Home / Pemuda / Essay / Pernikahan  

Pernikahan  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (griyapernikahan.com)
Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com – Pernikahan akan selalu menjadi momok perbincangan diantara kawula muda. Ya, rentan usia 20 s/d berjumpa dengan belahan jiwanya (tentatif), ini pun berdasarkan hasil pengamatan saya pribadi. Jadi tidak heran, jika dari satu agenda ke agenda lainnya pasti ada saja adegan membahas ini. Entah itu lewat kode-kodean ataupun secara terang-terangan (untuk yang kode, sudahlah akhiri saja masa kode itu. Toh di zaman Rasulullah dulu ga ada sesi kode dalam proses pernikahan).

Banyak yang dibahas ketika kita berbicara tentang pernikahan. Entah itu siapa pendampingnya, bagaimana proses menjalaninya, model pernikahan apa yang ingin kita jalankan, kehidupan sesungguhnya setelah pernikahan, dan masih banyak lagi topik yang akan dibahas jika dikupastuntas.

Mungkin saja, sekolah pra-nikah tidak cukup jika hanya dijalankan 3 jilid. Karena pada hakikatnya, kesiapan pernikahan itu bukan seberapa sering kita mengikuti sekolah pernikahan ataupun membaca literatur tentangnya. Tapi sejauh mana kita sanggup dan mau untuk memulai keputusan besar yaitu menikah dan keinginan terus belajar serta belajar bersama pendamping hidup kita. Toh belajar itu proses sepanjang hayat, kan? Tapi tidak salah jika kita sudah menyiapkan dari sekarang tentang pernikahan (melalui sekolah pra-nikah ataupun literatur), itung-itung itu menjadi bekal kita nanti. Setidaknya, ketika kita dalam kondisi half full half empty jika menghadapi momen sakral tersebut. Sisanya? Ya, biarkan sepasang insan bersama waktu mengarungi kehidupan yang sesungguhnya itu dalam proses pembelajaran hingga akhir.

Teruntuk wanita yang katanya posisi di dunia ini sudah lebih banyak dari pria (1:9)*. Betapa banyak hal yang kami khawatirkan ketika berbicara tentang pernikahan. Boleh saya katakan wanita bagaikan ‘objek’ dalam hal ini? Ya, begitu menurut pandangan saya. Ketika seorang pria sudah berhasil merebut hati wanita dari orang tuanya, maka ia akan menjalani proses lebih lanjut dan lanjut lagi.

Banyak yang ditakutkan dari wanita ketika menikah. Takut tidak bisa membahagiakan suami versi suami, takut tidak bisa melayani dengan maksimal, takut tidak bisa menjadi ibu yang baik dan masih banyak lagi ketakutan lainnya. Padahal, di dalam al-Qur’an sudah dijelaskan, bahwasanya wanita/istri adalah ladang bercocok tanam untuk pria/suami. Seram membaca ayat tersebut. Betapa tidak, seorang wanita yang tadinya sangat merasa bebas ketika melakukan apapun dan berpergian ke manapun, kini harus rela kehidupannya didatangi oleh pria asing (yang boleh jadi, pria itu belum sama sekali ia kenali). Bukan hanya didatangi, tapi juga diatur-atur segala halnya. Ya, bisa saja kita sebut ‘dirampas’ hak-hak kebebasannya. Sungguh menyeramkan membayangkan ini semua. Tidak habis pikir. Tapi, itulah cara Islam dalam memuliakan makhluk unik yang bernama wanita. Ya, wanita yang sempat menduduki kasta terendah di zaman jahiliyah dahulu.

Belajar dan terus belajar adalah kunci dari segala kunci dalam menjalani ini semua. Perasaan kaget pasti akan hadir ketika kita baru memulainya. Tapi, ya itu tadi, setidaknya kita sudah mempunyai sedikit pengetahuan tentang hal terindah bernama pernikahan.

**

Timbul sebuah pertanyaan, bagaimana jika kita menjalani proses menuju pernikahan dengan pria yang bukan kita dambakan? (setiap wanita pasti memilikinya, yakinlah). Bagaimana jika yang hadir ke orang tua kita adalah dia yang datang dari negeri antah-berantah dan mendatangi rumah yang katanya terdapat seorang putri yang sedang menunggu seorang pangeran, bagaimana? Kegetiran hati pasti akan menghiasi hati si putri. Harus mengumpulkan kepingan hati yang sempat berserakan karena sedang mendambakan dia yang lain. Betapa sangat berbahaya jika kita sudah bermain dengan hati. Ia akan sulit kembali utuh dan seutuhnya untuk seseorang yang berniat baik untuk memuliakanmu. Betapa ilmu keikhlasanmu diuji di sesi kehidupan ini. Diuji sejauh mana kamu mampu menerima si dia tanpa tapi, tanpa memikirkan yang lain. Betapa kesiapanmu sangat diuji, bukan sertamerta hanya ada keinginan dari lisanmu. Ya. Tuhan akan mengujinya.

Tuhan, berbicara tentang perasaan yang sudah tersadur dengan banyak hal memang sangat pelik. Sepelik bagaimana kamu mampu mendirikan benang yang basah. Jika sudah banyak cerita tentang kepelikan perasaan dan hati, lantas mengapa anak manusia masih ada saja yang mau bermain dengannya? Aah, itulah manusia yang belum pandai membaca sejarah.

Tuhan, lapangkanlah hati kami selapang samudra tak bertepi. Ia selalu mengalir tenang dan tersenyum membiru bersama langit yang menyertainya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nadhia Dwi Lestari
Muslimah. Mawar haroki KAMMI Sumedang. Mahasiswi. Indonesian.

Lihat Juga

Berkah Dengan Satu Istri, Berkah Dengan Poligami