Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Analisis Terhadap Seruan Tuhan tentang Larangan Su’uzhan (Studi Kasus: Shalat Berjamaah)

Analisis Terhadap Seruan Tuhan tentang Larangan Su’uzhan (Studi Kasus: Shalat Berjamaah)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (endless-paradise.co.cc)
Ilustrasi (endless-paradise.co.cc)

dakwatuna.com – Tulisan ini hanya diperuntukkan kepada Negara-negara yang percaya kepada adanya Tuhan. Logika Bodoh merupakan sebuah permainan akal manusia yang mencoba menyimulasikan berbagai kejadian dengan pendekatan probabilitas. Penggunaan Logika Bodoh acap kali dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya paling hebat, lembaga organisasinya paling solid, halaqahnya paling murni, ajarannya paling sahih, dan berbagai kondisi ‘paling’ yang dimilikinya.

Logika bodoh juga bisa dikatakan sebagai sebuah “onani akal” yang merupakan biang dari perbuatan ‘Laknatullah’ yaitu su’uzhan. Su’uzhan merupakan sebuah atau banyak kejadian yang merupakan hasil dari sebuah simulasi Logika Bodoh yang menggunakan pendekatan probabilitas.

Semakin banyak kejadian yang disimulasikan, bisa dikatakan sebagai dampak dari pengalaman membaca, mengalami langsung, dan berbagai pengalaman lainnya. Kondisi tersebut membuat seseorang merasa paling hebat dengan banyaknya hasil simulasi Logika Bodoh yang dimilikinya. Tuhan telah memberikan seruan-Nya berupa larangan terkait perbuatan keji ini seperti yang tertulis jelas pada surat al-Hujurat: 11-12,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman (Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya) dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Ditekankan kembali pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

“Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai, berdengki-dengkian, belakang-membelakangi dan benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allah bersaudara.” (HR. Bukhori).

Al-Qur’an dan Hadits ini terbit ribuan tahun yang lalu dan kemudian masih diterapkan bagi mereka yang mempercayainya. Mereka yang percaya tentunya memiliki alasan karena Rasulullah telah meninggalkan dua pusaka yaitu al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hingga akhir zaman yang membuktikan fleksibiltas dan dinamisnya kedua peninggalan ini.

Tentunya, seorang manusia tidak akan pernah puas jika segala hal seruan tersebut tidak masuk ke dalam Logika Bodoh yang dimilikinya. Tentunya, perlu dipahami aturan bahwasanya letakkanlah al-Quran dan Hadits sebagai garda terdepan dan kemudian setelah baru Logika Bodoh yang saya, anda, dan kita semua miliki.

Kisah berikut barangkali menarik untuk disimak terkait penggunaan Logika Bodoh yang berhimbas pada su’uzhan, yang terjadi pada tahun 2013 lalu.

Ketika itu tubuh ini berjalan begitu tegap untuk mendekat ke arah sumber suara yang telah memanggil. Panggilan biasa yang selalu terdengar 5 kali dalam sehari. Di tengah perjalanan tak sengaja mata ini tertoleh ke kiri, melihat sebuah pemandangan. Ya, sebuah pemandangan yang menjawab pertanyaan bertahun-tahun di mana seorang tokoh agama sedang duduk manis tengah asik menonton televisi dikala seruan itu telah memanggil. Prasangka pun muncul tak karuan. Pertanyaan bertahun-tahun terjawab sudah. Pertanyaan apa? Ya, sebuah pertanyaan yang mempertanyakan kenapa tokoh agama itu enggan untuk shalat berjamaah ke masjid?

Pemandangan tersebut memberikan leluasa kepada akal untuk melakukan simulasi Logika Bodoh itu. Adapun hasil simulasinya adalah

  1. Logika Bodoh I: Barangkali karena dia lagi sakit, makanya ia tidak berjamaah
  2. Logika Bodoh II: Tokoh agama ini sepertinya orang munafik, karena di tengah azan masih enak menonton televisi dan lebih parahnya lagi tidak ikut shalat berjamaah.
  3. Logika Bodoh III: Kalau seandainya sakit, kenapa dia bisa shalat Jum’at di masjid tetapi untuk berjamaah di waktu lain tidak bisa.
  4. Logika Bodoh IV: Tokoh agama ini orang yang tidak bagus agamanya dan amalannya sedikit

Pada Logika Bodoh I, hati ini mencoba terus berprasangka baik. Tetapi itu semua hilang setelah melihat tokoh agama tersebut melakukan hal yang sama beberapa kali. Dan memberikan kesempatan untuk munculnya Logika Bodoh II yang tersimpan berbulan-bulan.

Simulasi pertanyaan itu menghasilkan sebuah prasangka di dalam diri ini akibat dari Logika Bodoh yang sedang ‘beronani’. Prasangka tersebut pun disebar dan menghasilkan sebuah fitnah.

Sekian bulan hasil simulasi yang menggunakan pendekatan probabilitas itu pun tersimpan dengan rapi. Tak disangka, di sebuah warung kecil penjual es kelapa muda, Allah mempertemukan kami berdua. Pertemuan tersebut tentunya dimulai dengan asumsi hasil simulasi logika yang kumiliki bahwasanya tokoh agama ini tak baik. Lemparan senyum sekaligus sapa kulayangkan kepadanya. Beliau pun membalas dengan senyuman dan sapaan yang baik. Ternyata, maksud dan tujuan kami sama di tempat ini, membeli air kelapa muda untuk buka puasa sunnah Senin-Kamis. Ia sempat bertanya tentang tempat tinggalku dan saling becerita. Akhirnya, berujung pada satu cerita bahwasanya kita dari jamaah masjid yang sama. Ya, di masjid itu.

Tetapi hati ini tidak puas, karena masih ada 3 logika bodoh lagi yang belum terjawab. Hati ini terus bergumam mempertanyakan logika tersebut. Tapi tentunya, tak berani diungkap. Tak kusangka, mulut si tokoh agama tersebut pun keluar ucap, bahwasanya kakinya ini sakit. Jadi shalat ke masjid itu susah apalagi ketika duduk. Jawaban ini pun mementalkan Logika Bodoh 2.

Tetapi, hati ini pun tak puas dan hati ini masih menyimpan tanya, “Lah, kenapa bisa Shalat Jum’at, Pak?” Subhanallah, tokoh agama tersebut kembali berucap bahwasanya pas shalat Jumat itu kakinya dipaksa untuk duduk, dan memang sakit sekali rasanya. Jawaban ini memporak-porandakan Logika Bodoh 3. Subhanallah.

Tokoh agama tersebut pun bercerita, barangkali untuk menginspirasiku. “Dek, Bapak Alhamdulillah lancar puasa sunnah Senin-Kamis, sehari bisa sekian juz al-Qur’an. Setelah Subuh, bapak biasanya membaca amalan ini sekian kali, Zuhur membaca ini sekian kali, Ashar mambaca ini sekian kali, Maghrib membaca ini sekian kali, dan Isya membaca ini sekian kali. Serta tak lupa membaca Asmaul Husna.” Jawaban tersebut sontak mencabik-cabik Logika Bodoh 4 yang menunjukkan ternyata pahalanya lebih hebat.

Hati ini merasa berdosa sekali karena telah bersu’uzhan kepada tokoh agama tersebut. Ternyata amalannya luar biasa sekali dan memang benar apa yang disebutkan pada terjemahan al-Hujurat di atas. Dapat kita simpulkan, bahwasanya sebanyak apapun kita berlogika, itu semua adalah probabilitas yang entah berantah kebenarnnya dan masih ada satu logika yang tidak tertangkap oleh akal terbatas kita yang pasti kebenarannya. Semoga hamba tetap rendah hati, tidak lagi su’uzhan, dan tetap istiqamah dalam kebaikan. Ya Allah. Semoga ibadahnya berkelanjutan, Pak. Dan, kakinya cepat sembuh. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Robby Prakoso
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Industri Universitas Andalas. Saat ini aktif sebagai Ketua Badan Pengawas UKM Penalaran Unand dan Ketua Pemuda dan Remaja Masjid Ittihadulmuslimin Lapai Padang.

Lihat Juga

Masyarakat Dukung DPRD Bentuk Perda Kawasan Tanpa Rokok