Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / 6 Ramadhan, Menghidupkan Hati dengan Silaturahim

6 Ramadhan, Menghidupkan Hati dengan Silaturahim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (mbc.net)
Ilustrasi (mbc.net)

dakwatuna.com Hati akan hidup jika dimasuki cahaya keimanan. Tapi cahaya itu akan cepat padam jika tidak dipelihara.

Cahaya Al-Qur’an

Berapa kali kamu sudah khatam tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini? Pertanyaan ini sering kita dengar setiap kali bulan Al-Qur’an ini hampir pergi. Bahkan banyak di antara kita berlomba dengan teman-teman dalam banyaknya khataman tilawah. Ketika ditanya tentang motivasinya, dia menjawab, “Ingin mengumpulkan pahala sebanyak mungkin.”

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk tujuan ini. Al-Qur’an diturunkan untuk menghidupkan hati, sehingga hati terpenuhi dengan iman, lalu menggerakkan untuk melakukan amalan kebaikan.

Sebelum ini kita sudah khataman Al-Qur’an puluhan bahkan ratusan kali. Namun bacaan kita tidak disertai dengan pemahaman sehingga hati pun tidak tergetar dan terpengaruhi. Lalu apa hasilnya, apakah ada perubahan dalam diri kita setelah itu? Tidak ada.

Secara kebiasaan saja, orang membaca buku pasti dengan tujuan untuk memahaminya. Wajarkah orang membaca sebuah buku hanya dengan lisan dan kerongkongannya tanpa menyertakan akalnya? Tanpa berusaha untuk memahami huruf-huruf yang ditemuinya? Lalu dia membacanya sampai selesai, terus diulangi puluhan kali?

Agar Cahaya Tak Kunjung Padam

Ketika orang membaca Al-Qur’an, memahaminya dengan akal dan merenunginya dengan hati, maka orang itu akan menemukan bahwa silaturahim bukanlah hal biasa. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat bukan sekadar perbuatan mulia yang bisa saja ditinggalkan. Tidak ada konsekuensinya dengan surga dan neraka.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat.” [An-Nisa’: 36].

Dalam ayat ini birrul walidain dan silaturahim disebutkan  setelah perintah bertauhid kepada Allah Ta’ala dan larangan berbuat syirik. Dua hal yang sangat penting dan berat konsekuensinya. Hal itu menunjukkan bahwa birrul walidain dan silaturahim juga mempunyai konsekuensi yang berat. Rasulullah saw. juga bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحمِ

“Berbuat dhalim dan memutus hubungan silaturrahim adalah dosa yang paling layak untuk Allah swt. segerakan siksaannya di dunia, sebelum siksaan yang disimpan sampai hari Akhirat.” [HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad].

Adanya rasa takut kepada siksaan Allah Ta’ala di dunia dan akhirat menunjukkan hidupnya hati. Hendaknya hal itu menjadi motivasi untuk selalu menjaga hubungan silaturahim. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Organization