Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kematian Seorang Pahlawan

Kematian Seorang Pahlawan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (liveinternet.ru)
Ilustrasi. (liveinternet.ru)

dakwatuna.com Kematian adalah bagian terpenting bagi seorang pahlawan. Karena ia akan sangat menentukan apa yang akan dicatat sejarah untuknya. Dan kematian bagi seorang pahlawan adalah sesuatu yang paling indah, masa-masa di mana di sana adalah salah satu kemenangan terbesarnya.

Kematian bagi seorang pahlawan menyebabkan seluruh mata manusia tertuju padanya. Kematian sang pahlawan mengakibatkan seluruh kerinduan manusia tercurah untuknya. Kematian seorang pahlawan adalah duka seluruh pencinta kebenaran. Dan tidak ada yang lebih mengharukan dari kehilangan seorang pahlawan.

Demi Allah, para pahlawan selalu mengakhiri hidup mereka dengan sangat indah dan dramatis. Kenanglah kematian Rasulullah SAW! “Umatku… Umatku…” Ucapan itu terus mengalir dari mulut beliau. Tak ada rasa takut pada diri beliau menghadapi kematian. Beliau hanya bersedih membayangkan umat sepeninggal beliau. Akankah tetap berada dalam garis kebenaran?

Hilanglah ambisi pribadi.
Hilanglah keinginan duniawi.
Kematiannya menjadi sebuah kebahagiaan karena menjadi perjumpaan bersama Allah yang Maha Penyayang.

Demi Allah,
Demi Dzat Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya,
Demi Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan;
Para pahlawan itu tidaklah mati seperti yang kita lihat, tetapi mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dengan penuh kebahagiaan.
Hanya saja kita tidak merasakannya!

Dan percayalah, sebagian kita bahkan mungkin belum pernah berjumpa dengan pahlawan-pahlawan besar itu, tapi sungguh cinta dan sayang kita bertaut padanya, kerinduan kita tertuju untuknya, dan doa kita Insya Allah akan selalu menyertainya…

Tahukah Anda mengapa seperti itu? Bukankah pahlawan juga manusia biasa yang mengalami jalan hidup sebagai manusia normal? Lantas mengapa mereka menjadi berbeda? Lantas mengapa mereka tidak sama seperti kita?

Pengorbanan!
Itulah pembedanya. Hidup kita dipenuhi oleh angan-angan dan mimpi-mimpi tentang kebahagiaan pribadi. Hidup kita diisi dengan meminta dan menuntut. Kita merasa gerah ketika hak kita tak kita dapatkan. Kita merasa marah ketika kepentingan kita diabaikan. Padahal orang lain juga memiliki pemikiran yang sama. Akhirnya yang terjadi adalah perebutan hak. Tidak ada yang mau berkorban karena pengorbanan menuntut kepasrahan. Tidak ada yang mau mengalah karena mengalah membuat kita kehilangan. Tarikan-tarikan dunia membuat mata kita silau karena indahnya. Sementara pahala begitu abstrak dan tak nampak. Maka keimanan yang lemah lebih menyukai yang pertama. Itulah jalan yang kita tempuhi bersama.

Sementara para pahlawan, terlepas ia memiliki nama atau tidak, terlepas ia terkenal atau tidak, terlepas ia disukai atau dibenci, selalu menempuh jalan yang kedua. Jalan yang penuh pengorbanan namun menjanjikan harapan. Hatinya jatuh sayang meski pada lawan yang membencinya, terlebih pada kebenaran yang sangat diagungkannya. Ia terkadang menekan hak-hak pribadinya, karena baginya kemaslahatan umat jauh lebih penting. Karena kejayaan Islam yang harus diutamakan. Harta, tahta dan wanita begitu menggodanya, tapi semua itu ia tangguhkan sampai kelak ketika ia bertemu Tuhannya.

