Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjauhkan Pelajar dari Bahaya Rokok

Menjauhkan Pelajar dari Bahaya Rokok

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kampanye anti rokok (ilustrasi).  (bantenposnews.com)
Kampanye anti rokok (ilustrasi). (bantenposnews.com)

dakwatuna.comRokok, “barang yang berbahaya“ ini sangat dekat dengan kita. Untuk mendapatkannya kita tidak perlu bersusah payah. Di mana-mana orang memperjualbelikannya dengan mudah. Tidak ada aturan yang membatasi pengedaran “barang berbahaya” ini. Siapapun termasuk anak- sekolah dengan bebas membeli rokok seperti halnya membeli kacang goreng saja. Promosi rokok dilakukan oleh perusahaan rokok secara“ terstruktur, sistematis dan massif” sampai ke pelosok negeri. Iklan rokok sering hadir ditelevisi yang mengambarkan sosok “laki-laki perkasa“ sekalipun diputar pada tengah malam. Iklan besar (billboard) rokok bergambarkan “laki-laki hebat” berdiri kokoh di kota-kota besar, promosi rokok juga berserakan di koran atau majalah bahkan event olah raga , seni budaya dan pertunjukan musik yang banyak disponsori oleh perusahan rokok. Hal inilah yang menghipnotis banyak orang dan termasuk pelajar untuk mencoba dan “ menikmati” barang yang berbahaya ini.

Yang menghisap rokok tidak hanya orang dewasa saja, tetapi juga orang tua renta dan anak-anak di bawah usia, bahkan kaum hawa yang “ berlagak modern “ juga terperdaya dengan barang ini sebagai gaya hidup (life style) yang mereka dewakan. Fenomena ini akan terlihat jelas pada tempat-tempat hiburan seperti diskotik, klub malam, mall dan coffee shop. Mereka dengan “sukarela “ merancuni diri dan masa depannya. Ironinya, orang yang banyak tahu tentang bahaya rokok, seperti pemuka agama, guru dan dokter justru sebagian di antara mereka tidak sanggup berlepas diri dari kebiasaan merokok. Mereka tidak memberikan keteladanan yang nyata pada masyarakat tetapi justru “mendorong” orang lain untuk mengikutinya dengan mempertontonkan gaya hidup yang tidak sehat tersebut.

Yang sangat mengkhawatirkan kita, adalah bahaya rokok juga menghampiri para pelajar di negeri ini. Mereka dengan bangga tanpa risih merokok di hadapan orang ramai bahkan ada di antara mereka yang sedang berpakaian seragam atau waktu jam sekolah. Yang lebih parah lagi sudah ada di antara mereka kecanduan berat dan rokok sudah menjadi “kebutuhan rutin” yang harus dipenuhinya setiap hari. Maka tidak jarang kita mendengar ada pelajar yang tidak bayar SPP disebabkan uang sekolah yang diberi orang tuanya dibelikan pada rokok.

Sejatinya, usia belajar yang tengah dilalui oleh anak-anak kita harus terhindar dari bahaya rokok . Dalam merancang dan mempersiapkan masa depan yang gemilang, mereka harus bersungguh-sungguh belajar dan berusaha menjauhi perbuatan yang membahayakan dirinya seperti halnya merokok. Untuk itu orang tua dan guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk membantu anak-anak agar terhindar dari bahaya rokok. Tentu, semua kita berharap agar generasi ke depan yang akan melanjukan perjuangan kita adalah generasi yang sehat dan kuat, baik secara lahiriah ataupun batiniah. Generasi emas yang akan memberikan sesuatu yang luar biasa dalam membangun persada ini dengan prestasi yang indah.

Bahaya Nyata Rokok

Semua kita sepakat bahwa merokok akan membawa kerusakan pada diri dan keluarga seseorang. Banyak bahaya yang akan ditimbulkan akibat seseorang merokok, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan. Bisa saja ada orang, menyatakan bahwa rokok juga ada manfaatnya seperti yang dirasakan seniman dalam mencari inspirasi atau para sopir agar konsentrasi dalam menjalankan kendaraannya. Namun ketahuilah bahwa sesungguhnya hal itu terjadi disebabkan oleh kecanduan yang membelit pikiran dan melilit perasaannya akibat pengaruh nikotin, tar dan zat aditif lainnya yang terdapat dalam kandungan sebatang rokok. Sebenarnya tanpa merokokpun seniman atau sopir dapat menjalani profesinya tentu dengan adanya kenyakinan yang mantap bahwa merokok tidak memberikan apa-apa kecuali mudharat yang amat besar pada dirinya.

