Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Catatan Kecil Seorang Mahasiswa  

Catatan Kecil Seorang Mahasiswa  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (capital.com.tr)
Ilustrasi. (capital.com.tr)

dakwatuna.com – Sudah menjadi sewajarnya ketika seorang pemuda memiliki jiwa dan semangat yang berapi-api dalam upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Ini sudah menjadi hasrat seorang pemuda yang selalu berusaha untuk merealisasikan semua keinginannya, bagaimanapun caranya. Pemuda itu selalu indentik dengan emosionalnya, semangatnya, serta kekuatannya. Namun, melihat kondisi pemuda saat ini, peran pemuda sudah jauh dari koridor yang seharusnya menjadi tugas seorang  pemuda.

Pada era modern ini, pemuda identik dengan mahasiswa. Namun mahasiswa era ini pun sudah melupakan  tugas, fungsi serta peran seorang mahasiswa. Begitu besar seharusnya harapan bangsa ini terhadap mahasiswa yang  kelak akan menjadi pemimpin negara. Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang memiliki visi, misi dan tujuan yang ideal dalam membangun bangsa. Segala tingkah laku dan perbuatannya pun didasarkan pada kaidah ilmiah dan menggunakan akal pikiran yang jernih dan komprehensif.

Meskipun pada kenyataanya, tidak semua mahasiswa seideal itu. Namun itu semua menjadi tolok ukur dan pandangan ke depan agar seluruh mahasiswa di Indonesia menjadi calon pemimpin yang ideal yang akan memimpin bangsa ini.

Paradigma mahasiswa  saat ini pun telah jauh berubah. Yang  tampak dominan ialah mahasiswa yang menuntut lulus cepat, IPK besar,dan cepat bekerja. Namun, satu tugas penting mahasiswa yang terlupakan yaitu menjadi pengabdi masyarakat. Padahal ini jelas tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Alih-alih untuk lulus cepat dan IPK besar, mahasiswa pun berusaha  dengan segala cara. Inilah yang membentuk bibit-bibit koruptor. Ini sebenarnya merupakan efek dari keterpurukan sistem pendidikan dan ekonomi bangsa ini.

Permasalahan lain yang menjadi sorotan ialah dis-integritas. Seharusnya, mahasiswa kembali menumbuhkan hati nurani mereka. Ketika hati nurani sudah tumbuh maka kejujuran yang akan berbicara dan mempengaruhi seluruh pola pikir. Nilai-nilai mulia akan muncul. Tak akan ada lagi ego yang hanya mementingkan nafsu semata. Sehingga  keputusan-keputusan  yang diambil merupakan keputusan mulia yang berasal dari hati.

Semua jawaban dari seluruh permasalahan ini kembali ke diri mahasiswa. Mereka harus mampu memanfaatkan seluruh potensi yang ada. Menjadikan kampus sebagai laboratorium kepemimpinan, melakukan eksperimen-eksperimen dalam upaya membentuk karakter dan mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang.  Karena kejahatan merajalela bukan karena memiliki kekuatan, namun karena diamnya orang-orang baik. Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Arief Roezmin
Mahasiswa fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, dan aktif sebagai wakil gubernur BEM Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

Lihat Juga

STEI SEBI Menyelenggarakan acara Stadium General