Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Tayangan Televisi yang Semakin Merusak Perkembangan Anak

Tayangan Televisi yang Semakin Merusak Perkembangan Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comDewasa ini, televisi merupakan media elektronik yang sudah tidak asing lagi bagi semua orang, bahkan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Televisi mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki cakupan pemberitaan kepada khalayak dengan jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai program-program yang ditayangkan mampu membius pemirsanya untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Bahkan anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari televisi sehingga sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar anak untuk menyaksikan acara televisi.

Berbagai acara yang ditayangkan mulai dari entertainment, infotainment, iklan, hingga sinetron dan film-film. Televisi telah mampu membius para pemirsanya terutama anak-anak untuk terus menyaksikan acara demi acara yang disusun sedemikian rupa dan menarik. Sekarang ini, banyak anak-anak lebih gemar berlama-lama di depan televisi daripada belajar. Bahkan banyak anak yang hampir lupa akan waktu makannya karena keasikan menyaksikan acara televisi. Tidak bisa dipungkiri, bahwa hal ini merupakan suatu masalah yang terjadi di lingkungan kita sekarang, dan perlu diperhatikan khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.

Orang tua seharusnya menemani anaknya menyaksikan televisi, bukan malah orang tua ditemani anaknya menyaksikan televisi. Hal ini yang jarang disadari oleh para orang tua. Memang orang tua menyaksikan televisi bersama dengan anaknya. Akan tetapi orang tua menyaksikan tayangan televisi yang digemarinya, bukan yang digemari anaknya sehingga seorang anak menjadi teman menyaksikan bagi orang tuanya. Bahkan sangat miris ketika mengetahui masih banyak orang tua yang mementingkan egonya sendiri dengan rebutan tayangan televisi dengan anaknya, tanpa memikirkan dampak negatif yang akan terjadi kepada buah hatinya jika menyaksikan tayangan televisi yang salah. Hal ini menjadi pengaruh yang besar, namun sedikit dari para orang tua mengetahui hal ini.

Akhirnya, seorang anak dipaksa untuk menyaksikan acara televisi yang disaksikan orang tuanya. Padahal belum saatnya mereka untuk menyaksikan acara televisi tersebut. Mungkin pada awalnya tidak berdampak pada si anak, akan tetapi lambat laun hal ini bisa berdampak negatif kepada anak khususnya dampak psikologi disebabkan doktrin acara televisi yang tidak seharusnya ditonton itu.

Jika hal ini terjadi, pastilah seorang anak sangat dirugikan. Karena dalam dunia psikologi, usia kanak-kanak adalah masa ketika seorang anak akan dengan mudah menerima dan merespon suatu hal yang baru, entah itu hal baik maupun buruk. Sangat disayangkan dalam usia yang gemilang ini seorang anak bukan mendapatkan didikan dan pengaruh yang positif, justru malah sebaliknya mendapatkan didikan dan pengaruh yang negatif.

Sebenarnya televisi mempunyai fungsi dan manfaat yang baik apabila dalam penggunaannya pun baik. Namun kali ini penulis lebih menjabarkan kepada dampak negatif apabila seorang anak berlebihan dalam menyaksikan televisi, apalagi menyaksikan tayangan televisi yang belum saatnya untuk disaksikanya. Pengaruh negatif dari menyaksikan televisi sangat banyak jenisnya baik dilihat dari segi perilaku dan akhlak mauapun jika dilihat dari segi lain seperti dari segi kesehatan.

Dilihat dari segi perilaku dan akhlak anak, menyaksikan acara televisi yang berlebihan dapat menjadikan anak menjadi konsumtif, mengurangi semangat belajar, merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, hingga menonjolkan perilaku imitatif. Bahasa televisi menarik, simpel, mengikat dan membuat ketagihan. Sehingga sangat mungkin seorang anak menjadi malas belajar. Anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktunya dengan menyaksikan televisi akan sangat sulit diajak beralih untuk belajar. Mereka akan lebih senang menyaksikan acara favoritnya daripada harus membuka buku dan mengerjakan tugas.

Dilihat dari segi kesehatan fisik anak, menyaksikan acara televisi yang berlebihan dapat meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) bagi anak. Seorang anak biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena lebih sering menggunakan waktu senggang untuk menyaksikan televisi.

Sekitar 85% orang tua dari data wawancara menyatakan bahwa anak yang menyaksikan televisi, mereka lebih sering mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan dan produk yang diiklankan di televisi dan cenderung mempengaruhi orang tua untuk membeli makanan dan produk-produk tersebut.

Selain itu, dampak negatif lain yang kemungkinan besar muncul adalah terjangkit penyakit rabun. Jarak pandang mereka dengan televisi biasanya tidak sesuai dengan jarak pandang yang baik. Hal ini tentu saja terjadi berulang-ulang jika si anak telah menjadikan kegiatan menyaksikan televisi sebagai kebiasaan sehari-hari. 65% orang tua menyatakan bahwa anak mereka yang pada awalnya memiliki penglihatan yang sehat menjadi harus menggunakan kacamata setelah terbiasa menyaksikan televisi setiap hari.

Pengawasan tayangan televisi yang baik untuk anak akan menjauhkan anak dari dampak negatif dari tayangan televisi. Orang tua harus dapat memilah dan memilih acara yang tepat dengan usia anak. Jangan biarkan anak menyaksikan acara yang tidak sesuai dengan usianya. Walaupun ada beberapa acara di televisi yang memang untuk anak-anak, tetap perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak. Maksudnya, tidak ada unsur kekerasan atau hal lain yang tidak sesuai dengan usia mereka. Orang tua juga dapat mengajak sang anak membahas apa yang ada di televisi dengan maksud membuatnya mengerti bahwa apa yang ada di televisi tidak tentu sama dengan kehidupan yang sebenarnya. Orang tua juga harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya acara tersebut mereka tonton. Ajak mereka menilai karakter dalam acara tersebut secara bijaksana dan positif.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdul Rozak Ali M
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Pendidikan Agama Islam. Ketua Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah dan Staff Tabligh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Lihat Juga

anak-di-rusia-bicara-7-bahasa

(Video) Luar Biasa, Anak Kecil Ini Mampu Bicara Dengan 7 Bahasa

Organization