Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Selamat Tinggal Kasih

Selamat Tinggal Kasih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (fanpop.com)
Ilustrasi. (fanpop.com)

dakwatuna.com – Betapa sedihnya hati ketika mengetahui bahwa yang kita cintai dan sayangi menjauh. Perasaan bersalah dan menyesal kerap muncul di dalam diri. Dalam beberapa waktu telah bersama namun hanya terasa hanya sebentar. Apresiasi cucuran air mata berlinang bisa saja muncul dari dalam diri.

Kekasih dan dicinta dan dikasih hanya bersama dalam dua atau tiga hari saja. Setelahnya ia akan pergi dan akan kembali berjumpa itupun dalam dua belas bulan ke depan. Itulah bulan Ramadhan. Bulan yang menjadi kekasih hati orang mukmin ini pergi dan meninggalkan orang-orang yang Mereka berharap agar semua amalan di bulan yang mulia ini diterima Allah dan mendapat kesempatan untuk bertemu lagi dengan kekasih hati pada periode Ramadhan mendatang.

Sangatlah wajar dan seharusnya orang-orang mukmin bersedih dan terharu manakala Ramadhan telah berakhir. Berbagai kelebihan di dalamnya di dalam bulan Ramadhan. Bahkan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (Al-Qadr: 3). Orang yang berpuasa di bulan ini karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan mendapat keampunan dosa (Hadits Muttafaq ‘Alaih), bahkan bau mulut orang berpuasa dinilai lebih harum daripada aroma kesturi (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Tak heran bulan ini dianggap sebagai penghulu segala bulan.

Mengingat betapa mulia dan barakahnya bulan Ramadhan maka sepantasnya orang-orang mukmin menyambut bulan suci ini dengan suka cita dan melepaskannya pula dengan duka cita. Perasaan harap-harap cemas akan melanda bagi mereka yang telah berpuasa dengan sungguh-sungguh. Karena sarapan dari puasanya tersebut untuk mendapatkan posisi yang terbaik dari Allah. Sehingga ia akan was-was terhadap amalannya. Apakah akan ditolak amalannya atau diterima dan termasuk ia orang-orang yang diridhai.

Dikisahkan bahwa dahulu umat Islam berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa mendapatkan Ramadhan, dan selama enam bulan (berikutnya) mereka berdoa agar puasanya diterima. Di antara doa mereka itu adalah: “Ya Allah serahkanlah aku kepada Ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan kepadaku, dan Engkau menerimanya daripadaku dengan rela.” (Ibnu Rajab dalam Lathaa’iful Ma’aarif) Sikap ini merupakan bentuk cinta dan kerinduan kepada bulan agung bernama Ramadhan.

Para salafush shalih sangat bersungguh-sungguh dalam mengoptimalkan semua pekerjaannya. Mereka lebih memperhatikan dan mementingkan aspek mutu dan diterimanya amal daripada bentuk amal itu sendiri. Hati mereka penuh harap dan khawatir terhadap amalan yang telah dikerjakan. Mereka itulah orang-orang yang diganjar sesuai dengan perbuatan mereka sedangkan hatinya selalu gemetar (karena takut siksa Tuhannya). Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27).

Kebiasaan Ramadhan

Di dalam bulan Ramadhan sebagian orang bertaubat, mendirikan shalat dan melaksanakan ibadah puasa. Namun jika Ramadhan lewat mereka kembali meninggalkan shalat dan melakukan perbuatan maksiat. Mereka tidak melaksanakan ibadah-ibadah kecuali di bulan Ramadhan saja. Padahal semua kita tahu bahwa pemilik semua bulan itu adalah satu yakni Allah. Berbagai bentuk kemaksiatan adalah haram di setiap waktu. Allah Maha Mengetahui setiap gerak-gerik mereka di mana saja dan kapan saja.

Ramadhan merupakan masa training bagi sebelas bulan yang lain. Di dalam Ramadhan ini kita dididik untuk menahan hawa nafsu dan berperilaku sosial terhadap sesama. Maka bekal training ini seharusnya dapat dipertahankan dan dilaksanakan dalam bulan-bulan yang lain. Bila dalam masa training kita tidak mengikuti training dengan baik, maka bisa dipastikan bahwa kita tidak akan mampu mengamalkan amalan suci ini di bulan yang lain. Rugilah bagi orang-orang yang tidak dapat memanfaatkan bulan Ramadhan tersebut.

Islam dengan jelas dan tegas telah mengajarkan umatnya. Umat islam diharuskan beramal secara menyeluruh dan konsisten. Sering terdengar dalam pembicaraan bahwa dalam bulan Ramadhan tidak boleh mengupat, berbohong, riya dan sebagainya. Ajaran ini tidak hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, tetapi tetap harus diamalkan sepanjang tahun. Islam melarang umatnya untuk mencampuradukkan sesuatu yang hak dengan yang bathil. Al-Quran sebagai kitab pedoman umat Islam telah memberikan tuntunan yang jelas terkait hal ini. Firman Allah: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Baqarah: 42)

Oleh karena itu maka bersegera taubat nasuha adalah kuncinya, yakni dengan meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa mendatang, Dengan cara inilah taubatnya diterima Allah dan dirinya mendapat keberuntungan. Allah Ta’ala berfirman “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nuur: 31).

Setelah Ramadhan berlalu umat Islam merayakan idul fitri sebagai hari kemenangan. Disebut menang karena telah berhasil mengalahkan nafsu yang membawaki manusia dalam kemaksiatan. Namun kemenangan bukanlah segalanya. Kemenangan adalah awal kekalahan. Setelah berada di puncak seseorang harus turun sendiri atau diturunkan oleh orang lain. Mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit daripada merebutnya. Inilah tantangan muslimin untuk mempertahankan kemenangan berupa nilai-nilai Ramadhan di dalam sebelas bulan yang lain.

Idul fitri yang dijadikan sebagai penutup ibadah Ramadhan dianggap sebagai hari raya dalam Islam. Dikatakan hari raya karena pada hari ini orang-orang kembali suci (idul fitri) lantaran pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka yang telah diperoleh dalam Ramadhan. Maka yang mendapatkan hari raya sebenarnya hanyalah mereka yang mendapat karunia besar ini. Mereka keluar dari Ramadhan bagaikan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

Harapan kita tentunya, semua amalan kita diterima Allah dan memperoleh gelar takwa di akhir Ramadhan. Kita juga berdoa agar mampu mempertahankan nilai-nilai Ramadhan dalam bulan-bulan yang lain. Semoga kita diberi umur panjang dan hidayah oleh Allah sehingga kesedihan karena ditinggal kekasih pada tahun ini akan terobati dengan kembali bertemu pada Ramadhan masa mendatang. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saifuddin
Mahasiswa Teknik Multimedia dan Jaringan Politeknik Negeri Lhokseumawe, Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara

Lihat Juga

Ilustrasi. (pkpu / izi)

Ramadhan Kekinian