Home / Narasi Islam / Sejarah / Rajab, Bulan Kemenangan

Rajab, Bulan Kemenangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kemenangan (inet) - jawaban.com
Kemenangan (inet) – jawaban.com

dakwatuna.com – Bulan Rajab dikenal oleh sebagian besar kaum muslimin di dunia sebagai bulan terjadinya Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebuah perjalanan hamba Allah di malam hari, sebagai pelipur lara ditinggalnya oleh sang kekasih, Khadijah, dan sang pelindung, Abu Thalib. Perjalanan yang mempunyai misi penyerahan tongkat estafet dakwah dari para rasul sebelumnya kepada Muhammad, rasul terakhir. Perjalanan yang menghasilkan tugas melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Perjalanan yang dinilai sebagai simbol kemenangan pertama umat Islam, sebagai pewaris Masjid al-Aqsha.

Kemenangan pertama umat Islam dalam pembebasan Masjid al-Aqsha dilalui tanpa pertumpahan darah. Delapan belas tahun kemudian, Umar bin Khattab mengikuti jejak pendahulunya dalam membebaskan Masjid al-Aqsha, pun tanpa pertumpahan darah. Umar memberikan janji kepada penduduk Elia (al-Quds) yang ketika itu dikuasai Romawi. Perjanjian ini dikenal dengan sebutan “Al-‘Uhdah al-‘Umariyah”

Di hari-hari ini, kita sedang memperingati sebuah pertempuran dalam penaklukan besar Islam dari kiblat yang pertama. Kita juga meneladani seorang model pahlawan penakluk, yang bekerja mengeluarkan sebuah bangsa dari krisis. Ia adalah Yusuf bin Ayyub, yang dikenal dengan sebutan an-Nashir Shalahuddin al-Ayyubi dalam pertempuran Hittin.

Umat Islam sebelum masa pemerintahannya mengeluhkan ketidakadilan dan korupsi ada di mana-mana. Ketika ia mengambil alih kementerian Mesir, dengan berkat karunia Allah, ia mengambil langkah positif yang signifikan dalam menyatukan umat Islam. Ia meneriakkan syiar perbaikan akidah. Karena keimanan sebagian besar umat Islam pada masa itu sudah rusak. Shalahuddin melihat akan bahaya kerusakan akidah dan moralitas tersebut serta perpecahan sesama umat Islam.

Sebagai langkah pertama dalam memperbaiki akidah, beliau mendirikan sekolah-sekolah yang bermazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebelum Shalahuddin memimpin, Mesir dikuasai Daulah Fathimiyah yang berhaluan Syi’ah. Tidak mudah mengubah mazhab Syi’ah ke Ahlus Sunnah karena paham Fathimiyah telah mengakar selama lebih dari dua ratus tahun. Sampai sekarang pun, di Mesir masih banyak orang yang berpemahaman Syi’ah.

Setelah Shalahuddin berhasil dengan langkah pertama, ia bergerak menuju langkah kedua, yaitu menyatukan wilayah kaum muslim. Dengan cara itu ia dapat menghadapi musuh-musuh Islam dalam satu barisan, tidak ada pertikaian dalam barisan tersebut.

Langkah ini bukannya tidak ada masalah. Ia berhadapan dengan Gubernur Aleppo (Halb) yang tidak mau membukakan pintu wilayahnya. Ia juga menemukan banyak sekali halang rintangan hingga ia menghadapi percobaan pembunuhan. Namun, Allah menyelamatkannya dari ujian tersebut.

Begitulah Shalahuddin mengerahkan upaya besar untuk menyatukan umat Islam. Setelah umat Islam bersatu, kemudian ia mulai menghadapi musuh tentara Salib yang terdiri dari seluruh negara Eropa. Mereka berkumpul dalam pasukan tentara dengan jumlah besar yang bergerak melawan pejuang Muslim. Antara pasukan Salib dan pasukan Shalahuddin banyak sekali terjadi pertempuran. Namun pasukan Shalahuddin lebih banyak memenangkan pertempuran tersebut. Diantaranya adalah pertempuran di Hittin kemudian diikuti dengan penaklukan al-Quds (Yerusalem).

Diantara kejadian masyhur dalam pembebasan al-Quds adalah peristiwa gencatan senjata antara Shalahuddin dan Arnat yang merupakan seorang pemimpin Salib di wilayah Karak. Salah satu poin dalam gencatan senjata tersebut adalah diperbolehkannya kafilah Islam untuk berpindah antara negeri Mesir dan Syam tanpa ada hambatan. Tapi, poin ini dikhianati oleh Arnat. Mereka menghadang kafilah kaum muslimin dan menyita semua barang-barang serta menangkap para pemudanya. Lebih dari itu, mereka menghina kaum muslimin dan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Arnat berkata, “Jika kalian percaya kepada Muhammad, maka panggillah ia sekarang untuk membebaskan kalian.” Kejadian itu terjadi pada tahun 572 H.

Ketika Salahuddin mengetahui pengkhianatan tersebut dan pelecehan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, memuncaklah kemarahannya karena Allah dan Rasul-Nya. Ia bersumpah, apabila Allah memenangkan pertempuran ini, ia sendiri yang akan membunuh Arnat dengan tangannya.

Shalahuddin menyiapkan pasukannya dan membakar jiwa-jiwa mereka. Setelah musyawarah dilakukan sesuai perintah Allah dalam firman-Nya, “Dan bermusyawarahlah kalian dalam berbagai urusan…” (Q.s. Ali Imran: 159). Mereka sepakat untuk keluar berperang menghadapi musuh setelah shalat Jum’at. Saat keluar, mereka meneriakkan takbir, bersimpuh di hadapan Allah seraya memohon kemenangan.

Bertemulah dua pasukan dan terjadi pertempuran yang sangat dahsyat. Allah Ta’ala memenuhi janjinya sebagaimana firman Allah, “Jika kalian menolong agama Allah niscaya Allah akan memenangkan kalian.” (Q.s. Muhammad: 7). Dan firman Allah, “Dan telah dibenarkan janji Kami memenangkan orang-orang mukmin.” (Q.s. Ar-Ruum: 47). Allah menuliskan kemenangan bagi umat Islam dan ini merupakan kemenangan besar. Setelah pertempuran selesai, Shalahuddin pun sujud syukur atas kemenangan yang telah Allah berikan. Beliau mencari Arnat yang telah menghina Rasulullah. Setelah bertemu, Shalahuddin menawarinya untuk masuk Islam tapi Arnat menolak. Maka Shalahuddin memenuhi sumpahnya.

Kemenangan besar dalam pembebasan Masjid al-Aqsha itu terjadi pada tanggal 27 Rajab 583 H/ 2 Oktober 1187 M. Bulan Rajab adalah bulan kemenangan dalam pembebasan Masjid al-Aqsha. Kemenangan pertama pada peristiwa Isra’, kemudian delapan belas tahun sesudahnya, Umar menaklukkan kota itu, dan Shalahuddin membebaskannya dari tentara Salib pada bulan yang sama.

Pelajaran dari kisah di atas, meskipun umat Islam saat ini hidup dalam krisis dan pertikaian internal dan eksternal, di tengah-tengah penderitaan yang meliputi bangsa dari semua sisi, kita melihat harapan memancar dari sudut rasa sakit untuk memberikan semangat baru dan optimisme yang dapat menemukan jalan keluar dari apa yang melanda umat Islam.

Sesungguhnya, jalan keluar itu terbentuk dari keimanan, sikap jujur kepada Allah, dan siap menghadapi musuh Allah. Momentum bulan Rajab adalah momentum kemenangan. Kemenangan itu dimulai dengan keimanan yang kuat kepada Allah, lalu persatuan antara umat Islam yang tidak dapat dipecah dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Setelah keimanan dan persatuan dapat berpadu, maka tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkannya. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kemenangan dan dapat melaksanakan shalat di Masjid al-Aqsha dalam kondisi sudah merdeka.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir pada bulan Mei 1982 di Jakarta. Alumni Al-Azhar Mesir pada tahun 2003. Pernah mengikuti pelatihan fatwa intensif selama tiga tahun di Lembaga Fatwa Mesir (Darul Ifta al-Mishriyyah) hingga tahun 2010. Sekarang diamanahkan sebagai Sekretaris Umum Asia Pacific Community for Palestine (ASPAC For PALESTINE).

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General

Organization