Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menghidupkan Kembali Fungsi Masjid

Menghidupkan Kembali Fungsi Masjid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Mengembalikan Fungsi Masjid - inet (Foto: muhammadiyah.or.id)
Mengembalikan Fungsi Masjid – inet (Foto: muhammadiyah.or.id)

dakwatuna.com  Selama bulan Ramadhan, masjid ramai didatangi jamaah untuk beribadah. Berbagai kegiatan ibadah seperti shalat wajib, tarawih, witir, pengajian, diskusi keagamaan, tadarus, penggalangan dana (ziswaf), buka bersama dan itikaf sepuluh malam terakhir dilakukan dalam rangka menghidupkan malam-malam Ramadhan. Namun sayang, pada penghujung Ramadhan, jamaah masjid semakin berkurang. Kaum muslimin disibukkan dengan persiapan lebaran dan kegiatan lainnya yang bernuansa duniawi. Pasar murah dan mall lebih menarik perhatiannya, karena diskon besar yang sangat menggiurkan. Bahkan di malam takbiran, masjid hanya diisi oleh beberapa orang jamaah saja yang masih setia sementara yang lain asyik mendandani rumah dan persiapan menghadapi lebaran atau melakukan takbiran keliling.

Sangat ironis, malam pertama di bulan Syawal yang seharusnya masjid tetap ramai sebagai perwujudan dari keberhasilan pembinaan iman dan ibadah selama Ramadhan, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Selepas Ramadhan masjid semakin lengang dengan jamaah dan sepi dari kegiatan ibadah. Senandung adzan indah yang bertalu-talu di udara tidak mengugah hati umat untuk segera menyahutnya dan menarik perhatiannya menuju masjid meraih kemenangan hakiki. Aktivitas duniawi masih tetap dilakoninya seakan-akan tidak mendengar seruan Allah Swt padahal seruan inilah yang akan menyelamatkan dirinya di dunia sampai ke akhirat sana.

Fenomena ini merupakan masalah besar yang harus segera dicarikan solusi nyata. Ulama dan umarah bertanggung jawab dan harus berpikir keras dalam menyelesaikan masalah ini. Salah satu solusinya, adalah dengan menghidupkan kembali fungsi dan peran masjid sebagai sarana pembinaan umat dan pusat peradaban Islam. Dengan demikian keberadaan masjid sangat dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya dalam kehidupan umat.

Masjid Pada Masa Rasulullah Saw
Ketika Rasulullah Saw, sampai di kota Madinah dalam perjalanan hijrah yang panjang. Beliau bukannya mendirikan istana, sebagai tempat kediamannya atau mendirikan benteng untuk pertahanan dari serangan kafir Quraisy atau membangun pasar guna menghidupkan perekonomian umat. Namun yang pertama didirikan Rasulullah Saw adalah masjid yaitu Masjid Nabawi yang berfungsi sebagai pusat kegiatan umat. Hal ini memberi sinyal betapa besarnya keberadaan dan keutamaan masjid bagi Rasulullah Saw, dalam membina umat dan memajukan dakwah Islam.

Pada masa Rasulullah Saw, masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah khusus seperti melaksanakan shalat, membaca Al-Quran atau berzikir akan tetapi masjid dijadikan sebagai pusat aktifitas umat Islam. Di masjid Rasulullah Saw, membicarakan persoalan umat dan solusinya, membina keimanan dan keislaman sahabat (sarana dakwah), menggagas dan merancang pengembangan ekonomi dengan mendirikan baitul maal. Masjid dijadikan sebagai sarana pendidikan dan pembinaan umat. Di masjid Rasulullah Saw juga menerima tamu negara lain bahkan juga mengatur strategi perang. Pokoknya semua kegiatan pembinaan berawal dari masjid dan berakhir juga dari masjid sehingga sangat terasa kesemarakan dan keaktifan masjid sebagai pusat kegiatan umat.

Usaha Menghidupkan fungsi dan peran masjid
Di era modern ini, masjid harus dapat mengambil fungsi dan peran penting dalam membangun peradaban umat. Masjid hendaknya dapat dijadikan sebagai “Islamic Centre” yang memberikan pengaruh signifikan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Makanya masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah tetapi juga dapat dijadikan sebagai sarana dakwah dan pusat informasi Islam, pendidikan dan pembinaan, pengembangan ekonomi umat, seni dan budaya Islam dan kegiatan sosial lainnya. Semua kegiatan tersebut hendaknya dapat menarik perhatian umat untuk memakmurkan masjid dan menjadikan masjid dalam memenuhi dahaga spiritual atau kebutuhan rohaninya.

Dalam menghidupkan fungsi dan peran masjid secara maksimal seperti masa Rasulullah Saw, maka perlu ada beberapa usaha dan peran yang harus kita lakukan:

Pertama, berusaha melahirkan umat yang cinta dengan masjid. Kecintaan umat pada masjid merupakan perwujudan keimanannya pada Allah Swt. Karena sesungguhnya orang yang mampu meramaikan masjid adalah orang yang benar keimanannya. Makanya disinilah peran ulama, agar bersungguh-sungguh membina keimanan umat sehingga mereka mencintai masjid. Kegiatan dakwah dan pendidikan yang dikelola masjid ( TK – SMA ) harus mampu melahirkan generasi yang mencintai masjid dan menjadikan masjid sebagai sarana yang nyaman dan enak baginya dalam beribadah atau beraktivitas kebaikan.

Kedua, Kita harus selektif dalam memilih pengurus masjid karena besar dan pentingnya peran ini dalam memakmurkan masjid. Pengarus masjid yang diamanahkan adalah orang yang memang rajin datang ke masjid dan rela berjuang plus berkorban untuk memakmurkan masjid. Untuk itu mereka harus bekerja dengan sungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah Swt. Jangan sampai menjadi pengurus masjid dijadikan sebagai sebuah kebanggaan apalagi sampai mengambil keuntungan politik dan ekonomi. Pengurus masjid harus dibekali dengan ilmu dan keterampilan mengurus dan mengelola masjid. Banyak potensi masjid yang dapat dikembangkan seperti pendanaan. Bantuan umat berupa wakaf, sedekah dan infaq harus dapat dimanfaatkan secara baik dengan manajemen terbuka serta perlu perencanaan yang matang sehingga dana tersebut tidak sia-sia. Oleh karena itu dana yang masuk tidak hanya untuk pembangunan fisik semata tetapi juga untuk membangun jamaah dengan berbagai kegiatan keislaman.

Ketiga, Peran pemerintah juga sangat penting untuk menghidupkan kembali fungsi dan peran masjid dalam membangun peradaban umat. Pemerintah harus membuat program yang akan memotivasi masyarakat untuk memakmurkan masjid. Disamping itu Pemimpin atau pejabat harus memberikan teladan yang nyata bagi masyarakat dan juga bawahannya untuk meramaikan masjid. Jangan sampai rakyat diajak meramaikan masjid sementara pemimpinnya mengatur jarak dari masjid alias jarang beribadah di masjid. Kehadiran pemimpin atau pejabat dalam memakmurkan masjid akan memberikan pengaruh besar bagi masyarakat karena pemimpinnya telah memberikan teladan yang baik pada rakyatnya sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah dalam masa kepemimpinan. Kita berharap hadir pemimpin yang mencintai masjid dan mampu menjadi pemimpin atau imam shalat berjamaah di masjid tersebut. Semoga

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 4,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Pasung Jiwa

Suara Kebebasan Sang Biduan