Home / Suara Redaksi / Editorial / Para Perokok Lebih Mampu Untuk Berkurban

Para Perokok Lebih Mampu Untuk Berkurban

Spanduk sindiran merokok dan berkurban. (twitter)
Spanduk sindiran merokok dan berkurban. (twitter)

dakwatuna.com – Berkurban pada hari raya Idul Adha merupakan ibadah yang dilaksanakan sekali dalam setahun. Tapi walaupun hanya sekali setahun, banyak umat Islam yang masih enggan melakukannya.

Biasanya, ada saja alasan yang dilontarkan bagi yang tidak ingin berkurban, seperti tidak memiliki uang atau tabungan. Ironisnya, banyak masyarakat perokok yang mudah sekali membeli rokok namun menyisihkan sedikit saja uangnya untuk berkurban tidak dilakukan. Padahal, semestinya perokok lebih mampu untuk membeli hewan kurban.

Dengan merokok satu hari dapat menghabiskan Rp 12 ribu per bungkus. Jika selama satu bulan maka akan menghabiskan uang sejumlah Rp 360 ribu. Sedangkan jika selama setahun uang yang dihabiskan untuk merokok sebanyak Rp 4,32 juta. Begitupula ketika seseorang dengan mudahnya membeli sebuah alat telekomunikasi yang harganya jutaan rupiah, walaupun alat telekomunikasi yang lama terbilang masih layak pakai, namun ketika keluar merek baru, tanpa pertimbangan yang cukup matang langsung dibeli.

Sebenarnya, jika kita ingin berkurban seekor kambing atau domba, maka kita dapat mencicilnya selama setahun, setiap hari hanya dengan menyisihkan uang sekitar Rp 7 ribu maka dalam sebulan akan terkumpul sekitar Rp 210 ribu, jika dikumpulkan selama setahun, maka akan didapatkan uang sebesar Rp 2,52 juta. Dengan hitungan perkiraan tersebut maka sebenarnya perokok lebih mampu untuk membeli hewan kurban, karena untuk membeli rokok saja mampu mengapa untuk berkurban tidak?

Maka pantaslah seringkali kita temukan ilustrasi atau tulisan sindiran di dunia maya yang mengungkapkan ketidakmampuan seseorang dalam berkurban dengan kalimat “Qurban Setahun Sekali Bilang Gak Mampu??!!….” (abr/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (52 votes, average: 8,62 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Rohim
Seorang suami dan ayah
  • okabasi doma

    Anda lupa? PAGAR halaman NERAKA itu dihiasi dengan sesuatu yg sangat mengagumkan manusia b a h k a n mampu membuat manusia terbuai hingga lupa segalagalanya, sebaliknya SURGA pagarnya compang camping, tidak sedap dipandang mata, membosankan dan jenuh sejauh mata memandang.
    Inilah UJIAN Tuhan kepada manusia, sekaligus membiarkan IBLIS melakukan apa saja yg mereka maui, untuk menjebloskan manusia ke lembah kesengsaraan dan kehinaan baik di dunia dan akerat nanti.
    Merokok itu MEMBUNUH manusia (kamu/anda/kalian/saya/mereka) berarti siapa saja yg MEROKOK identik dengan melakukan BUNUH DIRI dan sudah barang tentu bunuh diri ini dilarang keras oleh Islam, tetapi mengapa umat Islam yg GEMAR menghisap asap tembakau(rokok) yg terbakar belum juga memahaminya?

    Sudah diterangkan diatas, maka dengan mudah dapat dikatakan, bahwa TEMBAKAU yg dibentuk menjadi batangan ROKOK merupakan satu dari sekian banyak hiasan yg menempel di pagar neraka, dan sudah barang tentu sangat menggiurkan manusia.

    Menurut sangkaan saya , Umat Islam saat ini sedang dalam keadaan seperti semut yg sarangnya dibongkar, bertaburan kesana kemari dengan membawa perasaan yg RESAH dan GALAU dan mengarah ke keadaan yg membosankan dan kejenuhan, mengapa?
    jawabannya : ketiadaan pemimpin Islam yg mampu menyelamatkan umat Islam yg saat ini dalam kubangan kenistaan/ kenajisan/kesengsaraan/kemiskinan/kebodohan dan lainnya yg semakna, antara lain kegemaran merokok itu sendiri, yg sudah membuat lupa daratan hingga lalai untuk menunaikan amal amal sunah(berkurban) bahkan amal amal yg wajib.

Lihat Juga

Mahasiswa UIN Jakarta melakukan penggalangan Surat untuk Presiden di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (Rabu, 18/5/2016). (Bagja Nugraha/UIN Jakarta)

Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mahasiswa UIN Jakarta Galang Aksi ‘Surat Untuk Presiden’

Organization