Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merapikan Kembali Hati Kita

Merapikan Kembali Hati Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang (berjuang) di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
QS As-Shaff: 4

Saya selalu senang membuka sebuah renungan dengan merefleksikan kebersamaan kita bersama waktu. Allah sendiri beberapa kali bersumpah atas nama waktu dalam Al-Quran, untuk menunjukkan betapa pentingnya kita memaknai kebersamaan kita bersama sang waktu. Kalau coba kita refleksikan kembali perjalanan kita, mungkin sudah berapa banyak nikmat yang kita dapatkan di jalan dakwah ini bersama dengan waktu yang mengiringi kita. Betapa kita bersyukur diperkenalkan dengan konsepsi kebahagiaan abadi. Betapa kita bersyukur diperkenalkan dengan murabbi/ah yang nampaknya sangat anggun dalam membina kita. Betapa kita bersyukur dipertemukan dengan saudara-saudara yang senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan dakwah. Betapa banyak yang kita dapatkan, sebanyak apa kita memberi?

Dalam sebuah pertarungan melawan keluarga Franky di serial One Piece, Sanji pernah mengatakan “Jangan memulai pertarungan jika kau tidak bisa mengakhirinya.” Kita sudah memulainya, saudaraku. Tidak bisa kita mengelak, kita sudah memulainya tepat ketika kita merasa sangat bersyukur karena sudah bersama gerakan dakwah ini. Dan perlu kita sadari bahwa dakwah ini bukan hanya sekedar taujih-taujih yang menenteramkan hati, tapi juga meminta perjuangan, gerakan, pengorbanan, serta kerja nyata. Maka penting bagi kita melihat kembali ayat di atas.

Ada beberapa kunci yang dapat kita renungkan dari surah As-Shaff ayat ke empat yang di atas telah disebutkan. Kalau saya boleh sedikit membagi renungan saya, kata kunci dari ayat tersebut adalah: Cintanya Allah, Perjuangan di jalan Allah, serta Barisan yang teratur. Saya melihat ayat di atas merupakan ayat yang sangat baik untuk dapat memaknai apa yang sudah dan akan kita lakukan dalam amalan-amalan kerja kita. Ayat yang sangat baik untuk memaknai kebersamaan kita dengan waktu: yang lalu, hari ini, dan yang akan datang.

Pertama, saya ingin bilang bahwa perjalanan kita ini adalah perjalanan yang dipenuhi dengan cinta. Perjalanan kita ini adalah perjalanan yang dipenuhi dengan cintanya Allah dan sudah selayaknya dipenuhi dengan ambisi untuk mendapatkan cintanya Allah. Saya sering kali termenung dengan senyum, Kalau saja Allah tidak cinta, rasanya Dia tidak akan mempertemukan saya dengan antum semua. Kalau saja Allah tidak cinta, rasanya Dia tidak akan mempertemukan saya dengan rekan-rekan di Lembaga Dakwah dan para aktivis dakwah yang membersamainya. Kalau saja Allah tidak cinta, pasti Dia akan memberi rasa letih, bosan, dan malas kepada saya dalam aktivitas bersama ini. Kita harus sadar dan benar-benar paham bahwa keberadaan kita hari ini, di tempat ini, bersama orang-orang ini, adalah buah dari cintanya Allah kepada kita. Dan kita harus meyakini bahwa kita semua dipertemukan untuk sebuah alasan, tidak begitu saja bertemu. Bahwa Allah punya alasan yang kuat, kenapa setiap kita dipertemukan di jalan ini.

Sudah selayaknya, ketika kita memahami bahwa cinta Allah yang membersamai kita dalam kondisi kita hari ini, maka kita membalasnya dengan memberikan seluruh cinta kita bersama perjalanan ini. Sudah selayaknya pula kita memenuhi hari-hari kita di jalan ini dengan ambisi untuk mendapatkan cintanya Allah yang lebih hakiki. Sudah sewajarnya pula jika kita menghadapi semua masalah kita temui di jalan ini dengan penuh cinta. Maka dengannya, hilanglah lelah berganti Lillah. Maka dengannya, kita siap untuk memberikan cinta kita yang artinya memberikan yang terbaik yang kita miliki. Dan cukuplah cintanya Allah sebagai balasan atas itu semua, karena kita lebih mencintai cintanya Allah lebih dari kita mencintai diri kita sendiri.

Kedua, saya ingin bilang bahwa kita harus memastikan bahwa apa yang sedang dan akan kita kerjakan ini bukan untuk siapa-siapa; melainkan hanya untuk Allah. Dalam redaksi ayatnya, sebenarnya kata yang lebih tepat menggambarkan adalah kata berperang. Namun dalam konteks ini, saya ingin memaknai peperangan yang dimaksud dengan perjuangan. Amal Kerja. Bahwa kesungguhan kita dalam beramal dan bekerja ini akan menjadi prasyarat cintanya Allah yang tadi sudah kita bahas.

Kita juga harus memaknai bahwa yang Allah minta adalah perjuangan di jalan-Nya; tidak terbatas perjuangan di lembaga yang mungkin menaungi kita saja. Pertama kita harus meyakini bahwa gerak kerja kita di lembaga, atau di manapun itu, adalah bagian dari gerak kerja di jalan-Nya. Akan tetapi tidak boleh kita persempit bahwa hanya gerak kerja kita saja yang berada di jalan Allah. Kita meyakini bahwa ketika kita bicara tentang dakwah, maka kita tidak sebatas bicara tentang Lembaga Dakwah saja, tapi kita bicara tentang para aktivis dakwah. Kita bicara tentang saudara-saudara kita yang juga aktif di BEM, BPM, HM, atau FISIPERS. Kita bicara tentang orang-orang yang juga bekerja, tanpa batas organisasi. Apapun kendaraannya, selama kita meyakini bahwa kita berada di jalan yang sama, bekerjasamalah! Kita saling bekerja sama atas apa yang sama-sama kita sepakati, dan saling menghormati atas apa-apa yang tidak kita sepakati dengan orang lain.

Kam finna laisa minna, kam minna laisa finna. Kita harus memahami bahwa betapa banyak orang yang bukan bagian dari kita, namun mereka bersama kita. Begitu pula sebaliknya, mungkin ada beberapa orang yang bagian dari kita, namun mereka tidak bersama kita. Ada orang-orang yang secara administratif bukan bagian dari pengurus Lembaga Dakwah, tapi mereka bekerja sebagai agen kebaikan. Demikian pula sebaliknya, boleh jadi ada di antara kita yang secara administratif bagian dari pengurus Lembaga Dakwah, namun kita tidak bersama amalan-amalan kebaikan itu. Kita bicara tentang dakwah, bukan hanya sekedar aktivitas dari Lembaga Dakwah. Kita bicara tentang kerja-kerja kebaikan, bukan sebatas lembaga penebar kebaikan. Betapa banyak orang-orang yang bukan bagian dari Lembaga Dakwah ini, mereka juga bekerja untuk kebaikan. Kita berbahagia untuknya. Yang perlu kita waspadai dan kita renungkan dalam diri kita masing-masing adalah: apakah kita termasuk orang-orang yang berada di lembaga penebar kebaikan, tapi kita sendiri tidak bersama amalan-amalan kebaikan?

Ketiga, kita meyakini bahwa gerak kerja yang kita landasi dengan cinta tadi harus berada dalam susunan mekanisme yang rapi. Bahwa orang-orang yang dipanggil Allah, dan dicintai-Nya adalah orang-orang yang beramal dalam barisan yang tersusun rapi. Kita meyakini bahwa kejahatan yang terorganisasi akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Kita bersama-sama sudah merapikan mimpi dan menyusun rencana kita di awal. Di seratus hari lebih ini, mari sama-sama kita buka kembali lembaran rencana yang telah kita sama-sama impikan di awal kepengurusan kita. Kita perbaiki yang mungkin agak meleset dengan yang lebih baik lagi. Mumpung masih punya sembilan bulan, kita himpun kembali barisan kita untuk gerak yang lebih nyata. Berada dalam gerakan yang saling berharmoni, tersusun, dan kokoh.

Dari kesemua hal tersebut, saya ingin mengajak setiap kita untuk lagi-lagi membenahi hati kita. Kita memahami bahwa kerja kita di manapun itu bukan hanya sekedar kerja, tapi dakwah. Kita kemudian memahami bahwa dakwah adalah pekerjaan hati, maka ia butuh tenaga dari hati kita. Sedangkan hati kita mungkin sering kali masih labil, terkadang naik terkadang turun. Maka sering-sering menengoknya adalah hal yang perlu untuk dilakukan. Mari di hari ini, bersama-sama kita tengok kembali hati kita seraya merefleksikan surat As-Shaff ayat 4 tadi. Saya yakin, selalu ada ruang waktu untuk memperbaiki, lalu melangkah lagi dengan lebih yakin. Insya Allah.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Fathan Mubina
Ketua Majelis Syuro Salam UI 18 | QS Al-Fath : 1

Lihat Juga

Ilustrasi. (nuevotiempo.org)

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati

Organization