Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Belajar dari Bunda Hajar

Belajar dari Bunda Hajar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Erina Prima)
Ilustrasi (Erina Prima)

dakwatuna.com

 

Berlari ia tujuh kali; Dari shafa lalu ke marwa kembali,

Mencoba terus mencari; Berharap telaga jernih kan disusuri.

 

Tujuh kali ia menjejak; Dari marwa lalu ke Shafa beranjak,

Bukanlah hal yang gampang; Di tengah gurun yang sangat gersang.

 

Tujuh kali ia berlari; Dari Shafa lalu Marwa kembali disusuri,

Bukanlah hal yang mudah dilakui; Bagi seorang wanita yang tengah menyusui.

 

Andai ia adalah kita; Belum tentu Tujuh kali kan mencoba,

Mencari air dalam kepanasan; Berteman tangis bayi yang tengah kehausan.

 

Andai ia adalah kita; Belum tentu Tujuh kali kan mencoba,

Sebab sekali pastilah kan terpikir; Tak mungkin lagi di sana ada air mengalir.

 

Namun ia bukanlah kita..

Ia adalah semulia-mulia wanita,

Dengan iman yang sungguh jelita,

Dan kegigihan yang indah tertata.

 

Dia adalah wanita agung,

Yang keyakinannya sekokoh gunung,

Kesungguhannya tak dapat dibendung,

Ketakwaannya sulit dihitung.

 

Wanita yang dengan mantap berujar pada sang suami;

“Andai ini perintah Allah, Maka pergilah.. Sungguh Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami..”

 

Adalah Bunda Hajar…

Yang darinya kita patut belajar,

Tentang hakikat sebuah ikhtiar,

Tentang pentingnya menyemai sabar,

Tentang iman yang indah terpancar..

 

 

Maka air pun memancar…

Bukan..!!! bukan dari bukit yang ia kejar,

Bukan pula dari lintas yang ia pijak,

Namun dari hentak sang bayi yang tengah menjejak.

 

Air mengalir deras; Bukan dari ikhtiar yang ia lintas,

Namun dari tempat lain yang tak berbekas,

Begitulah indah Allah membalas…

 

Dari Bunda Hajar kita belajar; Tugas manusia menyempurnakan ikhtiar,

Soal hasil, biar Allah yang melukis; Soal Takdir, biar Allah yang menggaris.

 

Dari Bunda Hajar kita patut meneladan; Dalam ikhtiar harus ada kesungguhan,

Soal Hasil, biar Allah yang mencatat; Soal Takdir, biar Allah yang memahat

 

Boleh jadi hasil tak lewati jalur ikhtiar kita,

Namun datang dari tempat yang tak dipinta.

 

Boleh jadi takdir tak melintas dari usaha yang diukir,

Namun hadir dari tempat yang tak pernah kita pikir.

 

Ikhtiar terus kita sempurnakan; Biarlah hasil Allah yang tentukan,

Sebagaimana Dia yang telah mencipta; Takkan mungkin Ia menyia-nyiakan kita.

 

Berikhtiarlah dengan Kesungguhan yang kuat,

Sungguh, Allah, Rasul dan para malaikat,

serta orang-orang mukmin pun tengah melihat.

 

Layaknya sebuah mahfuzhat; Yang indah pernah tercatat,

“Sesiapa yang bersungguh, pasti ia kan mendapat”

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Jefry Akase
Pegawai Negeri Sipil.

Lihat Juga

Belajar dari Sato san, Seorang Muslim Penduduk Asli Jepang