Home / Berita / Internasional / Asia / Tingkatkan Pelayanan Bagi Turis Muslim, Jepang akan Gelar Pameran Halal

Tingkatkan Pelayanan Bagi Turis Muslim, Jepang akan Gelar Pameran Halal

Kebab halal yang tersedia di kafetaria di Universitas Kyoto. (jakartashimbun)
Kebab halal yang tersedia di kafetaria di Universitas Kyoto. (jakartashimbun)

dakwatuna.com – Jepang.  Merespon kenaikan turis muslim, sebuah pameran halal internasional akan digelar di Prefektur Chiba, Jepang, pada 26-27 November mendatang. Pameran Halal Jepang 2014 ini direncanakan berlokasi di convention center Makuhari Messe.

Pameran tersebut digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan makanan halal, memberi informasi mengenai trend pasar terkini terkait turis muslim, serta memungkinkan muslim Jepang memberi masukan terkait apakah Jepang sudah menjadi negara ramah muslim.

Jumlah wisatawan dari negara mayoritas muslim naik tajam tahun lalu berkat pelonggaran syarat visa bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk pembebasan visa dan masa berlaku visa yang lebih lama.

Menurut data Organisasi Turis Nasional Jepang 2013, pelancong dari Malaysia naik 35,6% dibanding tahun sebelumnya menjadi 176.500 orang. Sementara itu, wisatawan dari Indonesia mencapai 136.800 atau naik 34,8%.

Untuk merespon lonjakan tersebut, bandara besar seperti Narita berusaha membuat turis muslim merasa lebih diterima. Di antaranya dengan menyediakan mushalla dan makanan pesawat yang bebas babi dan alkohol.

Meski demikian, seperti ditulis Japan Times (26/09/2014), bagi Executive Managing Director Makuhari Messe Yoshichika Terasawa, upaya membuat Jepang menjadi lebih ramah muslim dinilai masih tak cukup.

“Banyak muslim mengeluh saat tiba di Jepang mereka tak tahu bisa shalat di mana, atau hanya sedikit informasi yang tersedia mengenai bahan di label makanan. Saya harap ajang seperti ini bisa membantu kami lebih sadar mengenai kebutuhan muslim, sama seperti kita memperlakukan vegetarian saat ini, contohnya,” kata Terasawa.

Burhanuddin Md. Radzi, salah satu penyelenggara pameran, berpendapat bahwa bagi wisatawan muslim jumlah restoran bersertifikat halal di Tokyo masih sedikit. Bagaimanapun juga, ia menekankan bahwa Jepang berpotensi menjadi pemain besar di pasar halal.

Menurut Radzi, orang Jepang memiliki kaitan positif dengan makanan halal, terutama soal higienitas. Hal ini sejalan dengan ide kebersihan yang sangat penting di makanan halal.

“Menurut saya tak sulit bagi restoran Jepang belajar membuat hidangan mereka bersertifikat halal,” kata Radzi. Ia mencontohkan Tokyo Banana, sponge cake dengan rasa dan bentuk pisang yang sering dijadikan oleh-oleh dari Jepang.

“Camilan ini sangat terkenal di kalangan turis, namun tidak halal karena bahannya mengandung gelatin. Anda bisa membuatnya bersertifikat halal dengan menggunakan bahan nabati. Saya yakin perusahaan Jepang bisa mencari solusi dengan keterampilan mereka,” ujar Radzi.  (detik/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Survival di Thailand, Perjuangan Mencari yang Halal