Home / Berita / Nasional / Pedofilia Adalah Tragedi Nasional Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak Indonesia

Pedofilia Adalah Tragedi Nasional Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak Indonesia

Anggota Komisi X DPR RI, Surahman Hidayat. (inet)
Anggota Komisi X DPR RI, Surahman Hidayat. (inet)

dakwatuna.com – Jakarta.  Sejak media massa belakangan ini santer mengabarkan kisah-kisah tragis dan miris anak-anak Indonesia yang menjadi korban pedofilia di Jakarta International School (JIS) Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Bermunculan kasus serupa yang di alami oleh anak-anak, seperti kasus yang baru saja terungkap pada Selasa (6/5) kemarin, yang dialami sekitar 89 anak, dengan tersangka pelaku berinisial AS alias Emon, yang terjadi di daerah Sukabumi Kota.

Kasus ini tak ayal mengundang keprihatinan yang sangat mendalam dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia, salah satunya datang dari anggota Komisi X DPR RI, yang beliau sekaligus sebagai Ketua BKSAP DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, yaitu Surahman Hidayat.

Ketika di hubungi di sela-sela kegiatannya di gedung DPR RI, kemarin kamis (7/5), mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam akan maraknya kasus kekerasan seksual yang di alami oleh anak-anak di Indonesia. ” Saya sangat prihatin, pedofilia adalah tragedi Nasional kekerasan seksual pada anak-anak Indonesia.” Tegasnya.

Ada masalah besar menyangkut sosial, psikologis, moral yang terkandung di dalamnya. Masalah yang harus segera dicari solusi sebelum menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Menurutnya Permasalahan kejahatan terhadap anak seperti pembunuhan, pelecehan, perkosaan adalah sangat serius. Karena kecuali dampak fisik, dampak psikologis trauma terhadap si korban sangat hebat, diderita sepanjang hidupnya.

“Kejahatan terhadap anak ini tergolong kejahatan luar biasa, dan harus dikenai sangsi hukuman maksimal bagi para pelakunya, perlu dibuat hukuman alternatif misalnya dengan pengkebirian kepada si pelaku dan yang paling tinggi adalah hukuman mati.” Ungkap Surahman.

Surahman melanjutkan perlu kesadaran dan masyarakat wajib digugah akan bahayanya kejahatan anak tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan agama sejak dini, perlu di tanamkan soal wajibnya menutup aurat kepada anak-anak, masyarakat harus di pahamkan tentang dosa besar perilaku kaum Luth. Mengkampanyekan bahwa selain kasus-kasus seperti korupsi, terorisme, narkotika, perlu menjadi perhatian pula soal kejahatan terhadap anak.

“Informasi melalui jurnalisme media massa maupun blog layak untuk dijadikan perhatian serius, yang mampu mengkampanyekan, mengawal, menginformasikan segala hal berkaitan tentang kekerasan seksual yang dialami anak-anak.” Tutup Surahman

Sebagai informasi tambahan mengutip dari republika.co.id, catatan KPAI jumlah kejahatan seksual terhadap anak, pada 2012 ada 463 kasus. Tahun berikutnya, yakni pada 2013 mengalami kenaikan 30 persen. Angka tren kekerasan seksual terhadap anak yang mencemaskan. Data KPAI untuk kasus di Jakarta pada kurun Januri-April 2014 saja telah tercatat ada 12 sekolah menjadi lokasi kejahatan seksual yang berlangsung, Jumlah total yang diperkarakan ada 85 kasus! Angka sangat fantastis. Anak adalah aset bangsa yang nantinya akan menjadi pewaris dan penerus keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Jika generasi ini tak dapat diselamatkan, bagaimana dengan nasib bangsa ini kelak. (sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November