Itulah yang membedakan seorang pahlawan dengan manusia biasa.
Ini adalah jalan hidup yang harus dipilih, dan setiap kita memiliki kesempatan yang sama. Karena para pahlawan pada awalnya sama biasanya dengan kita semua. Hanya pertanyaannya, apakah kita akan menempuh jalan yang sama? Ataukah hidup kita hanya sekadar menunggu mati? Sehingga pahit getir kehidupan kita selama berpuluh-puluh tahun hanya dicatat orang sebagai:
Fulan
Lahir tanggal sekian
Wafat tanggal sekian

Itukah cita-cita tertinggi kita?
Semoga Allah mempertemukan kita dengan para pahlawan itu di surga-Nya yang abadi dan memasukkan kita ke dalam golongan mereka. Wallahu A’lam

Al Hikmah, 15 Juni 2005

***

Catatan:
Tulisan ini saya buat pada hari Rabu pagi, 15 Juni 2005. Tidak saya tujukan secara spesifik, tapi sorenya saya dapat kabar Ustadz Rahmat Abdullah telah wafat. Lalu saya baca lagi tulisan saya sambil mengikuti berita tentang prosesi pemakaman beliau. Tiba-tiba saya merinding sendiri, sambil muncul sebuah keyakinan bahwa beliau adalah salah satu tokoh yang dimaksud dalam tulisan saya.

Saya tidak begitu mengenal Ustadz Rahmat, selain dari menyimak ceramah-ceramah dan kajian-kajian beliau yang itupun tidak banyak. Tapi tulisan beliau begitu memukau. Satu-satunya interaksi langsung yang pernah terjadi antara saya dengan beliau adalah lewat telepon ketika beliau kami minta untuk mengisi kajian Al-Quran di Al-Hikmah. Tiba-tiba beliau menelepon hingga saya gelagapan (redaksi persisnya saya lupa, tapi kurang lebih isinya seperti ini),

“Gimana kajian di Al-Hikmah? Jadi?”
“Ini siapa ya?”
“Rahmat!”
“Ooo. Iya Ustadz. Insya Allah. Tapi jamaahnya cuma dikit yang datang. Kalau Ustadz ada acara yang lebih penting, nggak apa-apa kami pake badal.”
Lalu beliau tertawa, “Insya Allah ane datang. Biarpun yang dengerin antum sendiri. Ane kan udah janji…”

Sejak saat itu saya ingat baik-baik ucapan beliau, terlebih ketika di kelas Tahsin-Tahfizh hanya ada satu orang yang tersisa.

Kini sudah sembilan tahun tulisan ini berlalu. Ustadz Rahmat tinggal cerita masa lalu yang tidak begitu dikenal kecuali oleh orang-orang yang pernah menyaksikan beliau langsung semasa hidupnya. Begitu pula jutaan tokoh-tokoh pahlawan lainnya yang telah menjadi bagian dari sejarah, dikenal ataupun tidak. Tapi kemerdekaan di negeri ini, semangat berislam dan berdakwah yang semakin marak ini, kecintaan kepada Al-Quran dan Rasulullah yang semakin meninggi ini, sungguh nyata adalah ridha Allah atas hasil perjuangan mereka semua.

Para pahlawan penerus cita-cita para pahlawan masih banyak yang hidup di sekeliling kita. Jangan sia-siakan hidup kita dengan tidak mengambil ilmu dan manfaat dari keberadaan mereka tersebut. Berhentilah mencaci maki, maka kau akan temukan kebenaran dengan mudahnya.

Ketahuliah, dari zaman dahulu hingga hari kiamat caci maki adalah kerjaannya para penjahat dan musuh-musuh kebenaran…

Mau jadi pahlawan, atau jadi penjahat?

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abu Qawwam
Guru ngaji di LTQ Al-Hikmah (2003 s.d. Sekarang). Guru ngaji di Nurul Furqon (2013 s.d. Sekarang)

Lihat Juga

Meninggal (ilustrasi).  (aktualpost.com)

Bila Esok Meninggal

Organization