Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ada Apa dengan Hati?

Ada Apa dengan Hati?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (flickr.com/photos/muslimpage)
Ilustrasi. (flickr.com/photos/muslimpage)

dakwatuna.com Berbicara tentang cinta berarti berbicara tentang aneka keindahan dan kesenangan hidup di dunia. Jatuh cinta itu wajar ketika ditanggapi oleh hal-hal yang tidak dimurkai Allah. Cinta juga tidak melulu pada lawan jenis, tapi cinta juga bisa dimaknai dengan ketertarikan seseorang kepada suatu objek baik itu berupa benda hidup ataupun benda mati, seperti yang tercantum pada QS. Ali Imran ayat 14 yang berbunyi, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Redaksi ayat di atas menegaskan bahwa dalam tiap diri manusia telah ditanam benih-benih cinta yang sewaktu-waktu bisa tumbuh ketika menemukan kecocokan jiwa. Cinta dalam Islam tidak dilarang, bahkan cinta merupakan anugerah yang harus disyukuri dengan mengekspresikan dan membinanya sesuai norma-etik syariat sehingga arah cinta tetap lurus menuju ridla-Nya.

Salah satu kecintaan pada anak adalah kisah Nabi Ibrahim dan Bunda Hajar pada Ismail. Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Bunda Hajar tidak sama sekali melayangkan protes. Sebagai Ibu yang sangat menyayangi anaknya, ia (tetap) sadar bahwa pemilik Ismail yang sejati hanyalah Allah. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, ia merelakan Ismail untuk dijadikan sesembelihan. Bunda Hajar memang bukan wanita biasa. Ia adalah sosok wanita yang luar biasa. Jangan sampai karena kecintaan kepada sang anak menjadikan manusia lupa akan kebesaran Ilahi. Ketika kita lebih mencintai dunia, termasuk sang anak, lebih dari cinta kita kepada Allah maka tunggulah keputusan-Nya. Cinta Bunda Hajar pada Ismail membuat kekuatan yang luar biasa untuk bisa berlari bukti Shafa Marwah selama 7 kali karena melihat Ismail kehausan hingga akhirnya sumber air keluar dari pukul kaki Ismail.

Sebaliknya, ketika cinta atau kecintaan kepada makhluk, benda, bisnis serta ragam kesenangan dunia yang lain tidak disandarkan kepada Allah dan rasul-Nya sehingga melalaikannya untuk beribadah kepada Allah SWT niscaya akan tersebar fitnah dan bencana di atas muka bumi. Cinta seorang Fir’aun terhadap tahta menjadikannya penguasa yang semena-mena terhadap rakyatnya, cinta Qarun terhadap harta menjadikannya lupa bersyukur, cinta Qabil terhadap wanita yang bukan menjadi haknya telah membutakan matanya sehingga harus membunuh saudaranya. Di saat inilah cinta mengubah suka cita menjadi nestapa, mengubah amanat menjadi khianat, dan akhirnya mengubah nikmat menjadi laknat.

Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa cinta kita merupakan suatu kebaikan atau suatu keburukan? Masyarakat Rabbani selalu menjadikan Allah sebagai ukuran kebaikan.

Menikah; solusi bagi para pemuda untuk menyikapi rasa cinta kepada lawan jenis.

“Tidak ada solusi bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah.”

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Pernikahan merupakan suatu hal yang perlu dipersiapkan, antara lain:

1. Persiapan Maliyah (harta)

Islam tidak menghendaki kita untuk berpikiran secara materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Namun, bagi seorang calon suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka diutamakan dan diupayakan adanya kesiapan calon suami untuk menafkahi bagi istri dan keluarganya nanti. Untuk wanita, diperlukan juga kesiapan untuk mengelola keuangan keluarganya nanti. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi keluarga dengan sebaik-baiknya, maka Allah SWT akan mencukupkan rizki kepadanya.

”Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan member kemampuan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nur: 32).

2. Persiapan Ilmu

Menikah merupakan amalan yang sangat mulia di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan merupakan rangkaian dari ibadah, maka menikah dalam Islam bukan hanya untuk bersenang-senang atau mencari kepuasan kebutuhan biologis semata. Akan tetapi seharusnyalah pernikahan dilakukan untuk menimba masyarakat kecil yang shalih yaitu rumah tangga dan masyarakat luas yang shalih pula sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman As Shalafus Shalih.

Perlu diketahui bahwa sesungguhnya pasangan suami isteri dalam kehidupan berumah tangga akan menghadapi banyak problem dan untuk mengatasinya perlu ilmu. Dengan ilmu, pasangan suami istri tahu apa tujuan yang akan dicapai dalam sebuah pernikahan yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dan dalam rangka mencari ridha-Nya semata.

Di samping itu juga dengan ilmu sepasang suami-istri sama-sama mengetahui hak dan kewajibannya. Sehingga jalannya bahtera rumah tangga akan harmonis dan baik.

Suami dan istri juga diamanahi Rabb-Nya untuk mendidik anak keturunannya agar menjadi generasi Rabbani yang tunduk pada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah. Agar keturunan yang terlahir dari pernikahan tersebut tumbuh di atas dasar pemahaman, dasar-dasar pendidikan imand dan ajaran Islam sejak kecil sampai dewasanya. Sungguh ini merupakan tugas yang berat dan tentu saja butuh butuh ilmu.

Dari sinilah terlihat betapa pentingnya ilmu sebagai bekal bagi kehidupan rumah tangga muslim.

3. Persiapan Jasadiyah (Fisik)

Yang terakhir yang tidak kalah penting dalam mempersiapkan tubuh kita untuk memasuki dunia pernikahan. Mengetahui alat-alat reproduksi wanita dan cara kerjanya sangat penting bagi kita. Memeriksa kesehatan alat-alat reproduksi juga penting agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan setelah menikah.
Awal-awal, periksa dan konsultasilah ke dokter atas termungkinnya segala penyakit tubuh, lebih-lebih yang terkait kesehatan reproduksi. Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi dan rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah juga hal yang utama.

Fisik kita dan pasangan bertanggung jawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya dan staminanya sejak sekarang. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tanggung jawab jajan sembarangan, jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. “

Jika belum mampu mempersiapkan ketiga hal tersebut, maka yang perlu dilakukan adalah mempersiapkannya bukan memikirkan siapa jodoh kita. Alangkah indah bagi dua insan yang mampu menjaga kesucan hati, yang menikah dengan hati yang masih suci. Oleh karena itu, bagi yang masih sendiri mari sibukkan diri. Selalu libatkan Allah dalam segala hal, termasuk cinta. Tempatkan cinta kepada Allah di atas segalanya.

[1] Uraian dari Kajian Akhlaq oleh Ustadz Nizam dan Ustadzah Floweria

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada yang juga merupakan santri Rumah Kepemimpinan PPSDMS Angkatan 7. Salah satu cita-citanya adalah menulis buku-buku inspiratif yang dapat mendekatkan pembacanya kepada Allah dan bersemangat dalam berdakwah.
  • Sri Fatimah

    Nice :)

Lihat Juga

ilustrasi (jilbabcantig.blogspot.com)

Murabbiyah, Ta’arufkan Akhwat yang Siap Menikah