Home / Berita / Nasional / Kisah Inspiratif Angga, Anak Petani Peraih IPK Tertinggi

Kisah Inspiratif Angga, Anak Petani Peraih IPK Tertinggi

Angga Dwituti Lestari, Mahasiswa UNS peraih IPK 3,98.  (solopos.com)
Angga Dwituti Lestari, Mahasiswa UNS peraih IPK 3,98. (solopos.com)

dakwatuna.com – Solo.  Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi dan menggapai cita-citanya. Setelah Raeni dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), kini ada satu mahasiswi asal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berprestasi, Angga Dwituti Lestari.

IPK Angga Dwi Tuti Lestari bahkan mampu mengalahkan IPK yang diperoleh Raeni yang sebesar 3,96. Perempuan kelahiran Sleman 21 Februari 1992 ini lulus dengan IPK 3,98. Yang lebih mencengangkan, Eng -demikian dia biasa dipanggil- merupakan putri dari seorang petani.

Raut wajah gembira terlihat saat anak kedua dari dua bersaudara pasangan Supriyanto dan Sugiyanti yang tinggal di Cibuk Lor I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta ini ditemui di ruang Humas Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Selasa (17/6/2014).

Kegembiraan tersebut dikarenakan Eng mampu mewujudkan impian orangtuanya untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Eng merupakan mahasiswi program studi Biologi Fakultas MIPA UNS angkatan 2010 yang diterima, dan mendapatkan beasiswa bidikmisi.

“Ayah saya seorang petani. Ibu saya lulus SD saja tidak. Terus terang pada mulanya saya bingung kalau mau melanjutkan sekolah uang dari mana. Untungnya saya dapat bidikmisi,” papar Eng mengawali ceritanya, di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah seperti dikutip dari okezone.

Meskipun Eng mendapatkan bidikmisi, dirinya mengaku tak bisa hanya berdiam diri saja. Untuk menghidupi biaya sehari-hari selama berkuliah di Kota Solo, pada awal semester, Eng bekerja sebagai guru les. Namun pekerjaan tersebut hanya dia lakukan pada semester awal saja, sebab beasiswa bidikmisi yang didapatkannya sudah cukup membantu.

Eng pun akhirnya memutuskan untuk merintis usaha kecil-kecilan. Begitu dia mendapat beasiswa Bidikmisi, beasiswa tersebut dia gunakan untuk merintis usaha jus organik. Pelan namun pasti, usaha jus organik yang dirintis di kampung halamannya, yaitu di Yogya berjalan cukup sukses.

“Setiap bulan saya menabung Rp100 ribu. Setelah terkumpul Rp1 juta saya gunakan untuk buka usaha itu. Bahkan saya mampu menyewa tempat kecil-kecilan di depan SMP 1 Godean,” ujar perempuan lulusan SMA 1 yogyakarta ini.

Meskipun kepadatan kuliah, ditambah usaha jus organik yang dijalaninya, tak mengganggu waktunya untuk berkuliah. Selama kuliah di UNS, Eng selalu mendapatkan IPK 4,0 di setiap semesternya. Hingga akhirnya, Eng mendapatkan kepercayaan penuh mewakili Indonesia dalam pertemuan World Student Environment Summit yang diikuti 34 negara di Jerman pada 2013 lalu.

Sebenarnya Eng sudah di wisuda pada Februari lalu. Namun karena dirinya mengalami kecelakaan sepeda motor saat bersama saudaranya, maka Eng memutuskan menunda wisudanya. Baru pada Maret, Eng resmi diwisuda.

“Untungnya waktu kecelakaan itu saya tidak apa-apa. Hanya saudara saya yang luka. Karena itulah saya menunda wisuda saya. Tidak enak lihat saudara sakit, masak saya nekat untuk wisuda,” paparnya. (ade/okezone/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Impro gula. ilustrasi. (tempo)

Pemerintah Ingin Impor 600.000 Ton Gula, Petani Tebu: Ini Macam Mana? Kami akan Mati!

Organization