Home / Berita / Internasional / Asia / US-Islamic World Forum: Syariah Islam Selaras dengan Norma Internasional

US-Islamic World Forum: Syariah Islam Selaras dengan Norma Internasional

Forum Amerika Serikat-Dunia Islam di Doha (Aljazeera)
Forum Amerika Serikat-Dunia Islam di Doha (Aljazeera)

dakwatuna.com – Doha. Ada kesenjangan antara teks-teks Syariah Islam dan terjadinya praktik-praktik berdarah di Afrika dan Timur Tengah. Inilah yang dibahas dalam sebuah diskusi di sela-sela Forum Amerika Serikat dan Dunia Islam yang diadakan di Doha, mulai Senin (9/6/2014) kemarin.

Diskusi ini dihadiri para pemikir dan akademisi ini bertemakan “Keadilan dalam Menyiapkan Pasca Konflik: Syariah Islam dan Masyarakat Islam Sebagai Pihak yang Berkepentingan dalam Keberhasilan Perubahan.”

Semua peserta mempunyai keyakinan yang sama bahwa Syariah Islam mempunyai keselarasan dengan norma-norma internasional dalam kondisi konflik. Namun demikian, keheranan muncul ketika terjadi jurang pemisah yang sangat luas antara teks-teks Syariah dan kenyataan yang terjadi di alam nyata.

Prof. Syarif Basyuni, dari Institut Internasional Studi Tinggi Ilmu Kriminal, menekankan bahwa prinsip-prinsip Syariah Islam jauh lebih mulia dari sekadar konsep toleransi, keterbukaan terhadap pihak lain, anti kekerasan dan ekstremisme.

Namun Basyuni merasa heran, ternyata masih saja terjadi pertumpahan darah yang kadang melibatkan umat Isam juga. Seperti yang terjadi di Bangladesh pada tahun 70-an yang silam. Terjadi juga di Nigeria, Somalia, Irak, Suriah, dan lainnya.

Menurutnya, yang paling mengherankan adalah kasus Boko Haram di Nigeria yang mengklaim dirinya sebagai umat Islam tapi ternyata menculik pelajar putri. Padahal ajaran Islam menghormati HAM jauh lebih baik daripada Konvensi Jenewa. Namun keheranan ini tidak membuat Basyuni membahas apa sebab-sebab terjadinya kasus Boko Haram itu.

Al-Ubaid Ahmad Al-Ubaid, dari Pusat Studi PBB untuk Training dan Dokumentasi dalam Penegakan HAM, lebih menyalahkan rezim berkuasa di negara-negara tersebut yang menyebabkan munculnya fenomena kekerasan. Rezim-rezim itu memerintah dengan tangan besi, merampas kebebasan, dan mengeksploitasi agama dalam mempertahankan kekuasaan. Padahal Islam menjamin warga negara hak dalam berpendapat.

Sedangkan Mahraziah Al-Ubaidi, wakil ketua parlemen Tunisia, menuduh media massa yang terlalu meliput dan mempublikasikan ekstremisme, mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan yang sering ditunjukkan para aktivis Islam dalam perjuangan mereka. Sehingga yang tersebar adalah wajah buruk para aktivis Islam, padahal separuh dari korban kesewenang-wenangan rezim diktator adalah mereka sendiri. (msa/dakwatuna/aljazeera)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir