Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sebuah Epilog: Dua Suar Cahaya di Bumi Kaktus

Sebuah Epilog: Dua Suar Cahaya di Bumi Kaktus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Sebuah mushalla (rizakasela.wordpress.com)
Ilustrasi – Sebuah mushalla (rizakasela.wordpress.com)

dakwatuna.comKedua tiang itu tampak berdiri tegar menyokong hampir semua elemen Mushalla. Letaknya di bagian utara dan selatan. Pagar kayu mengelilingi halaman berjejer meski tak begitu rapi, karena pagar tak elok ini adalah karya tangan-tangan lusuh yang terbiasa memegang pena. Terkadang hewan-hewan ternak begitu leluasa masuk mengotori tempat pembinaan para arsitek peradaban bangsa. Angin sayup-sayup terdengar bertiup menggugurkan daun-daun yang semakin menumpuk di genteng yang tak lagi kokoh itu, sekitar 2-3 pekan sekali mereka-mereka yang terpilih dan peduli dengan senang hati membersihkannya. Lantainya begitu dingin apabila tak ada karpet yang menjadi alas, itupun hanya karpet-karpet yang tipis dan rombeng. Dari hati yang terdalam kondisi yang memprihatinkan ini perlu segera dicarikan solusi yang berarti.

Kami adalah pendatang baru di Kampus Bumi Kaktus ini, sama sekali belum memiliki gambaran tentang apa yang harus dilakukan untuk agama dan bangsa ini, pemikiran belum sampai sejauh itu. Sederhana saja, ingin menjadi ekonom atau akuntan yang profesional, masih cenderung berkiblat pada sistem pendidikan kapitalis, masih cenderung materialistis, dan masih sangat berpatokan pada nilai-nilai hampa akademis yang tampak seperti menara gading. Dari sekian banyak kakak tingkat yang kami temui, membuat kami hampir putus asa karena begitu banyak mereka yang masih terjebak dalam Evil Circle. Tetapi ada sekelompok orang yang jumlah mereka tak begitu banyak, namun persaudaraan mereka kokoh, senyum mereka begitu hangat sampai ke relung hati. Mereka adalah sekelompok pemuda yang mampu melampaui individualisme, di ruangan yang bernama BTE1 pertama kali mereka mengenalkan tentang sebuah lembaga visioner yang bernama Lembaga Dakwah Fakultas MPM (Mahasiswa Pencinta Mushallah) Al-Iqra’.

Nilai-nilai hedonis dan asam kecut kegagalan sistem pendidikan masih begitu sulit kami lepaskan, karena seakan-akan menyatu dan menyusup dalam setiap pembuluh darah. Tapi tenang saja, ada beberapa suar cahaya yang meskipun begitu kecil tapi di tengah-tengah kelam ini menjadi penuntun kami. Tak semua orang ingin mengikuti dua sumber cahaya tersebut, ciptaan Allah tersebut bernama Dakwah dan Mushalla.

Sebuah realitas umat yang memilukan disampaikan kepada kami, namun diberi tahu dengan cara yang baik dan cara yang optimis bahwa kami adalah bagian dari solusi tersebut. Dengan segera kami menjadi para pejuang-pejuang tak kenal lelah, meski dengan tertatih-tatih bimbingan dari para senior dan atas hidayah Allah senantiasa menguatkan tekad kami.

Untuk sumber cahaya pertama yang bernama dakwah, pemahaman kami diperluas dengan membuka cakrawala berpikir kami bahwa dakwah itu luas dalam definisi, metode, dan teori dengan syariat sebagai pembatasnya. Visi kampus Islami dan madani terus dijejali dalam pikiran dan perasaan kami. Bahwa mencintai dakwah ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari cara mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ada yang bertahan dan adapula yang berguguran, karena begitulah cara Allah menguji hamba-Nya yang berkomitmen dan memiliki tekad melampaui kekokohan logam mulia.

Dakwah adalah sarana menuju perbaikan kampus bumi kaktus ini, hanya sebagian kecil civitas akademika yang mengetahuinya dan tugas kami adalah memahamkan mereka. Cara menyampaikannya adalah dengan kasih sayang, bahkan kalaupun harus berdebat, perintah langit mengajarkan kami berdebat dengan cara yang ahsan.

Namun dalam segores gagasan penulis kali ini, yang menjadi fokus perenungan inspiratif adalah sumber cahaya kedua yang bernama Mushalla. Setelah resmi menjadi pengurus MPM Al-Iqra’ yang perlu kami rencanakan adalah bagaimana merehabilitasi Mushalla, bangunan rapuh tanpa pondasi tersebut. Mungkin dari sisi materi kami hanya memiliki kemampuan finansial yang pas-pasan. Maka salah satu cara kami yang pertama adalah bagaimana membuat orang-orang semakin banyak untuk menjawab panggilan Allah dan mengunjunginya. Untuk tahap awal adalah mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk shalat, follow up-nya adalah membuka forum diskusi nonformal antar civitas akademika tentang keprihatinan atas rapuhnya bangunan ini.

Di awal-awal perintisan, strategi kami adalah memprovokasi para civitas akademika tentang rumah ibadah yang harus memiliki nilai estetika. Bukan hanya itu, di fakultas ini adalah satu-satunya Mushalla yang jenis bangunannya belum permanen. Lalu kami ditantang sudah sejauh mana usaha kami. Untuk menunjukkan keseriusan kami bergeraklah beberapa tim untuk membuat rancangan desain mushalla baru yang dipublikasikan secara masif melalui poster yang ditempel secara merata disudut-sudut kampus. Bagi yang sedang membaca tulisan ini, dapat melihat bukti otentiknya di pintu ruang dekanat Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako bagian utara. Sampai kemudian Allah menjawab ikhtiar kami dengan membukakan pintu hati para Hamba-hamba-Nya yang beriman untuk membentuk panitia pembangunan Mushalla baru. Tujuan awal kami sebenarnya adalah merehablilitasi namun Allah memberi hadiah dengan Mushalla baru yang sekarang tampak megah berdiri di depan Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako.

Yang menjadi tugas kami secara khusus dan kita pada umumnya adalah melanjutkan dan menjaga sarana ini. Dakwah butuh sarana yang mumpuni, bahkan Masjid Nabawi menjadi titik sentral awal pergerakan dakwah Rasulullah S.A.W di Kota Madinah Al-Munawarah. Bukan hanya menjadi tempat ibadah namun menjadi tempat bertukar pikiran dan pusat aktifitas peradaban menuju kampus madani.

Semoga sedikit gagasan penulis yang tak elok namun substansial ini bisa bermanfaat dan menginspirasi kita semua. Nurani ini juga terkadang memberi contoh yang tak harus diteladani namun yang menjadi perhatian adalah tentang pewarisan tugas mulia ini. Dua sumber cahaya ini harus senantiasa terpatri di hati, pikiran, dan jiwa kita semua. Dan yakinlah akan janji Allah dan Rasul-Nya, teruslah menjadi Para Pewaris Nabi.

Untukmu wahai insan yang senantiasa memperbaiki diri, dua suar cahaya ini akan menjadi sahabat akrab aktivitas keseharianmu. Untukmu wahai engkau yang mungkin disibukkan oleh pelbagai urusan, dua suar cahaya ini akan terus mengingatkanmu di saat engkau taat ataupun sedang tersesat. Untukmu wahai Bani Adam yang terkesan sedang menjauh dari kebaikan, dua suar cahaya ini tak mempedulikan pilihan hidupmu, ia akan terus memendarkan cahayanya agar keselamatan senantiasa membersamaimu.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Cahaya di Atas Cahaya