Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / 7 Ramadhan, Menghidupkan Hati dengan Menjenguk Orang Sakit

7 Ramadhan, Menghidupkan Hati dengan Menjenguk Orang Sakit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cdn.k.dk)
Ilustrasi (cdn.k.dk)

dakwatuna.com Hati akan hidup jika dimasuki cahaya keimanan. Tapi cahaya itu akan cepat padam jika tidak dipelihara.

Cahaya Al-Qur’an

Al-Qur’an bukan kitab pahala. Kalau tujuan kita membaca Al-Qur’an hanya untuk mengumpulkan pahala, maka kita bisa memilih amalan lain yang berpahala lebih banyak. Al-Qur’an adalah kitab hidayah, agar yang membacanya mendapat hidayah lalu memperbaiki diri dan sekitarnya.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai hidayah bagi manusia.” [Al-Baqarah: 185].

Pahala yang disediakan kepada orang yang membacanya seperti disabdakan Rasulullah saw. hanyalah sebagai rangsangan agar umat Islam giat membacanya. Lalu ketika membacanya, umat Islam mendapatkan hidayah, cahaya iman, dan asupan bagi hatinya.

Contoh pendekatan tentang hal itu adalah ketika seorang ayah ingin anaknya giat belajar. Sang ayah menjanjikan berbagai hadiah jika anaknya bisa rajin. Si anak mungkin tujuan membacanya adalah agar bisa mendapat hadiah. Tapi sang ayah tujuannya tetap agar si anak giat belajar, lalu mendapatkan ilmu yang bisa menjadi bekal hidupnya.

Agar Cahaya Tak Kunjung Padam

Bisa membaca Al-Qur’an dan mendapatkan cahaya keimanan dan asupan untuk hati adalah sebuah nikmat yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang bisa mengalami hal seperti itu. Bahkan paman-paman Rasulullah saw. juga demikian. Banyak umat Islam yang tidak menyadari hal ini.

Sama halnya dengan nikmat kesehatan, banyak orang sehat yang tidak menyadari sedang mendapatkan nikmat yang sangat besar. Baru akan terasa jika dirinya mengalami sakit. Oleh karena itu Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk menjenguk orang sakit. Tujuannya antara lain agar bisa merenungi nikmat kesehatan yang sedang dirasakannya.

Menjenguk orang sakit juga mengingatkan kematian yang bisa datang menghampiri setiap saat. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sangat menganjurkannya. “Orang yang menjenguk orang sakit, maka dia diliputi rahmat Allah Ta’ala sebelum dia duduk. Lalu setelah duduk, dia menyelam dalam rahmat tersebut.” [HR. Ahmad].

“Setiap Muslim yang menjenguk saudaranya sesama Muslim yang sakit di pagi hari, maka ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga datang waktu sore. Sedangkan Muslim yang menjenguknya pada sore hari, maka ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga datang waktu pagi. Lalu dia mendapatkan buah-buahan di surga.” [HR. Tirmidzi].

Kebersamaan dengan malaikat tentu akan menghidupkan hati, karena sebaliknya, kebersamaan dengan setan bisa mematikan hati dan menjerumuskan kepada maksiat. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?