Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Begitu Dekatnya Kematian

Begitu Dekatnya Kematian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un. Saya baru saja mendengar kabar duka. Sahabat kita, Mak Tsuraya Widuri telah berpulang ke Rahmatullah.

Atas nama Board, Makmin, dan keluarga besar KEB, kami mengucapkan dukacita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kelapangan. Aamiin.

Nanar kubaca pengumuman di sebuah grup Emak Blogger. Ya Allah, Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un. Meski hati diliputi tak percaya, tapi akhirnya aku harus menerimanya kemudian karena beberapa emak sudah takziah kepada beliau, meski tak kerap berhubungan dengan beliau. Dua tahun ini aku kenal dengan almarhumah dalam komunitas Emak Blogger. Kadang saling colek di twitter atau facebook mengabarkan lomba blog atau sekadar bertegur sapa di dunia maya. Beliau pun satu buku antologi denganku di buku Ketika Buah Hati Sakit.

Allahummagfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha. Ya, Allah terimalah iman Islamnya, amal-amal perbuatannya dan masukanlah dalam tempat yang mulia di sisi-Mu. Selamat jalan Mak Tsuraya, akan kukenang kebaikanmu sepanjang masa.

Umur manusia tidak bisa ditebak. Karena umur rahasia Allah Sang Maha Pencipta. Kita tinggal menunggu pada ketentuan takdir Allah SWT. Ada yang bilang, umur kita hakikinya ada pada “detik” ini, kemudian detik selanjutnya adalah milik Allah SWT.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat sedang masak, menulis, bermain dengan anak, saat sendiri atau beramai-ramai. Apakah kita masih bisa ditemukan dalam keadaan hidup atau sudah mati? Wallahu A’lam. Kematian adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Sejauh mana kita lari dari kematian, ia tetap datang untuk mengakhiri kehidupan kita.

Teringat seorang pelayanan pedagang dalam kisah Perjanjian di Samarra. Dikisahkan seorang pelayan yang meminjam kuda tuannya untuk lari dari malaikat maut. Dia lari dari Bahgdad ke Samarra, yang disangkanya akan aman dari malaikat maut. Ternyata, dia malah mendatangi kota yang merupakan tempat perjanjian kematiannya dengan malaikat maut. Subhanallah. Merinding membaca kisah itu. Sekali lagi, kita tidak bisa lari dari kematian.

Pernah melihat tayangan sebuah video tentang kematian seorang pemain sepak bola. Saat kepalanya patah dan membalik ke belakang badannya. Dia bangkit lagi dan memainkan bola sampai benar-benar malaikat maut mengambil ruhnya dengan sempurna. Dia pun tersungkur dan menemui kematiannya.

Ya Allah, begitulah akhir seorang yang hobi bermain bola. Sampai akhir hayatnya, dia terus melakukan apa yang dia sukai. Hal ini menjadi renungan buatku.

Lalu, sedang apa ketika Allah mengakhiri hidup kita? Tak terasa rembesan air mata menetes di ujung mata tua ini. Teringat dengan amal-amal yang masih jauh dari sempurna. Masih suka dengan gemerlapnya dunia, lupa menuntaskan tilawah hari ini, masih lupa berzikir, lalai dari mengingat kematian. Ya Allah, Astaghfirullahal ‘Adziim

Teringat pesan Rasullah Saw, dari Abi Barzah al-Islami ra, Rasulullah Saw bersabda, tidak beranjak kedua kaki seseorang dari tempatnya berdiri di Mahkamah Allah pada Hari Kiamat, sehingga ia ditanya tentang umurnya, pada perkara apa dihabiskannya? Pada ilmunya untuk apa dipergunakan? Pada hartanya, bagaimana memperolehnya dan diperuntukan untuk apa hartanya itu? Juga pada tubuhnya, dipergunakan untuk apa pada masa mudanya, pada masa sehatnya? (Hadits Riwayat at-Tirmidzi).

Ya Allah, bantulah aku. Semoga aku mampu memaksimalkan umur, kesehatan dan masa hidup untuk semata-mata mencari keridhaan-Mu, ya Allah. Memaksimalkan diri untuk melakukan amal-amal yang mendekatkan diri dan keluarga pada surga-Mu. Kabulkan permohonanku di penghujung malam ini, ya Mujibas Saailin.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Widiyastuti
Seorang ibu rumah tangga lulusan IKIP Semarang tahun 1998. Memiliki 5 orang anak. Asli Bogor, domisili di Johor Malaysia. Aktifitasnya yang lain menulis buku bacaan anak dan menjadi volunteer kegiatan sosial kemasyarakatan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (almkohtsar.com)

Surga untuk Ayah

Organization