Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Luka” Harus Segera Disembuhkan (Kinetika Hati)

“Luka” Harus Segera Disembuhkan (Kinetika Hati)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Setiap orang pasti pernah terluka, entah itu terluka karena terjatuh atau kecelakaan. Terluka fisik memang sakit secara fisik dan akan segera sembuh jika kita dengan cepat dan tepat mengatasinya. Ketika terluka, pastilah kita akan segera mengambil tindakan untuk menyembuhkannya. Kita akan berusaha membersihkannya dengan cairan antiseptik untuk luka atau dengan air hangat kemudian kita akan tetesi dengan betadine atau obat merah lalu kita akan tutup dengan plester atau perban agar tidak terkena debu atau kotoran yang dapat menginfeksi luka tersebut. Sedangkan jika kita biarkan maka luka itu akan mudah terinfeksi dan akan mengakibatkan luka yang menganga dan semakin besar serta akan menimbulkan penyakit kulit lainnya yang akan berdampak buruk bagi kesehatan. Begitulah sejatinya luka secara fisik. Jika itu luka secara fisik lantas bagaimana jika luka itu adalah luka secara batin? Atau luka ini lebih sering dikenal dengan sebutan sakit hati. Pasti akan banyak sekali yang bilang bahwa luka ini adalah luka yang sangat sulit untuk disembuhkan, luka yang sulit untuk ditutupi bahkan kita bangga dengan “penyakit” ini dan membiarkannya lama menganga. Terkadang kita mengakui bahwa kita sulit untuk sembuh dari “luka”. Namun kita menyadari secara pasti dengan akal kita bahwa menyimpan “luka” itu adalah suatu hal yang salah. Lantas, apadaya bisa jadi kita kalah dengan rasa egois kita ataukah mungkin kita kalah dengan luka yang mulai terkena “infeksi” sehingga kita lebih “bahagia” menaruh luka dan merawatnya hingga “virus” itu datang dan mampu “mematikan” hati kita.

Tak ada seorang pun yang menginginkan sakit hati, saya yakin semua akan berdalih sama namun saya yakin tak ada satu orang pun yang belum pernah merasakan “luka” semacam ini bahkan ada yang setiap hari merasakannya. Namun tidak ada luka yang tak mampu disembuhkan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam shahihnya, dari shahabat Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda, “Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya”. Dari Riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah dia berkata bahwa Nabi bersabda, “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhannahu wa ta’ala” (HR. Muslim). Saya memaknai hadist di atas bukan sebatas pada penyakit fisik atau lahiriah namun juga penyakit batin atau “sakit hati”. Maka sakit hati ini pun bisa disembuhkan namun cepat atau lambatnya tergantung pada diri kita. Atau dalam bahasa kimia “kinetika” hati yang harus kita jadikan variabel kontrol. Pada dasarnya sama saja ketika kita terluka fisik maka kita bergegas untuk mengobatinya, maka luka hati pun haruslah sama diawali dengan diri kita yang punya tekad untuk bergegas menyembuhkannya. Satu hal yang harus ditekankan adalah TEKAD kita yang sungguh-sungguh. Dalam proses ini kita harus mengikuti suatu mekanisme yang baik. Mekanisme yang harus dilakukan yaitu kita harus melawan bisikan setan yang ingin tetap membiarkan luka ini terus terbuka. “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia’.” (QS. An-Naas: 1-6)

1. Mengingat Kekasih yang Paling Mulia

Dalam mengatasi setiap problematika yang menyangkut hati maka Allah memberikan fasilitas yaitu berdzikir kepada-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. Orang – orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-ra’d : 28-29). Begitulah Allah mencintai hamba-Nya hanya dengan mengingat-Nya maka hati menjadi lebih tenang dan tentram sehingga akan muncul kebahagiaan bila kita dekat dengan-Nya. Kekasih yang paling mulia tentulah Allah yang mampu memberikan rasa aman, tenang, nyaman dan kebahagiaan yang hakiki. Hanya Allah dengan kehendak-Nya lah rasa sakit yang melukai hati akan sembuh.

2. Mengingat Kebaikan dan Berhusnudzon Pada Saudara Kita

Masalah hati tak lepas dengan masalah antar manusia bahkan dengan saudara seiman baik itu keluarga, kerabat maupun sahabat. Jika kita tetap membiarkan luka kita tanpa bertekad bergegas menutupnya maka luka itu akan menghasilkan penyakit baru. “Penyakit Hati” seperti dendam, dengki, kebenciaan, berprasangka buruk (suudzon), memaki-maki bahkan mendoakan yang buruk untuk saudara kita. Naudzubillahimindzalik, jika kita pernah berbuat seperti itu perbanyaklah istighfar dan memohon ampunan pada Allah atas perbuatan dan ucapan yang salah itu. Maka obat selanjutnya adalah mengingat-ngingat semua kebaikan saudara kita dari yang terbesar sampai kebaikan yang terkecil. Jika biasanya kita membesar-besarkan masalah yang kecil. Maka kali ini kita harus membesar-besarkan kebaikan yang kecil dan mengecilkan kesalahan saudara kita. Masalah kesalahan dan dosa biarlah menjadi urusan-Nya. Kita tidak berhak menghakimi manusia diluar yang telah ditentukan oleh hukum-Nya. Dengan begitu, biasanya kita akan menyadari bahwa kesalahan saudara kita jauh lebih sedikit dibanding kebaikannya, maka kesalahan itu akan samar-samar terlihat dan tertimbun oleh kebaikan-kebaikan saudara kita.