Secara ekonomi, nyata sekali mudharatnya bagi seorang perokok. Merokok sama halnya dengan sengaja “membakar” uang setiap hari yang tentu akan merugikan diri dan keluarganya apalagi dalam kondisi ekonomi yang serba sulit. Contoh seseorang yang menghabisi rokok satu bungkus satu hari, apabila satu bungkus harga rokok 15.000, lalu dikalikan 30 hari maka dalam satu bulan, uang yang harus dikeluarkan 450.000. Bagaimana seandainya mereka merokok , satu hari itu sampai dua bungkus atau lebih maka tentu biaya hidupnya semakin membengkak. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Secara kesehatan, jelas bahaya yang ditimbulkan oleh rokok. Ahli kesehatan sepakat mengatakan rokok sangat berbahaya, tidak hanya bagi orang yang merokok (perokok aktif) tetapi juga bagi perokok pasif (orang yang menghisap asap rokok dari orang lain) . Perusahaan rokok sendiri pun jujur menyebutkan bahwa yang mereka jual itu adalah “barang berbahaya” yang akan bisa membunuh anda secara perlahan-lahan seperti yang dituliskan pada bungkus rokoknya seperti tulisan, rokok dapat menyebabkan terjadi serangan jantung, kanker, impotensi dan mengangu kehamilan. Bahkan kini tagline tersebut disandingkan dengan gambar seram yang memperlihatkan bahaya mematikan akibat menghisap rokok. Kita sering mendengar ada orang yang mati secara mendadak karena serangan jantung diakibat oleh ulah rokok yang diisapnya selama ini.

Menjauhkan Anak dari Rokok

Demikianlah bahaya rokok yang nyata dalam kehidupan seorang perokok. Untuk itu kita harus menjauhkan anak-anak dari bahaya merokok. Jangan kebiasaan jelek “merokok” kita wariskan pada anak cucu kita. Ada beberapa usaha yang dapat kita lakukan secara berkesinambungan dalam menjauhkan pelajar dari bahaya rokok. Pertama, memberi pemahaman pada anak atau pelajar akan bahaya merokok. Orang tua sejak dini harus menyampaikan pada anak akan bahaya rokok dan berusaha menjauh dari perbuatan tersebut. Hal ini tentu dengan bahasa yang mudah dimengertinya. Di sekolah guru akan memperkuat pemahaman anak berkaiatan bahaya merokok dengan bahasa yang logis dan mengemukan bahaya konkret dari merokok itu. Kedua, orang tua dan guru harus memberi teladan pada anak, bahwa dirinya juga tidak merokok. Satu hal yang mustahil bagi orang tua dan guru yang melarang anaknya merokok sementara dia tetap merokok di hadapan anaknya atau anaknya tahu bahwa orang tua dan gurunya itu juga termasuk seseorang yang perokok. Ketiga, Orang tua harus membatasi pergaulan anaknya. Sering kebiasaan merokok anak disebabkan oleh ajakan dari temannya. Istilah keren yang dikemukakan temannya seperti,” tidak laki kalau tidak merokok”, Perokok adalah laki-laki sejati” atau tidak anak gaul kalau tidak merokok. Hal ini yang menyebabkan anak untuk mencoba merokok bahkan sampai kecanduan. Keempat, memberikan sanksi yang tegas dan tepat. Di sinilah kepiawaian orang tua dan guru dalam mengatasi persoalan berat ini. Dengan memberikan sanksi diharapkan anak dapat memahami bahwa merokok dan akan berusaha untuk menjauh dirinya dari sebatang rokok. Semoga.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Banyak petani yang beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan.  (satelitpost.co)

Belajar dari Para Petani