam masa proses pengadilan, Sultan membentuk dewan ilmiah adminsitratif yang di ketuai oleh wakil Perdana Menteri Utsmani. Ulama besar yang ikut menjadi bagian dari dewan ilmiah ini adalah Muhammad Afandi Wanali yang juga menjabat sebagai imam istana.

Di dalam pengadilan hakim bertanya kepada terdakwa Sabtay Zivi “kau menyatakan dirimu adalah Al Masih. Maka perlihatakanlah pada kami mukjiztmu. Kami akan melepas pakaianmu dan kami arahkan anak panah yang akan dilakukan oleh pemanah hebat ke tubuhmu. Jika anak panah tidak menyentuh tubuhnmu, Sultan akan menerima pengakuanmu”. Pertanyaan hakim ini merupakan sebuah tantangan kepada Syabtay Zivi sekaligus strategi membongkar kebohongan Syabtay Zivi. Syabtay menolaknya dan dia mengaku bahwa itu adalah fitnah. Hakim pun membuat keputusan untuk membebaskan Syabtay Zivi dan menawarkan kepadanya untuk masuk ke dalam Islam menjadi seorang muslim. Syabtay pun masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Aziz Afandi. Setelah masuk Islam ia meminta izin kepada Sultan untuk mengajak orang-orang Yahudi mengikuti langkahnya masuk ke dalam agama Islam dan Sultan pun memberikan izin. Izin ini lambat laun diselewengkan. Alih-alih mengajak Yahudi masuk ke dalam Islam namun yang dilakukannya adalah semakin gencarnya ia mengajak orang-orang untuk mengimani bahwa dirinya adalah Al Masih. Bahkan ia menyerukan betapa pentingnya kesatuan di kalangan Yahudi. Secara penampilan luar ia mengaku dan menampikan diri seolah-olah sebagai orang Islam namun secara hakikat mereka memendam keimanan Yahudi dengan penyelewengan kesesatannya. Di depan orang-orang Utsmani mereka menampakkan keshalihan dan ketakwaan. Namun secara diam-diam mereka bekerja dengan gigih dalam kerangka gerakan zionisme.

Pada akhirnya pemerintah Utsmani tidak tinggal diam atas apa yang dilakukan oleh Syabtay Zivi. Dan memberikan perintah untuk menangkap kembali Syabtay Zivi. Syabtay Zivi tertangkap basah bersama beberapa pengikutnya di Quri Jasyimah. Dalam tempat peribadatan mereka sedang memakai pakaian Yahudi dan dikelilingi oleh perempuan yang sedang menenggak minuman keras dan menyanyikan lagu-lagu ruhani Yahudi serta di dalamnya dibacakan Mazmur. Setelah di tangkap, karena khawatir jika Syabtay di pancung maka para pengikutnya di Spanyol mungkin akan melakukan khurafat dengan memepercayai bahwa Syabtay Zivi telah diangkat ke langit sebagaimana yang terjadi pada Isa bin Maryam. Syabtay Zivi pun dihukum dengan cara dibuang ke kota Dulasajanu sebuah kota di Albania. Hal ini dilakukan ketika musim panas pada tahun 1673 M. akhirnya ia meningggal di tempat itu setelah lima tahun berada di tempat pembuangan. Namun aqidah Syabtayyah atau Syabtayisme atau di kenal juga dengan Sabbatean ini terus hidup di dalam kelompok Salonika (sebuah wilayah yang sekarang menjadi bagian Yunani Timur). Pengikutnya senantiasa memegang aqidah ini dan semakin liar dalam melakukan makar-makar, fanatisme, dan melakukan berbagai tindakan yang bertentangan dengan moral manusia. Jumlah mereka semakin bertambah hingga mencapai 50.000 dan mereka senantiasa merongrong kehilafahan Utsmani pada saat itu.

Syabtay Zivi membentuk aqidah Dunamah dalam delapan belas materi. Di materi yang ke enam belas dan ke tujuh belas sangat terlihat sisi kejahatan mereka. Materi tsebut berisi tentang kewajiban orang-orang Dunamah untuk senantiasa mengikuti adat dan kebahasaan orang Turki bahkan mereka rela untuk ikut berpuasa pada bulan Ramadhan. Tindakan ini dilakukan demi meminimalisir kecurigaan terhadap gerakan mereka. Namun di materi yang ke tujuh belas mereka di larang dengan keras untuk menikah dengan orang Turki (kaum muslimin).

