Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Ketika Sulit Menyuarakan Cinta; Tertahan!

Ketika Sulit Menyuarakan Cinta; Tertahan!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Alangkah nikmatnya menyimpan cinta.

Kata-kata indah akan silih berganti melewati telinga.

Hati seolah telah memiliki sandaran.

Lisan seolah telah memiliki tempat mencurahkan kata.

Tangan seakan-akan selalu menggenggam asa nan meninggi.

 

Alangkah terkejutnya.

Terperanjat sangat, akhirnya.

Dua cinta harus menang salah satunya.

Antara kekasih nan dirindu dengan Kekasih nan menciptakan.

 

Alangkah baiknya jika memenangkan cinta terhadap Kekasih.

Yang Mahatinggi. Mahacinta. Maha Penyayang. Mahakasih.

Ia pun tak pernah mengharamkan cinta terhadap kekasih.

Ia tak pernah membatasi insan dalam perahiban.

Bahkan, Nabinya jelas-jelas melarang.

Rasulullah berpesan, “Siapa tak menikah, bukan golonganku.”

 

Alangkah bijaknya bila menelusuri jalan yang ditetapkan.

Jalan nan baik. Jalan nan suci. Jalan nan sejuk.

Alangkah bijaknya….

Tetapi, terkadang, menempuh jalan ini tak semudah mengucapkan.

Inilah masalahnya….

 

Alangkah besarnya keyakinan tuk bersegera.

Melalui jalan ini, memurnikan cinta.

Namun, kesulitan kerap kali menyapa.

Besarnya iman di dalam hati seorang pemuda bisa kandas dan tertahan.

Apa sebabnya?

Bermacam. Kesulitan, bahkan dipersulit.

Menyegerakan, tapi dianggap mentergesai.

Seakan-akan menunda lebih baik daripada menyegerakan.

 

Alangkah mirisnya.

Keinginan mereka bahkan sulit tuk tersuarakan.

Harapan mereka bahkan sukar tuk tersalurkan dalam ucap.

Lisan seolah kelu dalam pengutaraan.

Orangtua kadang sulit diajak untuk berdiskusi, bermusyawarah.

Terkesan otoriter; tak ingin anak mendewasa. Padahal, sudah semestinya.

Ini kebodohan. Disebabkan oleh kemalasan tuk belajar.

 

Alangkah beratnya beban di pundak sebagian pemuda.

Harapan keluarga, ditaruh di punggungnya.

Sementara, beban itu begitu besar. Sedangkan ia tak sekuat itu.

Padahal, sebagai hamba beriman, harap dan pinta hanya pada Allah.

Saat ini, ketika membicarakan tentang ini, seakan-akan iman pergi entah kemana.

Seakan-akan telah hilang.

 

Akhirnya,

Betapa banyak orang yang tertahan dalam pengharapannya.

Seolah tak kan pernah bisa berbuat, bila hanya atas nama iman.

Dipaksa kaya, baru menikah.

Dipaksa mapan, baru menikah.

Ya Allah…, inilah umat-Mu yang mengaku iman kepada-Mu, tapi meragukan-Mu.

Siapakah kami ini?

Munafik? Mungkin!

Ayat-ayat-Mu kami balik. Kemudahan dari-Mu, kami jadikan sulit.

Ya Allah, cerahkan hati kami dengan cahaya iman.

Sebenar-benar iman…

Sebenar-benar iman…

Sebenar-benar iman…

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Pernikahan - inet / arabe-media.com

Pembuktian yang Sebenarnya