Ada peribahasa yang mengatakan “lidah lebih tajam dari pedang” dan pada dasarnya rasa sakit hati biasanya muncul dari luka yang disayat oleh “lidah”. Perkataan saudara kita yang pada awalnya kita “mengira” itu adalah suatu perkataan yang menyakitkan maka kita ubah itu menjadi suatu “kritik” yang membangun, memotivasi, menjadi bahan introspeksi (muhasabah) bahkan jadikan inspirasi. Bila perlu kita pajang kata-kata kritikan itu untuk menjadi inspirasi di setiap hari sehingga kita lebih sering bermuhasabah diri daripada memaki-maki atau “ngedumel” perkataan saudara kita. Berhusnudzon pada saudara kita, bahwa perkataan tersebut adalah tanda kasih sayang saudara kita dalam bentuk mengingatkan. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (QS. Al-Hujurat : 12). Mari kita berprasangka baik pada saudara kita yang memang sangat hobi mengkritik diri kita hingga kadang membuat kita jengkel atau sakit hati. Mulai merubah paradigma itu dan jadikan perkataan saudara kita itu merupakan niatan baiknya untuk selalu mengingatkan kita.

3. Bersabar, Tegar dan Bijak Bagi Aktivis

Ketiga hal ini pastilah sering kita ungkapkan. Sebatas diungkapkan dan lupa mengaplikasikannya dalam keseharian apalagi saat tertimpa masalah. Lupa melatihnya. Tentu saja hanya orang-orang tertentu yang mampu mengaplikasikan ini. Orang-orang yang memang terlalu sering menghadapi masalah. Karena ada dua pilihan dalam menghadapi masalah yaitu lari atau hadapi. Orang yang lari dari masalah maka dia akan menjauh dari masalah bisa dengan mengasingkan diri dan keluar dari komunitasnya secara permanen, atau yang lebih parah mengalami gangguan jiwa bahkan bisa bunuh diri. Orang yang menghadapi masalah dia akan berusaha menyelesaikannya, mencari solusinya dan dia akan mampu melewati masalah tersebut. Memang terkadang bagi beberapa orang butuh menyendiri untuk menenangkan diri namun orang yang survive dengan masalah dia akan bergegas menyembuhkan dirinya dan segera menyelesaikan masalahnya. Orang yang terlalu sering menghadapi masalah atau ujian dari ujian kecil hingga besar dan dia selalu menyelesaikan masalahnya hingga ke level tertinggi itulah orang yang terus melatih kesabaran, ketegaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi suatu masalah. Orang yang tertimpa ujian dan orang yang melihat ujian tersebut akan memiliki perspektif yang berbeda dalam menanggapi ujian tersebut. Bagi yang tertimpa dia akan memaknai setiap”komponen” masalahnya dan bagi yang melihat dia hanya akan memaknai sebagian “komponen” saja. Sehingga orang yang melihat akan mempelajari sebagian saja dari yang mengalami. Maka pepatah “Learning by doing” itu sejalan dengan cara kita menyelesaikan dan memaknai suatu masalah. Orang yang pernah mengalami masalah yang lebih besar akan cenderung lebih memahami dengan masalah yang lebih kecil dalam skalanya. Maka biasanya dia akan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah lain yang menimpanya. Karena dia terus dilatih dengan ujian. Maka Allah pun tidak salah terus melatih hamba-Nya yang Dia cintai agar bisa bersabar, tegar dan bijak. “Apakah menusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka dan benar- benar Allah mangetahui orang-orang yang benar dan mengetahui pula orang- orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3). Sahabat Rasul, Ali bin Abi Tholib mengatakan “Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran”. Dalam Firman-Nya, Allah berjanji:“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az-Zumar : 10). “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS. Ali Imran : 186).

Itulah tiga mekanisme untuk mengontrol “kinetika” hati. Lantas, masih kah kita mengeluh dengan masalah yang kita hadapi? Masikah kita menyimpan setitik kebencian pada kelalaian lidah atau perbuatan saudara kita yang masih bisa kita selesaikan dengan cara yang baik? Atau masihkan kita angkuh dengan diri kita? Allah sungguh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tak ada satu pun penyakit yang tak mampu disembuhkan kecuali penyakit tua dan kematian. Begitupun penyakit hati. Maka niatkan, tegaskan dalam hati bahwa kita akan bergegas menyembuhkan luka hati ketika muncul dan tidak akan membiarkannya menganga bahkan terinfeksi. Karena yang akan menginfeksinya adalah virus yang paling ganas yaitu makhluk paling jahanam yakni setan. Mari selamatkan hati kita. Kebahagiaan itu ketika Iman dan Ukhuwah terjaga. “Mengalah” lah untuk menang. Menang dari setan yang mengingingkan kita kalah dengan rasa benci dan dendam. Dalam lagunya Opick: Obat hati ada 5 perkara: 1. Baca Quran dan maknanya, 2. Shalat malam dirikanlah, 3. Bertemanlah dengan orang shalih, 4. Perbanyaklah berpuasa, 5. Perbanyaklah bersedekah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Mahasiswi Jurusan Pendidikan Kimia prodi Kimia Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2011. Aktif di BEM HMK FPMIPA UPI sebagai ketua departemen Organisasi, KAMMI komisariat UPI sebagai staf humas dan LDK UKDM UPI sebagai anggota.

Lihat Juga

Ilustrasi. (freepik.com)

Pesona Selfie dan Hati