Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Benahi Lagi Tentang Niat

Benahi Lagi Tentang Niat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sering manusia lalai, karena nyaman dengan jabatan dan kemuliaan yang ia peroleh saat ini. Justru, kemuliaan itulah patut diwaspadai. Hati-hati terpedaya dan tertipu oleh fatamorgana dunia, ghurur. Orang yang terperdaya oleh dunia seakan dia sudah mulia tapi ibadah masih berantakan, amalan sunnah sering ditinggalkan. Naudzubillah.

“Jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu melahirkannya, niscaya Allah mengetahuinya” (QS Ali-Imran : 29)

Allah Melihat ketakwaan dan amal hamba-Nya bukan dari seberapa besar jabatan dan banyaknya kekuasaan di dunia. Allah menilai karena qolbun salimnya (hatinya yang lurus). Allah melihat niatan hatinya yakni akankah Allah mengijinkan dan ridha atas jabatan dan kekuasaan yang telah diperoleh selama di dunia itu. Sebuah kisah, ada seorang yang meninggal karena berjihad di medan perang, ia menggebu berharap masuk surga. Tapi ternyata perjuangannya hampa, lantaran hanya untuk pujian semata. Alhasil, sudah ia dapat pujian itu baginya di dunia. Ada pula seorang yang belajar agama dan selalu mempelajari Al-Quran. Tapi, ia belajar Quran karena ingin disebut qari yang tak tertandingi siapapun. Ia pun sudah dapatkan pujian itu di dunia, di akhirat? Allahu alam.

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seseorang yang belajar ilmu dan mengamalkannya serta membaca Al-Quran. Orang itu didatangkan, lalu diperlihatkan pahalanya sehingga dia mengira bahwa itulah pahala yang akan diperolehnya. Allah berfirman, ‘Apa yang telah kamu perbuat dengan semua itu?’ yang pertama menjawab, saya belajar ilmu dan mengajarkannya dan saya membaca Al Quran karena-Mu’. Allah berfirman: ‘Kamu dusta, engkau belajar ilmu supaya disebut alim, kamu membaca Al-Quran supaya dikatakan Qari, dan semua itu telah kamu dapat. Kemudian orang itu diseret dengan wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim dll).

Bahkan suatu ketika Rasullullah ditanya seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena kesukaannya, dan berperang karena ingin dipuji/dielu-elukan (riya’), manakah (di antara ketiganya) yang termasuk berperang di jalan Allah? Beliau menjawab, “barang siapa yang berperang agar kalimatullah menjadi tinggi menjulang, dia telah berjuang di jalan Allah”.

Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi dalam hati manusia. Mari luruskan niat sebelum kaki melangkah berdakwah menebar benih kebaikan, sertakan lisan dan pikiran yang selaras dengan apa yang Allah janjikan bagi orang yang sebenar-benarnya bertakwa.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ludiana Septi Susanti
Seorang pembelajar, aktiv di organisasi kepemudaan Fkapmepi DIY dan dunia kepenulisan di FLP wil. DIY. Tertarik dunia kependidikan, sosial-empowering dan praktisi ilmu biologi. Suka analisis, silent reader, more action.