Home / Narasi Islam / Sosial / Idealnya Sang Pemimpin

Idealnya Sang Pemimpin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ketahuilah! Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu. ( Rasulullah Muhammad Saw ).

Seperti kata yang diucap Rasulullah Saw, setiap pribadi adalah pemimpin. Pemimpin untuk hati. Pemimpin untuk dirinya sendiri.

Hati, sang pengatur harus digunakan untuk menimbang-nimbang apa yang seharusnya diperbuat. Sedangkan otak yang kita miliki digunakan untuk memikirkan apa yang seharusnya dilakukan.

Manusia diciptakan Tuhan sebagai sang khalifah yang harus tahu bagaimana dalam berucap dan bersikap. Karena, tanpa kita menimbang-nimbang apa yang kita lafazkan tentu akan ada banyak orang yang tidak menyukai kita. Jika tidak berhati-hati dalam berujar, tentu orang akan menilai bahwa kita kurang ajar.

Selain itu, semua tindak-tanduk kita juga harus diperhatikan. Sebagai manusia, kita harus tahu mana yang baik dan mana yang buruk.  Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Kita juga harus peka perihal sikap seperti apa yang disukai dan yang tidak disukai orang.

Di sisi lain, keselarasan antara ucapan dan sikap harus bersinergi satu sama lain. Apa yang diucap harus sesuai dengan apa yang dilakukan. Jikalau kita bisa melakukan apa yang kita ucapkan, tentu selain bisa jadi pemimpin bagi diri sendiri, kita juga bisa jadi pemimpin bagi orang lain.

Idealnya, seorang pemimpin memang terletak pada kesesuaian antara apa yang ia ucapkan dan apa yang ia lakukan. Seorang pemimpin yang berbicara tanpa adanya bukti kongkrit, ada tidaknya  dia melakukan apa yang dia ucap, tentu sang pemimpin itu hanya akan menjadi bahan gunjingan para bawahan. Memang, di depan mereka semua melakukan apa yang dikatakan atasan. Tapi dibelakang,  sang pemimpin tesebut akan menjadi bahan pembicaraan yang hangat sesama karyawan.

Jika kita ingin mencari sosok pemimpin yang ideal, dia adalah Nabi Muhammad Saw. Ucapan Rasulullah Saw  ini tak lagi diragukan. Integritas beliau pun tak perlu lagi dipertanyakan. Bahkan, beliau adalah sosok pemimpin yang tidak pernah menyuruh, beliau hanya memberi contoh.

Jadi lebih ideal lagi, pemimpin adalah seseorang yang tidak menyuruh orang lain.  Dia tidak memberi perintah seenaknya kepada orang yang lebih rendah jabatannya. Dia tidak berpesan melalui tutur kata, tapi melalui tindakan.

Contohnya, jika sang pemimpin ingin bawahannya disiplin, pemimpin ini seharusnya telah menampakkan kepada anak buahnya bahwa dia adalah orang yang disiplin. Salah satu sikap sederhana seorang pemimpin yang bisa membuat sang anak buah disiplin adalah dengan datangnya dia ke kantor terlebih dahulu daripada karyawan. Jikalau sang pimpinan telah datang terlebih dahulu, tentu orang yang masih memiliki jabatan lebih rendah darinya akan menjadi segan dan malu. Sehingga keesokan harinya, para anak buah pun akan berusaha datang lebih awal.

Di sisi lain, hal yang perlu ditanamkan dalam diri pemimpin itu adalah kesamaan rasa. Pernah suatu ketika, penulis berkunjung ke suatu lembaga Dompet Umat yang berada di Pontianak, Kalbar. Di sana penulis bersama rekan Dompet Umat saling berbagi ilmu dan pengalaman. Hingga akhirnya terucap salah satu fakta yang membuat penulis salut terhadap sistem yang dimiiki oleh lembaga ini.

Apa itu? Sang direktur Dompet Umat ikut kebagian piket bersama rekan-rekan Dompet Umat lainnya. Semua pukul rata. Hal yang tidak biasa penulis temui dalam kebanyakan lembaga. Dengan ikutnya sang direktur dalam membersihkan kantor akan membuat sang pemimpin ini tidak tinggi hati. Dia pun tahu bagaimana rasanya membersihan kantor. Hingga penghargaan terhadap hal-hal kecil yang tidak terperhatikan menjadi timbul.

Hal lain yang harus dimiliki oleh sang pemimpin adalah kepedulian. Tak banyak saat ini pemimpin yang peduli dengan apa yang terjadi pada karyawan. Sang pemimpin hanya tahu bahwa si bawahan harus menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Jika ada yang tidak beres, si pemimpin tidak mau tahu apa akar pemasalahan sehingga pekerjaan yang seharusnya telah selesai itu menjadi terhambat.

Dalam hal ini, memang sangat diperlukan komunikasi yang terbuka antara atasan dan bawahan. Misal, jika ternyata penyebab ketidakfokusan bawahan dalam bekerja adalah karena anaknya  yang sakit dan dia yang tidak memiliki duit, maka di sinilah sikap peduli dan kebijaksanaan sang pemimpin harus diperlihatkan.

Karena sang pemimpin telah mengetahui keadaan ini, akhirnya selain memberikan nasihat untuk bersabar, pemimpin juga memberi bantuan secara moril, hingga berkuranglah beban fikiran bawahan. Lalu apa efeknya? Setelah sang anak sembuh, akhirnya kinerja sang bawahan meningkat mengingat kebaikan sang pemimpin.

Menjadi pemimpin penting itu memang baik. Tapi menjadi pemimpin yang baik, itulah yang lebih penting. Jikalau semua atasan peduli dengan nasib bawahan, maka ia akan menjadi pemimpin yang dihargai dan dihormati.  Namun, jikalau atasan itu tidak memiliki kepedulian, maka orang itu tidak pantas disebut sebagai pemimpin. Melainkan hanya bisa disebut  sebagai “pimpinan”.  Jadi, pemimpin itu tidak hanya sebagai jabatan. Melainkan sikap dan ucap yang berkarakter dan selalu sejalan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Dibekali Pejabat Publik dan Para Menteri, BKPRMI Optimis Lahirkan Pemimpin Nasional