Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memulai dari Akhir

Memulai dari Akhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet/Dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (inet/Dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com – “Dan sesungguhnya Hari Kemudian (akhir) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (ad-Dhuha: 4)

Membaca ayat di atas, boleh jadi kita mempunyai pemikiran bahwa akhir dari suatu proses lebih baik dari awalnya. Kemudian bisa jadi kita juga mempunyai persepsi yang lain bahwa kita menafikan urgensi dari awal tetapi hanya fokus pada akhir. Dalam konteks di atas, tentu Hari Akhir adalah hari yang lebih baik jika kita berbuat baik pada masa sekarang. Karena apa yang kita lakukan pada saat ini akan berbalas pada Hari Akhir. Oleh karena itu, ayat di atas menghadirkan suatu pilihan dimana ada balasan terbaik bagi setiap orang yang mau memilih berbuat kebaikan selama hidupnya. Tetapi, akan menjadi cerita lain jika orang yang memilih untuk tidak berbuat kebaikan di masa sekarang. Karena pastinya akan berbalas kepedihan di Hari Akhir. Oleh karena itu, semua menjadi pilihan. Dan apa  yang anda pilih untuk akhir yang lebih baik?

Dalam konteks yang lain, tentu kita menyadari suatu awalan adalah langkah pertama untuk mencapai titik akhir. Tidak akan ada akhir kalau awal tidak pernah dimulai. Jika kita berhenti untuk memulai, maka kita tidak akan pernah tahu bagaimana akhirnya. Artinya, awal dan akhir mempunyai kedudukan masing-masing. Dimana keduanya akan selalu menjadi pasangan. Dan itu merupakan sunatullah bagi siapapun.

Awal itu Menyulitkan

Mengawali sesuatu hal terkadang bagi sebagian orang adalah bagian yang tersulit dari suatu proses. Atau memulai mengawali dari sesuatu yang sudah lama ditinggalkan, biasanya akan terasa sangat berat bagi seseorang. Bagi seorang pelajar yang tidak terbiasa belajar dengan tekun, ketika menghadapi ujian kelulusan dan dituntut untuk rajin belajar tentu terasa berat memulainya. Bagi seorang yang ingin menjadi pengusaha, langkah awal menjadi seorang yang pengusaha yang baik adalah langkah yang paling sulit untuk dilakukan. Sehingga sering kali kita mendengar, banyak orang yang mau menjadi pengusaha tetapi sulit untuk memulainya.

Langkah awal memang sangat membutuhkan energi yang cukup besar. Hal ini menjadi sangat logis. Karena ketika berada pada titik awal, biasanya pikiran kita sudah terjejali dengan berbagai pernak pernik negatif. Misalkan malu terhadap orang, takut dengan cibiran orang, takut gagal, takut tidak untung, dan lain-lain. Tak hanya itu, kebingungan juga bisa menjadi salah satu penyebab sulitnya melangkah pada titik awal. Kebingungan ini terjadi karena tidak berani atau tidak mampu melihat peluang dan hasil akhir yang akan diperoleh dari langkah awal yang ia mulai.

Memulai dari Titik Terakhir

Memulai dari titik akhir mempunyai arti bahwa kita memulai sesuatu dengan berpijak pada hasil yang akan diperoleh dari proses yang akan kita jalani. Kita memulai dengan menetapkan terlebih dahulu goal setting atau capaian yang akan kita kejar. Pemikiran ini mengajak kita untuk memulai sesuatu dengan visi, misi dan tujuan yang jelas dan terencana. Oleh karena itu, memulai dari titik akhir membuat kita membiasakan diri agar selalu merencanakan segala sesuatu dengan matang. Bahkan sampai kita menetapkan hasil yang harus diperoleh dari aktivitas itu.

Memulai dari titik akhir merupakan salah satu cara untuk membuat tujuan atau capaian hidup. Tentu saja, capaian hidup yang bernilai dengan kebaikan. Dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini beribadah kepada Allah. Beribadah bukan sekedar melakukan kewajiban yang mahdhah. Beribadah dapat bernilai apabila kita mampu melakukan setiap aktivitas dengan dilandasi niat karena Allah. Orang belajar untuk mendapatkan prestasi itu akan bernilai ibadah apabila dibarengi dengan niatan dan doa kepada Allah. Oleh karena itu, kita diberikan kesempatan oleh Allah seluas-luasnya untuk melakukan segala kebaikan dengan apapun yang kita punya yang tujuan akhirnya adalah ibadah kepada Allah.

Memulai dari titik akhir menjadikan kita sebagai orang yang terarah. Setelah menetapkan tujuan atau goal setting, tentu kita harus menyusun rencana dan strategi untuk meraih tujuan tersebut. Tak hanya berhenti sampai disitu. Rencana yang baik tentu tidak akan bermakna jika tidak ada usaha yang terbaik. Usaha yang terbaik pun tidak akan bermakna suatu keberkahan jika tidak diiringi dengan niatan dan doa kepada Allah.

Doa bisa jadi akan bernilai sebagai kemurahan dari Allah yang menjadi salah satu faktor yang tak terlihat. Keberuntungan, kesempatan atau momentum bisa jadi adalah suatu bentuk kemurahan Allah terhadap doa yang selalu kita panjatkan. Sehingga banyak orang yang mengatakan, bahwa terkadang usaha yang baik diperlukan suatu keberuntungan atau peluang (kesempatan) atau momentum yang tepat untuk bisa berhasil dan mencapai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, kita bisa berpikir keberuntungan, peluang, atau momentum bisa jadi adalah bentuk pertolongan dari Allah dari terkabulnya doa yang selalu kita panjatkan.

Akhir adalah Kepastian

Jika kita memulai sesuatu pasti akan ada akhirnya. Jika kita ingin mendapatkan kebaikan, tentu kita harus melakukan kebaikan. Jika kita memulainya dengan keburukan, maka sudah sepantasnya mendapatkan keburukan. Orang yang selalu berbuat kebaikan di dunia, sudah seharusnya mendapatkan kebaikan dari manusia lain. Dan di Hari Akhir sudah pasti akan mendapatkan kebaikan surga-Nya.

Akan tetapi, jika orang berbuat keburukan sepantasnya pula mendapatkan keburukan. Walaupun dalam kasus tertentu tidaklah harus demikian. Tetapi yang menjadi pasti adalah balasan dari sebuah keburukan, adalah kehinaan di Hari Akhir nanti.

Kita pernah lahir untuk memulai kehidupan di dunia. Berarti kita akan mengakhiri kehidupan dunia ini dengan kematian. Untuk itu, alangkah indahnya jika sudah mempersiapkan diri agar bisa berbahagia menikmati hari-hari terakhir kita di dunia. Sebelum kita memulai lagi kehidupan di akhirat nanti. Wallah’alam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tama Yudhistira
Seorang pengajar tinggal di Surakarta yang senantiasa belajar memaknai hidup dan menuliskannya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (fanpop.com)

Renungan di Akhir Ramadhan

Organization