Sabtay Zivi adalah Yahudi yang mempelopori kepercayaan gerakan untuk kembalinya orang-orang Bani Israel ke Palestina. Maka dalam konteks cita-cita mereka untuk menempati Palestina bisa dikatakan bahwa ini adalah misi politik bukan hanya misi keagamaan. Begitu jelas secara politis mereka berkehendak menduduki bahkan ingin menjadikan Al-Quds sebagai pusat kendali pemerintahan mereka.

Gerakan ini mempunyai peran besar dalam menghancurkan tatanan masyarakat Utsmani. Mereka senantiasa menyerukan kekufuran berupa pemikiran-pemikiran sesat yang aneh. Mereka senantiasa mengajak penghapusan jilbab wanita-wanita muslimah. Mereka pun menyerukan free-sex laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah. Pemikiran-pemikiran mereka banyak mempengaruhi kalangan muda Utsmani. Mereka pun memainkan peran dalam mendukung setiap kekuatan yang memusuhi Sultan Abdul Hamid II. Mereka meracuni pemikiran perwira militer muda. Mereka memegang kekuatan media dengan menguasai Koran dan jurnal. Mereka pun masuk dengan menyusup mencengkeram perekonomian dan sektor-sektor lain dalam tubuh pemerintahan Utsman.

Mereka pun melakukan kerja sama dengan para anggota senior freemasonry untuk menyingkirkan Sultan Abdul Hamid II dari kursi pemerintahan. Akhirnya dibuatlah skenario perpecahan di kalangan militer. Dengan menggunakan istilah-istilah seperti demokrasi, kemerdekaan, kebebasan dan gerakan anti terhadap Abdul Hamid II yang mereka anggap sebagai pemerintah yang diktaktor. Namun di sisi yang sebenarnya adalah bahwa Abdul Hamid II adalah penghalang bagi mereka untuk berhijrah ke Palestina. Karena sepanjang pemerintahan Sultan Abdul Hamid II (Sultan dan khalifah terakhir) tak ada kata kompromi terkait urusan itu.

Maka jelas lah hari ini kita menyaksikan berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina. Ini adalah merupakan salah satu bagian yang tak lepas dari bagian manifesto keberhasilan gerakan mereka. Ironi dan sangat menyesakkan dada realita yang terjadi adalah sudah tak terbantahkan lagi bahwa hari ini kita telah kehilangan jumlah nyawa umat muslim yang sangat banyak di sana yang telah syahid digempur oleh Israel dari generasi ke generasi.

Gerakan Yahudi Dunamah tidak hanya berhenti di situ. Setelah meruntuhkan Khilafah dan mendirikan Israel di Palestina mereka senantiasa melakukan gerakan yang menjadi cita-cita Syabtay Zivi yang kemudian pengaruh ini di kenal dengan Sabbatean. Henry Makow Ph.D banyak mengupas tentang peran Yahudi Dunamah bahkan perannya yang terhimpun dalam perkumpulan illuminati, dalam artikelnya yang berjudul “Turkey’s Donmeh are the Illuminati Prototype” Henry Makow Ph.D berkata : “Mereka adalah orang-orang Yahudi Kabalis, setengah – Yahudi dan kripto Yahudi. Mereka tampil bersama generasi pengikut-pengikut setan dari semua latar belakang etnis lainnya. Mereka membentuk sebuah masyarakat rahasia Masonik atau Kabalis dan berpartisipasi dalam ritual setan seperti dalam pengorbanan manusia. Tidak ada pertanyaan bahwa pemuja setan ini mengontrol Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Mungkin juga termasuk mengontrol Rusia, Cina, India, Jepang dan Amerika Selatan. Hampir semua Presiden Amerika adalah Illuminati. Obama, Bush, Clinton, Reagan, Carter, Johnson dll.  Semua calon Presiden harus anggota klub ini. Herman Kain seorang Guru Mason dalam Prince Hall Masonry. Jadi Obama. Bush dan Kerry keduanya sama-sama anggota Skull and Bones. [Brotherhood of Death]. Illuminati mewakili Lucifer dan mereka telah lebih dari cukup berkuasa dalam berbagai hal. Mereka mengendalikan bank dan perusahaan, pemerintah, pendidikan dan media massa. Kita dewasa ini berada dalam tahap akhir dari sebuah konspirasi jangka panjang.”

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Haerudin Muhammad Zain
Ketua Yayasan Profetik Muda Indonesia.

Lihat Juga

Sebelum Lengser, Obama Diminta Mantan Presiden AS Ini Akui Negara Palestina