Home / Narasi Islam / Sejarah / Partai Bharatiya Janata dan Umat Islam India

Partai Bharatiya Janata dan Umat Islam India

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Narendra Modi (blogs.tribune.com.pk)
Narendra Modi (blogs.tribune.com.pk)

dakwatuna.com Kabar dari India tidak begitu menyenangkan bagi umat Islam. Kemenangan partai oposisi Bharatiya Janata (BJP) menjadikannya sebagai partai yang membentuk kabinet baru India, dan pemimpinnya, Narendra Modi (63 tahun), akan menjadi perdana menteri yang baru. BJP memperoleh 280 dari 543 kursi parlemen. Karena itulah, BJP bisa membentuk kabinetnya sendiri, tanpa berkoalisi dengan partai yang lain.

Kemenangan ini jelas mengusik kekhawatiran 180 juta umat Islam di India. Walaupun banyak, mereka adalah minoritas karena penduduk India berjumlah lebih dari satu milyar. Kekhawatiran ini wajar, karena BJP yang didirikan pada tahun 1980 adalah partai yang lahir dari sebuah gerakan Hindu fundamentalis. Gerakan ini menganggap penganut selain Hindu adalah adalah orang asing. Gerakan ini mengklaim India sebagai sebuah negara Hindu. Penganut selain Hindu hanya punya dua pilihan; masuk ke agama Hindu atau diperlakukan sebagai warga asing.

Selain itu, Modi berasal dari Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), sebuah organisasi Hindu fanatik dan paling  membenci umat Islam. Selama 13 tahun memimpin negara bagian Gujarat, memang banyak prestasi di bidang ekonomi, tapi umat Islam tidak bisa melupakan peristiwa rasial yang mengakibatkan meninggal dunianya ribuan umat Islam.

RSS didirikan pada tahun 1929 oleh seorang dokter bernama Keshav Baliram Hedgewar bersama beberapa orang dari kasta Brahmana di India bagian barat. RSS bertujuan menghidupkan lagi umat Hindu dengan cara merekrut anak-anak muda, dan menyiapkan mereka secara spiritual, fisik dan militer untuk melaksanakan tugas suci.

Dari RSS inilah lahir partai Bharatiya Jana Sangh (BJS) pada tahun 1951. Partai ini mempunyai slogan “India-Hindu-Hindustan”. Setelah terjadi konflik internal, maka para pemimpin partai ini merubah nama menjadi Bharatiya Janata (BJP) yang saat ini memenangkan pemilu di India secara telak. Partai ini tidak hanya fanatik dengan nasionalisme India, tapi juga dengan agama Hindu. Hal ini membuat mereka membenci umat Islam, Kristen, dan sekuler.

Sikap mereka yang keras terhadap umat Islam bukan hanya karena jumlah umat Islam yang besar, tapi juga karena umat Islam mempunyai eksistensi dan peninggalan kejayaanya. Dalam sejarah, Umat Islam pernah memerintah India selama 800 tahun. Oleh karena itu, mereka tidak hanya memusuhi umat Islam, tapi juga memusuhi peninggalan sejarah Islam yang masih tersisa di India. Misalnya mereka berusaha menghancurkan masjid Babri pada tahun 1992. Padahal masjid ini telah berusia lebih dari 400 tahun.

Adapun sikap keras yang mereka lakukan kepada umat Islam misalanya adalah pembantaan umat Islam di negara bagian Gujarat tahun 2002. Rumah-rumah umat Islam diserang, sehingga jatuhlah lebih dari 1000 korban meninggal dunia. Narendra Modi, yang saat ini memenangkan pemilu dinilai banyak kalangan terlibat dalam memprovokasi orang-orang Hindu melakukan pembantaian itu. (msa/dakwatuna)

Sumber bacaan: As-Sabil, Aljazeera

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,44 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Industri Keuangan Syariah (inet)

Model Dewan Pengawas Syariah di Negara Muslim