Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / 112 Tahun Bung Hatta: Figur Bersahaja Nan Berjasa

112 Tahun Bung Hatta: Figur Bersahaja Nan Berjasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

bung-hatta-mohammad-hatta“Jujur, lugu dan bijaksana

Mengerti apa yang terlintas

Dalam jiwa rakyat indonesia”.

(Hatta-Iwan Fals)

 

Pendahuluan

dakwatuna.com – Bung Hatta, begitulah ia biasa dipanggil. Terlahir di Bukittinggi Sumatera Barat pada tanggal 12 Agustus tahun 1902 dan berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 24 Maret tahun 1980 di Jakarta. Sebuah nama yang begitu akrab di telinga kita, bangsa Indonesia. Bukan hanya lantaran namanya tercatat di dalam naskah teks Proklamasi Kemerdekaan RI yang dibacakan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 lalu. Melainkan dikarenakan banyak hal prestisius yang secara inheren melekat erat di dalam kehidupan beliau selaku anak bangsa. Di antaranya karena Bung Hatta lebih dikenal sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan RI bersama Bung Karno. Di samping itu, beliau dikenang sebagai peletak dasar (founding father) sistem perkoperasian di Indonesia ini. Ayahanda dari Ibu Meutia Hatta (mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I) ini, juga sosok negarawan sejati serta politisi yang handal dan teruji.

Karakter Utama

Iwan Fals, salah seorang maestro musisi dan kritikus sosial dekade akhir 70-an hingga saat ini, mecoba mengekspresikan pemikiran dan perasaannya yang mendalam serta mengharu-biru terhadap sosok pribadi beliau melalui sebuah lagu. Hatta judulnya. Figur yang menurut catatan Iwan Fals memiliki 4 (empat) karakter utama sebagai simbol kepribadian yang luar biasa, yaitu: jujur, lugu, bijaksana dan mengerti dengan keadaan rakyat atau empati.

Jujur. Identik dengan transparansi. Menyatakan yang benar itu adalah benar dan siap mengikuti serta mencontohkan kebenaran tersebut. Atau mengatakan bahwa yang salah itu adalah salah dan bersedia untuk menjauhi kesalahan tersebut.

Lugu. Berarti apa adanya. Polos, lurus dan tidak “neko-neko” kata orang Jawa atau apa adanya. Bekerja dan berkarya berdasarkan segenap potensi (sumber daya dan dana) yang dimiliki tanpa mengharapkan pamrih dan puja-puji dari orang lain.

Bijaksana. Bermakna mampu bersikap di saat yang tepat. Atau dapat menyatakan pendapat serta menemukan solusi terhadap suatu permasalahan pada waktu yang sangat sulit (krusial) dan dibutuhkan.

Empati. Adalah kondisi kejiwaan nan luhur yang diaktualisasikan dalam wujud perasaan senasib dan sepenanggungan dengan rakyat. Atau mempunyai sensitivisme (kepekaan sosial) terhadap situasi dan kondisi yang sedang dihadapi masyarakat tanpa terkecuali.

Keempat sifat luhur tersebut saat ini nampaknya sudah mulai hilang -secara perlahan tapi pasti- dari karakter sebagian anak bangsa. Tenggelam bersamaan dengan muncul, tumbuh dan berkembangnya aneka praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) serta beragam penyimpangan moral (perilaku) yang terjadi di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bertanah air. Padahal kita harus meyakini bahwa keempat sifat utama tersebut, sesungguhnya mutlak menjadi modal dasar bagi siapapun, (khususnya) bagi mereka yang diberikan amanah untuk memimpin serta mengelola bangsa dan Negara ini, tanpa terkecuali. Sifat-sifat baik itu juga semestinya menjadi suatu keniscayaan yang dimiliki oleh segenap warga (masyarakat) di Negara yang telah memproklamirkan kemerdekaannya semenjak 17 Agustus 1945 (69 tahun) silam untuk mewujudkan cita-cita luhur mulia menjadi Bangsa yang berdaulat, adil dan makmur.

Teladan Bangsa

Dalam rangka mengenang dan mengambil “pelajaran” dari 112 tahun milad (hari Lahir) beliau, sudah sepantasnya semua elemen bangsa –tanpa terkecuali- kembali meneladani sikap, perilaku, jejak langkah dan sepak-terjang Bung Hatta di dalam mengarungi bahtera perjuangan dan kehidupan di Tanah Air tercinta. Hingga pada akhir hayatnya, kesederhaan dan kebersahajaan beliau tetap tercermin begitu indah. Teristimewa saat keluarga besarnya cukup hanya memilih dan menghantarkan beliau ke TPU (Tempat Pemakaman Umum) Tanah Kusir di Jakarta Selatan sebagai tempat peristirahan terakhir nan abadi. Padahal, sebagai Pahlawan Nasional yang sangat berjasa dan berpengaruh bagi kehidupan serta kemerdekaan segenap bangsa Indonesia, jasad beliau sesungguhnya layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata di Jakarta Selatan.

Penutup

Maka, satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: “Kapankah masanya, akan terlahir kembali figur bersahaja nan berjasa yang selalu kita rindukan seperti sosok Bung Hatta di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini?” Semoga pertukaran “sejarah” yang terjadi pada masa yang berganti dan waktu yang terus berjalan akan kembali menemukan jawabannya. Wallahu a’lam bis shawab.

“Berkafan do’a, bernisan bangga,

Dari kami yang merindukan,

Orang sepertimu”.

(Hatta-Iwan Fals).

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Forstudi Faperta Unand Padang (1995-1996).

Lihat Juga

Putri Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Yenny Wahid. (lensaindonesia.com)

Yenny Wahid: Dua Figur ini Bisa Satukan Partai Islam