Home / Berita / Opini / Selamat Tinggal Tahun Baru Islam, Selamat Datang Hari Santri Nasional

Selamat Tinggal Tahun Baru Islam, Selamat Datang Hari Santri Nasional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Semarak Perayaan Tahun Baru Islam (foto: MIN Habirautengah)
Semarak Perayaan Tahun Baru Islam (foto: MIN Habirautengah)

dakwatuna.com Tak terasa, kini sudah memasuki bulan Dzulhijah. Tanggal 1 (satu) Muharam tinggal menghitung hari. Kalau syiar Idul fitri perlahan dimatikan dengan melarang aktivitas takbir keliling, tapi anehnya di tahun baru masehi malah disyiarkan dengan menggelar konser atas nama rakyat di beberapa titik Ibu Kota.

Kondisinya mungkin akan sama dengan bulan Muharam yang merupakan tahun baru Islam, pun sedikit dan perlahan dimatikan jika benar diresmikannya 1 (satu) Muharam juga menjadi Hari Santri Nasional. Tahun baru Islam yang sudah mendunia bisa jadi syiarnya akan kalah dengan Hari Santri Nasional yang bersifat lokal ke Indonesiaan.

Perjuangan hijrah Rasulullah dan para sahabat tak akan bisa disamakan dengan perjuangan para santri, baik substansi dan semangatnya. Semua Kaum muhajirin menjadi pembela setia Rasulullah dengan ilmunya, hartanya serta Jiwanya. Tapi meskipun jumlah santri di Indonesia lebih banyak berkali-kali lipat tetap tidak akan sebanding dengan perjuangan para muhajirin.

Tanpa adanya Hari besar tandingan saja, syiar 1 (satu) muharam perlahan semakin tenggelam, karena banyak yang belum mengetahui esensi, serta historis dari peristiwa hijrah Rasulullah. Kadang peringatan 1 (satu) Syura yang identik dengan hal mistis menjurus pada kesyirikan (ngalap berkah, larung laut, pencucian benda pusaka keraton dll) yang lebih diminati daripada peringatan 1 (satu) muharam versi Islam yang sebenarnya.

Dengan tidak bermaksud merendahkan, faktanya banyak santri yang ketika keluar dari pondok, kelakuannya sama saja seperti tidak pernah dipesantrenkan. Belum lagi di daerah penulis tidak sedikit masuk pondok pesantren kadang hanya menjadi ancaman para orang tua agar anaknya tidak nakal (bandel). Meskipun tidak dipungkiri hampir semua tokoh agama serta para dai lainnya pernah merasakan pendidikan ala pondok pesantren yang membuat masyarakat Indonesia semakin melek dengan Dienul Islam berkat penyampaian yang khas dari masing masing alumni pondok pesantren.

Bukan tidak setuju dengan adanya Hari Santri Nasional, tapi alangkah baiknya penetapan Hari Santri Nasional tidak mengambil hari–hari besar agama Islam, apalagi 1 (satu) Muharam. Baiknya penetapan Hari Santri Nasional mungkin bisa diurut berdasarkan awal berdirinya pondok pesantren pertama di Indonesia atau hal-hal yang berhubungan dengan santri lainnya, sehingga ada hubungan historis antara tanggal dan hari besarnya. Dengan begitu akan membuat para santri lebih menghayati makna dari hari besar santri tersebut.

Mensyiarkan 1 (satu) muharam) sebagai Hari besar umat Islam dalam memperingati perjuangan hijrah Rasul dan para sahabat adalah bukan semata-mata tugas para takmir masjid, Remaja Masjid, Kiyai, Habib. Tapi tugas tersebut adalah tugas semua umat Islam.
Allahu ‘alam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir