Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Sekolah Robot

Bukan Sekolah Robot

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Ibnu Qadri Al-Banjari)
Ilustrasi. (Ibnu Qadri Al-Banjari)

dakwatuna.com – Seorang siswa mendapat tugas dari gurunya. Tugasnya adalah mencari 20 keinginan dua orang tetangga. Tetangga yang pertama boleh orang yang tinggal di dekat rumah, sedangkan tetangga yang kedua harus tinggal berjauhan dari rumahnya.

Tetangga pertama yang  dikunjungi bernama pak Slamet. Bapak ini merupakan orang yang berkecukupan. Awal kedatangan siswa ini, sebut namanya Rima, membuat bapak ini bingung. Tapi setelah dijelaskan kepada bapak itu maksud dan tujuan kedatangan Rima, akhirnya bapak itu mengerti.  Setelah menuliskan keinginan bapak itu, akhirnya Rima berpamitan pulang.

Malam kedua, Rima mengunjungi tetangga kedua yang rumahnya agak jauh dari rumah Rima. Bapak yang bernama Sam ini hanya menyambut Rima di teras rumah dengan kursi bambu karena ruang tamu terpakai oleh anak-anaknya untuk tidur. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi rumah pak Slamet yang kaya. Rima juga menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi bapak itu perihal tugas yang diberikan oleh guru kepadanya. Setelah menuliskan 20 keinginan bapak Sam, Rima pun berpamitan pulang.

Di sekolah, setelah berdiskusi dengan guru, akhirnya Rima pun menentukan apa saja keinginan  kedua bapak itu yang termasuk kebutuhan. Meski begitu, tugas pelajaran ekonomi   tentang materi “keinginan dan kebutuhan” belum selesai. Rima harus menyampakan hasil analisisnya kepada kedua Bapak itu.

Pada malam berikutnya Rima mendatangi rumah Pak Slamet untuk menyampaikan apa saja diantara 20 keinginan bapak itu yang menjadi kebutuhan.

“Setelah saya analisis apa saja yang menjadi kebutuhan Bapak dan mengurutkannya, ternyata yang menjadi kebutuhan Bapak yang pertama adalah membeli mobil. Dengan membeli mobil, bapak akan mudah mengantarkan semua anak-anak bapak ke sekolah”

Mendengar penjelasan Rima, Pak Slamet dan Bu Slamet tertawa. “Betul kan Bu, kita harus beli mobil lagi. Kau hebat Rima. Analisismu bagus sekali.”

Mendengar pujian itu Rima malah menangis. Pak Slamet pun bingung dan menanyakan kepada Rima perihal dia menangis.

“Saya melakukan riset ini pada dua keluarga Pak. Saya juga mewawancarai Pak Sam yang tinggal agak jauh dari sini. Tapi hasil riset saya yang kedua sangat menyedihkan. Saya baru saja dari sana. Kebutuhan utama Pak Sam adalah pekerjaan untuk memberi makan sembilan anaknya.”

Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Rima pamit pulang. Dua minggu kemudian terjadi hal mengejutkan yang takkan dilupakan Rima seumur hidup. Pak Slamet sesuai anjuran Rima membeli mobil dan ternyata juga mempekerjakan Pak Sam sebagai sopirnya.

Kedua Bapak itu datang kesekolah dan berterima kasih kepada Rima dan sang guru. Mereka berterima kasih karena metode pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada Rima telah menembus batas sekolah dan kehidupan nyata.

Dari sepenggal cerita di atas, kita tahu bahwa sekolahnya Rima adalah sekolah yang telah memanusiakan muridnya. Bukan menjadikan siswanya sebagai robot.

Sekolahnya manusia adalah sekolah yang bisa membuat siswanya kreatif. Tidak hanya mendengarkan ceramah guru, mulai dari materi disampaikan hingga materi berakhir. Tentu, ini akan membuat siswa mengantuk, bosan dan mengobrol dengan temannya karena tidak menariknya cara guru dalam mengajar.

Untuk menghindari pembelajaran yang monoton itu, dalam buku Sekolahnya manusia, Munif Chatib telah menjelaskan metode dan strategi pembelajaran yang dapat  membuat siswa belajar dengan senang hati. Metode ini tidak seperti yang diterapkan di kelas-kelas pada umumnya.

Sepotong cerita tadi juga merupakan salah satu strategi pembelajaran kreatif yang melibatkan siswa secara langsung. Bahkan penilaian yang diberikan terhadap pembelajaran ini tidak hanya dari ranah kognitif. Tetapi juga dari ranah psikomotorik dan afektif. Tanpa tata krama dan kemampuan berkomunikasi yang bagus, tentu Rima tidak akan bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Tak hanya tentang strategi belajar kreatif dan penilaian yang dibahas dalam buku tersebut, tapi juga tentang  cara kita memaknai kecerdasan siswa. Kebanyakan sekolah hanya menganggap siswa pintar jika dapat menyelesaikan soal hitung-hitungan dalam waktu singkat. Dari teori Multiple Intelegences yang di temukan oleh Howard Gardner,  sebenarnya semua murid itu pintar. Semua siswa memiliki kecerdasan masing-masing. Siswa belum bisa mengerjakan soal-soal itu dengan cepat dan tepat  karena sang guru belum mengajarkan pelajaran itu dengan cara yang disukai oleh anak tersebut. Jadi guru belum mengajar sesuai dengan kecendrungan kecerdasan yang dimiliki anak.

Oleh karena itu, agar guru mengetahui kecerdasan apa saja yang dimiliki oleh sang anak, maka sekolah ketika melakukan penerimaan siswa baru harus melakukan MIR (Multiple Intelegences Research). Dengan hasil MIR, guru dapat mengetahui kecerdasan apa yang dimiliki oleh setiap anak.

Diketahuinya kendrungan kecerdasan sang anak, maka guru bisa membuat lesson plan yang metode pembelajarannya sesuai dengan apa yang disukai siswa. Jika guru telah mengajar dengan cara yang disukai siswa, tentu materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik. Jika semua siswa paham dengan apa yang diajarkan oleh sang guru, maka tidak akan ada istilah siswa bodoh.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Dedi Hadiarto)

Mengantar ke Sekolah dan PLS untuk Apa?

Organization