Home / Berita / Analisa / Krisis di Suriah, Kapankah Berakhir?

Krisis di Suriah, Kapankah Berakhir?

Sebuah boneka di antara reruntuhan bangunan di Suriah (syrianchange)
Sebuah boneka di antara reruntuhan bangunan di Suriah (syrianchange)

dakwatuna.com – Damaskus. Konflik dan perang di Suriah diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Baik untuk kemenangan rezim Asad ataupun kemenangan pejuang revolusi. Demikian ditulis Basyir Musa Nafi’ dalam artikelnya di Noon Post, Kamis (24/4/2014).

Menginjak tahun keempat konflik di Suriah, beberapa pejabat pro rezim Asad, mulai dari pimpinan militer Iran, Hasan Nasrullah di Libanon, hingga Basyar Asad di Suriah, menyatakan bahwa kondisi perang saat ini lebih condong dimenangkan oleh pihak rezim Asad. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, pernyataan kubu rezim Asad ini mendapatkan perhatian cukup serius dari kalangan pemimpin negara-negara Arab.

Hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa konflik berdarah yang telah menelan ratusan ribu korban meninggal ini tidak lain disebabkan oleh sikap rezim Asad sendiri. Tiga tahun lalu, rakyat turun ke jalan-jalan menuntut perubahan dan reformasi politik. Saat itu, bukannya menuruti keinginan rakyat dengan memberikan ruang kebebasan dan demokrasi, pemerintah berkuasa malah memperlakukan demonstran dengan kekerasan. Hingga beberapa bulan kemudian, konflik damai itu pun berubah menjadi konflik bersenjata, walaupun banyak tokoh reformis selalu mengingatkan untuk mempertahankan sifat damai dalam perjuangan mereka.

Tak lama kemudian kondisi pun berkembang, front konflik bersenjata tidak hanya melibatkan warga Suriah, tapi kalangan luar negeri pun melibatkan diri. Kalangan muda dari berbagai negara Arab berdatangan ke Suriah. Mereka melihat bahwa yang terjadi di Suriah adalah pertempuran etnis. Mereka merasa berkewajiban untuk membela warga seakidah mereka melakukan perlawanan terhadap minoritas Syiah Alawiyah yang berkuasa di Suriah dan membantai Sunnah. Semakin berkepanjangan, para mujahid profesional yang selama dua dekade berperang dengan berpindah-pindah antara Kaukasus, Afghanistan, Tanduk Afrika, Yaman dan Irak, kini mereka juga bergabung di Suriah.

Di waktu yang sama, rezim Asad semakin memantapkan bahwa yang mereka jalankan adalah peperangan etnis, dengan mengganti semua pimpinan militer kepada para perwira dari kalangan Syiah Alawiyah. Militer pemerintah juga tidak sendirian menghadapi pejuang revolusi, mereka dibantu milisi-milisi Syiah Alawiyah, Hizbullah dari Libanon, dan kalangan sukarelawan Syiah dari berbagai negara Arab.

Semua ini tidak akan terjadi tanpa pengaruh dari politik beberapa negara. Misalnya Iran yang melihat sisi penting dan strategis keberadaan Syiah Alawiyah dalam kekuasaan. Selain itu, Rusia menganggap bahwa Suriah bisa menjadi bukti eksistensi pengaruh Rusia dalam politik dunia. Sementara itu, opini publik Arab dan Islam mendorong negara-negara seperti Turki, Saudi Arabia dan Qatar untuk menyatakan bahwa sikap mereka adalah mendukung rakyat Suriah untuk menjatuhkan rezim Asad yang telah membantai rakyatnya sendiri.

Konflik Suriah kini telah berubah layaknya perang saudara. Sunnah lebih dominan dalam kelompok rakyat yang berjuang dan dibantai; sementara Syiah dominan dalam rezim yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara. Konflik yang diwarnai dengan pembantaian rakyat tanpa ampun, kini tidak hanya menjadi konflik nasional. Tapi konflik yang mempunya banyak dimensi; Suriah-Suriah; Sunnah-Syiah; dan Arab, Persia, Turki-Israel, Rusia, Barat. Kini sebagian besar kota Suriah sudah menjadi kota hantu, hancur tak berbentuk, ratusan ribu meninggal, dan jutaan rakyat mengungsi.

Perkembangan saat ini, walaupun militer rezim Asad mendapatkan kemenangan di beberapa wilayah, khususnya di Qalamun, namun rezim Asad mempunyai problem kurangnya personil pasukan. Seakan pos-pos Syiah sudah mulai habis dimobilisir. Oleh karena itu, kita lihat mereka lebih banyak melakukan serangan udara dengan menjatuhkan barel mautnya.

Adapun perkembangan politik dunia yang mungkin berpengaruh pada konflik di Suriah, misalnya adalah Rusia yang telah kehilangan Ukraina pasca jatuhnya Viktor Yanukovych pro-Rusia, tentu tidak akan mau kehilangan koalisinya yang lain. Turki yang terang-terangan mendukung pejuang revolusi tidak berubah peta politiknya pasca pemilu lokal yang mempertahankan AK-Parti tetap berkuasa. Kondisi Saudi, Qatar, dan negara lain tak beda dengan Turki. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa konflik berdarah ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Kapankah itu? (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Imam Mahdi dari Perspektif Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Bagian ke-3)