Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masa Kecil yang Berlalu

Masa Kecil yang Berlalu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

renungan-hidupdakwatuna.com Di malam yang sunyi dan hening, sesunyi dan sehening hati yang menghiasi hari-hari, di tengah hingar bingar suasana kota, di tengah hiruk pikuk panggung politik nan menggelitik dan di tengah-tengah derasnya arus urbanisasi, saat ini mungkin anda sedang menikmati kehangatan bersama keluarga besar anda atau mungkin anda sedang bersendirian atau mungkin sedang bimbang dalam mengisi sisa-sisa umur anda.

Tak terasa waktu semakin cepat bergulir seperti baru kemarin kita menikmati indahnya masa muda yaitu masa yang penuh dengan kenangan, sebagian yang lain mengatakan masa indah adalah masa kanak-kanak.

Masa lalu adalah masa di mana kita jauh untuk kembali adapun yang dekat adalah masa depan dan begitu seterusnya waktu berjalan begitu cepat seperti tak mengenal lelah, sedikit lengah maka kitalah yang akan termakan waktu dan menjadi ampas sejarah yang tak mempunyai arti.

  • Sebagian orang mengartikan waktu sebagai pedang, jika tidak bisa menggunakan waktu dengan baik, maka kita akan ditebas oleh tajamnya waktu.
  • Sebagian yang lain mengartikan waktu sebagai emas, jika tidak pandai menggunakan waktu, maka kita akan kehilangan sesuatu yang berharga
  • Sebagian yang lain mengartikan waktu adalah menyempurnakan rangkaian titik demi titik menuju fokus bernama kematian, sedikit saja lalai maka bisa merugi di dunia maupun di akhi

Tahukah anda?

Bahwa ada doa yang tidak mungkin tertolak?

Yaitu doa kedua orangtua yang shalih kepada anaknya. Sudahkah kita meminta doa kedua orangtua?

Tahukah anda?

Bahwa ada amal shalih yang senantiasa berkesinambungan kendati orang yang bersangkutan sudah meninggal dunia,

Tahukah anda?

Dialah orang-orang yang meninggalkan anak-anak shalih yang senantiasa memohon ampunan dan kebaikan baginya.

Duhai jiwa…

Mari kita renungkan sejenak, sudahkah kita meminta doa kedua orangtua bagi yang masih hidup atau sudahkah kita senantiasa mendoakan kedua orangtua yang sudah tiada.

Tahukah anda?

Hikmah yang terkandung kenapa Rasulullah terlahir yatim dan di usia belia menyandang status yatim piatu.

Tahukah anda, kenapa?

Tiada lain Allah Ta’ala lebih menghendaki untuk mendidik dan membimbing Rasul secara langsung tanpa intervensi dari kedua orangtuanya.

Bagaimana dengan kita?

Kita adalah didikan orangtua kita bagi yang diasuh secara langsung atau kita adalah didikan pembantu kita bagi yang diasuh oleh mereka.

Bersyukurlah dan berbahagialah duhai anak-anak yatim/piatu atau yatim piatu, karena Allah Ta’ala sebenarnya menghendaki kebaikan yang begitu besar kepada anda. Bersabar dan bersabarlah. Semoga.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Relevan di Setiap Tempat dan Masa